
Bab.2
"Woi ... Berhenti ...!" teriak Pelayan itu masih mengejarnya.
Perlahan Pelayan itu memperlambat langkahnya. Ia kehilangan jejak I'am. "Huhh." ia menghela nafasnya berat. Sejenak dia berhenti di lorong antara pertokoan, menolehkan pandangannya kearah kanan dan kiri dan membongkar-bongkar beberapa kotak besar yang ada di lorong itu. "Kemana perginya? cepat sekali dia menghilang. Yasudah lah, lebih baik aku kembali."
Saat Pelayan itu keluar dari lorong.
"Bugh!"
Sebuah tinjuan menghantam wajahnya. I'am melayangkan pukulan dua kali pada wajah Pelayan itu dan mencekram kera kemejanya . "Jika kau masih mengikuti, akan aku habisin kau!"
ucap I'am mengancam Pelayan itu.
I'am mendorongnya sampai terjatuh dan berlalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Tengah berjalan ia masih bingung memikirkan dompetnya yang hilang. "Apa mungkin dompetku jatuh di mobil pickup itu? Lebih baik aku kembali ke tempat itu." I'am mempercepat langkahnya. Tidak terlalu lama ia sampai dan segera mencari dompetnya di seluruh lantai bagian belakang mobil pickup itu. Namun ia tak menemukannya. "Kenapa tidak ada juga disini." ucapnya bingung sambil menggarukkan kepala. "Lebih baik aku tanya pemilik mobil ini. Siapa tahu sudah dia temukan." sambungnya.
I'am berlalu menghampiri rumah pemilik mobil itu yang berjarak beberapa meter saja. Beberapa kali ia mengetuk pintu rumahnya.
"Siapa?" tanya pemilik mobil sambil membuka pintu rumahnya.
"Oh ... Kamu, ada apa? kenapa kembali lagi?" sambung pemilik mobil.
"Aku ingin bertanya, apa Bapak ada menemukan dompet di bagian belakang mobil itu? dompetku terjatuh."
"Aku tidak melihatnya. Jika memang terjatuh disitu, lebih baik kamu cari saja sendiri."
"Aku sudah mencarinya, tapi tidak ketemu."
"Kalau begitu dompetmu tidak terjatuh disitu. Coba kamu cari di tempat lain."
"Yasudah kalau begitu, aku akan pergi. Maaf, sudah mengganggu waktu mu" ucap I'am dan melangkah pergi.
"jika tidak disini, lalu di mana ya, dompetku terjatuh?" I'am bingung, sambil berjalan, ia terus memikirkannya.
"Apa mungkin, saat aku berlari keluar dari kampus tadi pagi. Jika memang benar, yasudah lah." ucapnya pasrah. "Huhh ..." I'am menghela nafasnya, dan ia terus melangkahkan kakinya tanpa arah.
***
__ADS_1
May, Seorang wanita pintar. Memiliki wajah yang cantik dan imut. Setiap harinya dia berdagang menjual bunga di pertokoan tengah kota. Selain itu dia juga seorang mahasiswi belajar di jurusan arsitektur.
Pagi ini, May sedang merapikan penampilannya dan membereskan kamarnya sebelum ia pergi ke kampus. Setelah semuanya sudah di rapikan, ia mengambil tas yang biasa di bawanya dan berlalu meninggalkan kamar menuju keluar rumah.
"Hah ...!" May kaget saat membuka pintu rumahnya. Satu tangannya memegang dada, dan matanya membulat sempurna melihat ada seorang pemuda sedang tidur di depan pintu rumahnya. "Siapa dia?" May menyentuh bagian tangannya dan menggoyang-goyangkannya lembut. "Hey ... bangun ..." ucapnya bingung.
"Hem ..." I'am merenggangkan badannya sejenak tanpa membuka mata dan kembali melanjutkan tidurnya.
May mulai kesal, ia menyunggingkan sebelah bibirnya sesaat. "Hey ... Bangun ...! bentaknya sambil menepuk-nepuk dada I'am.
I'am terbangun dari tidurnya. Lalu ia duduk sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Ada apa? kenapa kamu mengganggu tidurku." ucap I'am, sesekali matanya terpejam.
"Kamu siapa? Kenapa tidur di sini?"
"Aku hanya numpang sebentar. Nanti juga aku akan pergi. Sudahlah, biarkan aku tidur lagi." ucap I'am dan merebahkan badannya kembali di lantai.
"Tidak boleh! kamu harus pergi. Ayo bangun ..." May menarik tangannya sampai berdiri dan mendorongnya keluar.
"Berani sekali kamu mendorongku.!"
"Memangnya kenapa! ini rumahku. Aku berhak mengusirmu."
"Kamu bilang apa? ucap May menantang.
"Aku tidak akan pergi!"
"Oke, kalau kamu tidak mau pergi, aku akan berteriak. Agar semua orang datang, dan menyeretmu dari sini." ucap May mengancam matanya membulat sempurna.
"Silahkan saja teriak. Aku tidak takut. Kalau kamu suka melihat kekerasan, Aku akan melayani mereka. Kamu akan melihat pertunjukan disini." I'am mengancam balik May.
"Dasar keras kepala, kenapa ada manusia seperti dia di dunia ini." ucap May menggerutu.
"Ayo teriak, kenapa diam?" I'am menyunggingkan sebelah bibirnya, sambil tersenyum getir.
"Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan orang sepertimu. Buang-buang waktu saja." ucap May berlalu pergi sambil melirikan bola matanya tajam kearah I'am.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu!" ucap I'am ketus.
May menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri I'am. Ia menepuk dahi I'am.
__ADS_1
"Auh ... Apa-apaan kamu." ucap I'am sambil mengelus dahinya.
May menunjukkan satu jarinya ke wajah I'am. " Awas saja ya, jika ada barangku yang hilang, jangan harap kamu akan selamat." Lalu May melanjutkan langkahnya berlalu pergi.
I'am tertawa getir mendengar perkataan May. "Jika aku mau, kota ini bisa aku beli. Asal kamu tahu saja, aku ini anak orang kaya. Aku tidak butuh barang-barangmu!" teriak I'am pada May ketus. Sambil berjalan kembali ke lantai teras dan merebahkan tubuhnya, melanjutkan tidurnya.
***
"Hah" May menghela nafasnya, Duduk di kursi perkarangan kampus.
"Merepotkan saja, pagi-pagi sudah membuat orang kesal. Awas saja, jika aku kembali dia masih ada." Sesekali May masih menghela nafasnya dan menepuk kursi yang dia duduki, untuk melampiaskan rasa kesalnya. "Dari mana sih datangnya Manusia itu. Kenapa harus di rumahku."
***
David, salah satu teman dekat May di kampusnya. Ia melihat May dari kejauhan sedang duduk sendiri. Dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri May.
"Hey, sedang apa kamu disini? Kenapa kamu tidak masuk kelas?" ucap David membuang bokongnya di samping May.
"Aku hanya duduk sebentar, membuang lelah saja." ucap May sambil meremas dengkulnya. Lalu ia menatap wajah David.
"David, wajah kamu kenapa? sambung May kaget.
"Aku tidak apa-apa. Kemarin aku terjatuh dari motor. Hanya memar biasa saja kok."
"Serius kamu jatuh dari motor. Kalau aku lihat, sepertinya memar itu bukan karena terjatuh dari motor."
"Sudahlah, ini hanya memar biasa. Ayo kita masuk kelas. Nanti kita tertinggal pelajaran. ucap David meraih pergelangan tangan May dan menariknya.
"Tunggu dulu." May menahan Tarikan dari tangan David. "Kamu jangan membohongi aku. Wajahmu itu, tidak terlalu pintar berbohong. Kamu tidak akan bisa menutupinya. Lebih baik kamu katakan yang sebenarnya. Atau aku akan marah dan aku tidak mau lagi bicara denganmu." ucap May tegas dan menatap David dengan tajam.
"Hah." David menghela nafasnya. "Kalau tuan putri sudah mengancam seperti itu, aku akan mengaku kalah."
David membuang bokongnya pada kursi yang mereka duduki tadi. "baiklah, aku akan menceritakannya padamu. Duduk lah." sambungnya sambil menepuk-nepuk sisi kosong kursi yang ia duduki.
"Semalam ada seorang pemuda datang memesan banyak makanan di restoran. Setelah dia menghabiskan semua makanan, dia berlalu pergi begitu saja tanpa membayar. Aku mencoba mengejarnya. Aku melihat dia berlari ke arah lorong pertokoan.Tapi dia berlari begitu cepat. Aku kehilangan jejaknya. Saat aku ingin kembali dan keluar dari lorong itu. Aku kaget tiba-tiba dia berada di depanku dan langsung memukul. Dia mendorongku sampai terjatuh. Lalu dia pergi begitu saja. Tapi sudahlah, anggap saja itu musibah, dan semoga saja tidak terulang lagi."
"Berani sekali orang itu. Tidak punya uang tapi makan di restoran. Dasar! tidak tahu malu." ucap May kesal, menggempalkan tangannya erat.
"sudahlah, Ayo kita masuk kelas."
__ADS_1