
"Kamu mau mengajakku makan malam dimana?" ucap I'am melemparkan senyuman.
"Siapa yang mau mengajakmu makan. Aku keluar ingin jalan-jalan sebentar. Karena saat ini pikiranku sangat kacau. Jika kamu mau ikut, ikut saja. Tapi jangan coba-coba membuatku marah."
"Aku tidak pernah membuatmu marah. Kamunya saja yang selalu marah padaku tanpa alasan."
"Enak saja kamu bilang aku marah tanpa alasan. Kalau kamu tidak membuatku kesal. Aku tidak akan marah."
"Kapan memangnya aku pernah membuatmu kesal." ucap I'am dengan wajah polos.
"He-he-he." May tertawa bodoh. "Kamu itu tidak pernah nyadar ya! tingkahmu itu sangat merepotkanku, dan itu membuatku sangat kesal!" sambung May ketus.
"Ya maaf, aku tidak ada maksud untuk merepotkanmu. Aku hanya ingin menumpang sebentar saja tinggal denganmu. Jika aku sudah pulang, aku janji, aku tidak akan merepotkan mu lagi."
Tidak usah membodohiku untuk mencari alasan. Tentu saja tidak merepotkan aku lagi, kalau kamu sudah pergi. ucapanmu itu sangat bodoh."
mereka masih terus berjalan melangkah pelan menikmati suasana malam di sekitaran kota sambil mengobrol.
"Oya, kenapa kamu bisa ada di sini, bagaimana ceritanya?" tanya May.
"Aku menghajar seseorang di kampus sampai babak belur. Lalu Rektor men-DO ku, dan Papaku sangat marah ketika mendengar hal itu.
Dia seperti ingin menghabisiku. Karena itu aku kabur menghindarinya. Waktu aku berlari, ada mobil pickup baru melaju di depanku. Lalu aku naik dan tertidur di mobil itu.
Saat aku terbangun, aku sudah berada di kota ini, dan hari sudah larut malam. Aku berjalan menelusuri kota ini sampai pagi mau menjelang. Lalu aku merasa lelah, dan beristirahat di depan rumahmu."
"Jadi seperti itu ceritanya. Pantas, baru saja bertemu, kamu sudah membuatku sangat kesal. Ternyata kamu ini anak yang sangat nakal, ya." ucap May melirik kearah I'am.
"Enak saja kau mengataiku nakal. Aku memang suka berkelahi. Tapi aku tidak pernah membuat onar!" ucap I'am keras.
"Kenapa nada suaramu kasar. Jika kau tidak nakal, tidak mungkin kau di DO dari kampus.!" balas May bentak.
"Aku berkelahi karena mereka menantangku. Jika tidak, aku tidak akan memukulnya.!"
Tak tahan mendengar nada suara I'am Mengglegar tambah keras. "Plak!" May melayangkan telapak tangannya kearah dahi I'am keras.
"Lebih baik kau diam saja. Kau benar-benar memancing emosiku!" bentak May kesal.
__ADS_1
"Tadi kan, kamu yang menyuruhku untuk bercerita. Kenapa sekarang kamu menyuruhku diam." ucap I'am sambil mengelus dahinya kesakitan.
"Aku hanya menyuruhmu bercerita. Bukan berbicara kasar padaku." ucap May wajahnya terlihat sengit.
"Aku sudah bercerita, lalu kenapa kamu mengatakan aku ini anak nakal. Aku tidak suka mendengarnya." ucap I'am sendu.
"Aku tidak mengatakan kamu anak nakal. Aku kan, hanya menebak saja dari ceritamu."
"Kamu itu benar-benar keras kepala. Jangan-jangan kamu itu lahirnya dari batu, ya?"
"Kau ingin aku pukul lagi." ucap May sambil mengangkat satu tangannya mengancam I'am.
"Aku kan hanya bertanya. Kenapa kamu marah. Kamu jangan terlalu sering memukul dahiku. Nanti otakku bisa berantakan di dalam kepalaku." ucap I'am polos.
"Lebih baik berantakan. Buat apa tersusun rapi, kalau kamu tidak pernah menggunakannya."
"Enak saja kamu kalau bicara." ucap I'am sorot pandangannya melihat rumah makan sedikit jauh dari hadapannya.
"Kamu itu lebih sembarangan kalau bicara." balas May
I'am terlebih dahulu melihat rumah makan di hadapannya. Jadi dia tak mencerna lagi apa yang di katakan May padanya.
Sikap I'am yang bertingkah sesuka hatinya, terkadang menjadi tingkah lucu di mata May. Meskipun baru saja bertengkar, dia bisa langsung melupakannya, seakan tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya.
"Hei ... Kau ini. Dasar." sesaat May tertawa getir sambil menggelengkan kepalanya, tanpa sadar dia merasa terhibur dengan tingkah I'am. Melihat langkah I'am berjalan cepat di depannya. Berlalu May menyusulnya dan membuang bokongnya di kursi samping I'am yang terlebih dahulu sudah duduk di rumah makan itu.
"Mas." panggil I'am pada salah satu Pelayan sambil melambaikan tangannya.
"Mau pesan apa mas?" tanya Pelayan itu sambil memberi katalog menu.
"Kamu mau pesan apa?" tanya I'am pada May.
"apa Kamu ingin mentraktirku?"
"Kamu yang membayarnya. Aku kan, tidak punya uang."
"Kalau tidak punya uang, kenapa kamu masuk ke sini."
__ADS_1
"Karena ada kamu yang akan membayarnya."
Enak sekali kalau bicara. Jika aku tidak mau bagaimana?" ucap May mencoba menggoda I'am.
"Ya, Kamu harus mau."
"Kenapa kamu memaksa."
"Hah." I'am menghela nafasnya dan membuang pandangannya ke sisi kosong sambil menyandarkan punggungnya di kursi pasrah. "Dia ini benar-benar sangat menyebalkan. Sepertinya aku harus lebih sabar menghadapinya." lirih I'am menggrutu.
"Kenapa kamu diam. Apa kamu kesal? memangnya kamu bisa kesal juga ya." ucap May sedikit memiringkan kepalanya menatap ke wajah I'am sambil tertawa kecil puas menggoda I'am.
Tak sabar berdiri menunggu lama, Pelayan itu ikut bicara.
"Bagaimana? jadi memesan atau tidak? kalau Hanya ingin Duduk, bukan di sini tempatnya." senggol Pelayan itu, sudah tak sabar dari tadi melihat pertunjukan konyol Mai dan I'am.
"Kau itu pelayan di sini. Tidak sepantasnya kau bicara seperti itu pada pelanggan." ucap I'am ketus menatap Pelayan itu sengit.
"Hei." ucap May sambil menginjak ujung telapak kaki I'am. "Kau ini. Jangan membuatku malu di sini." sambungnya.
May melemparkan senyuman lebar pada Pelayan itu. "Maaf ya Mas. Dia memang seperti itu orangnya." ucapnya merasa malu.
"Tidak apa-apa. Apa dia suami kamu, Mbak?" tanya pelayan basa-basi.
"Hoh ... Bu, bukan." spontan May menjelaskan pada Pelayan itu sambil melambaikan kedua telapak tangannya, raut wajahnya tegang. "Dia hanya anak hilang yang tersesat di kota ini. Aku hanya kasihan saja padanya."
I'am kaget, lalu ia menyunggingkan sebelah bibirnya mendengar perkataan May menyindirnya.
"Dia tidak suka di katai, Tapi dia suka sekali mengatai orang." ucap I'am menggrutu mencoba mengalah.
"Oh ... yasudah, kalau begitu mau pesan apa?" sambung Pelayan itu.
"Sebentar ya." ucap May dan melihat sederet nama makanan yang tertera di katalog menu.
"Kamu mau makan apa?" tanya May berbalik pada I'am.
"Apa saja. Asalkan bukan batu." ucap I'am malas.
__ADS_1
Sesaat keduanya melirikkan bola matanya sengit saling memandang. Sesekali May menjulurkan sedikit lidahnya pada samping bibirnya mengejek I'am. Sementara I'am membalas dengan menggerakkan sedikit bibirnya seakan melontarkan perkataan.