
Melihat ekspresi wajah May yang sangat paranoid, Sesaat I'am tersenyum, dan memutarkan kembali memori otaknya kebelakang berusaha mengingat obrolan mereka semalam.
"Kamu tidak akan bisa membalasku. Karena kamu itu pria yang sangat naif."
"Kita lihat saja, tapi kamu jangan marah padaku ya, jika aku berhasil membalasmu nanti."
"Iya, aku tidak akan marah."
"Aku akan membuatmu menyesal karena sudah menggodaku."
"Coba saja kalau bisa."
Setelah mengingatnya, I'am mendapatkan sebuah ide untuk membalas menggodanya.
"Baiklah, aku akan memberitahu yang sebenarnya. Tapi apa kamu yakin ingin mendengarnya. Nanti kamu akan menyesal. He-he-he." ucap I'am berusaha menggodanya.
"Hah ..." Mata May membulat tajam, mendengar ucapan I'am yang menakutinya. Perasaannya semakin tambah takut. Seakan apa yang dia bayangkan dalam pikirannya itu benar terjadi.
"Ahh ..." teriak May, wajah May terlihat seperti menangis sambil memegang erat kepalanya dan sesekali menghentakkan satu kakinya. "kau sudah menghancurkan masa depanku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu." ucap May berlalu meronta-ronta memukul badan I'am.
"Hentikan May." ucap I'am memegang kedua tangan May berusaha menahan serangan darinya. "Aku tidak menghancurkan masa depanmu. Aku hanya memandanginya saja. Tapi sesekali aku menyentuhnya sedikit. He-he-he." sambungnya masih menggoda May.
"Apa kau bilang. Aku tidak akan pernah rela kau menyentuhku. Ahh ..." teriak May kembali meronta-ronta menyerang I'am masih duduk di kursi.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kamu tidak perlu menyesalinya."
"Enak saja kau bicara. Pergi kau sekarang dari tokoku." ucap May berusaha menyeret I'am dari duduknya keluar dari tokonya.
"Hey, tunggu dulu." ucap I'am berdiri di hadapan May sambil menghentakkan tangannya. "Kamu tidak bisa mengusirku begitu saja. Aku hanya bercanda. Aku tidak ada melakukan apa-apa, percayalah." sambungnya berusaha meyakinkan May.
__ADS_1
"Aku tidak akan percaya dengan kata-katamu. Tidak aku sangka, ternyata kepolosanmu selama ini hanya topeng saja. Dasar, pria tidak tahu diri! Sekarang cepat pergi dari tokoku, dan jangan pernah kembali lagi!" bentak May terus mendorong badan I'am yang tinggi berkulit putih itu keluar dari tokonya.
Dorongan May yang semakin kuat membuat kaki I'am terus melangkah mendekati pintu kaca toko. Tak sanggup lagi melihat amarah May semakin meledak, I'am tak mau lagi melanjutkan candaannya.
Ia berusaha mencengkram tangan May dan membalikan tubuh May membelakanginya. Dengan cepat dia memeluk erat tubuh kecil ibu mudanya dari belakang sekedar untuk meredam sikapnya yang meronta-ronta.
"Lepaskan aku! berani sekali kau memelukku. Cepat lepaskan tangan kotormu dari tubuhku!"
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu bisa tenang May. Sekarang diamlah, dan dengarkan aku. Aku hanya menggodamu saja, percayalah. Meskipun aku sangat buruk di matamu. Tapi aku masih tahu cara menghargai seorang wanita. Aku sama sekali tidak melakukan apapun padamu.
Perkataan aku tadi hanya bercanda. Aku sengaja menggoda, karena ingin membalasmu. Bukannya semalam kamu sudah berjanji, tidak akan marah jika aku berhasil membalasmu." ucap I'am pelan berusaha meyakinkan May.
"Apa kau serius dengan ucapanmu itu. Lalu kenapa kau tidak mengenakan baju." ucap May ketus, berada dalam hangatnya dekapan tubuh kekar I'am.
"Aku bicara yang sebenarnya. Semalam aku melihat tubuhmu bergetar kedinginan. Lalu aku mencari selimut, tapi aku tidak menemukannya. Aku merasa bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghangatkan tubuhmu. Lalu aku mendapatkan ide, mungkin sehelai baju bisa mengurangi rasa dinginmu. Karena itu aku melepaskan bajuku untuk menyelimuti tubuhmu.
Aku bicara yang sejujurnya, percayalah padaku. Aku hanya menatap wajahmu semalaman, sekedar untuk menjaga tidurmu saja." lirih I'am lembut, kedua tangannya masih mendekap erat tubuh kecil May.
'Ternyata dia sangat perhatian padaku. Aku tidak menyangka dia bisa melakukan hal seperti itu.' lirih May dalam hatinya, terhanyut dalam buaian asmara, sehingga membuat dia tak sadar, kalau tubuhnya masih dalam pelukan hangat dekapan I'am.
Sementara Dania yang berdiri di antara mereka, hanya bisa terdiam bodoh sedikit tidak mengerti, menyaksikan kegilaan May dan I'am yang bertengkar di hadapannya.
'Meskipun mereka bertengkar begitu serius. Namun kenapa mereka terlihat sangat romantis, ya. Aku jadi iri melihat mereka berdua.' lirih Dania dalam hatinya.
Sejenak I'am menumpuhkan kepalanya di bahu May dan melemparkan pandangannya kearah wajah May, masih mendekapnya erat dari belakang.
"Kenapa sekarang kamu tersenyum. Apa kamu sangat senang aku memelukmu?" tanya I'am lembut sambil memperhatikan bibir May yang tersenyum manis.
"Ah." suara lembut I'am menyadarkan May. "Cepat lepaskan tanganmu dariku." sambungnya tegas menutupi rasa gengsi dan malunya.
__ADS_1
"Aku akan melepaskannya asalkan kamu tidak marah lagi padaku."
"Iya, baiklah. Aku tidak akan marah lagi."
Lalu I'am meleraikan dekapan tangannya perlahan dari tubuh kecil ibu mudanya itu.
Sesaat May menundukan pandangannya sambil memainkan jemarinya. Perlahan rona kemerahan muncul pada kedua pipi halusnya tersipu malu berdiri di hadapan I'am.
"Maafkan aku, ya. Aku sudah salah faham padamu." ucap May masih menundukan pandangannya, seakan tak mampu menegakkan kepalanya menatap binar bening milik I'am, yang sedari tadi terus memandang wajahnya.
"Yasudah, lupakan saja. lagi pula aku senang jika kamu marah. Dengan begitu aku kan bisa memelukmu. Ha-ha-ha." ucap I'am sambil tertawa lebar merasa puas menggoda May.
Tak sengaja ucapan I'am membuat May kembali merasa sedikit kesal. Sesaat dia menyunggingkan sebelah bibirnya melirikkan bola matanya sengit menatap I'am sedang menertawainya.
"Dasar. Awas saja jika kau berani memelukku lagi. Aku tidak akan pernah mengampunimu!" ucap May ketus sambil menggretakkan giginya.
"Ha-ha-ha. Sudah jangan marah. Aku hanya bercanda." ucap I'am sejenak mengelus lembut ujung kepala May, dan segera berjalan menuju kamar mandi.
"Si tampan itu benar-benar hebat. Baru saja dia membuat May sangat marah, tapi dia bisa menenangkannya dengan cepat." lirih Dania mengagumkan I'am. Sedari tadi dia hanya berdiri terdiam.
Cepat ia menghampiri May sedang berdiri di dekat pintu toko setelah di tinggal pergi I'am.
"May, Apa kamu baik-baik saja? soalnya tadi aku melihat si tampan itu memelukmu saat erat." tanya Dania sedikit Kawatir.
"Aku baik-baik saja kok. Dia tidak menyakiti ku. Justru aku merasa, dia itu seperti melindungiku." ucap May sambil tersenyum tipis.
"Cie ... kamu jatuh cintanya padanya?" senggol Dania menggoda May.
"Hah ..." May sedikit kaget dengan ucapan Dania seakan menyudutkan posisinya.
__ADS_1
"kamu ini bicara apa. Mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Dia itu pria yang sangat menyebalkan. Sudahlah, aku tidak mau membahasnya. Aku pulang dulu ya. Jika dia nanti malas-malasan tidak mau membantumu, katakan padaku. Biar aku hajar dia." ucap May ngeles dan cepat segera berjalan keluar meninggalkan toko.
"He-he-he ... pintar sekali kamu menutupi perasaan kamu May." lirih Dania sejenak memperhatikan langkah kaki May yang berjalan menjauh meninggalkan toko.