
Menit demi menit waktu terus berputar. Tak terasa membuat I'am sudah lumayan lama menunggu May yang sedang belajar dalam kelas. Perlahan rasa bosan mulai menggelitik pikirannya.
"Hah ... Lama sekali dia belajarnya." ucap I'am sedang duduk di kursi perkarangan kampus tempat biasa May duduki sambil melemparkan pandangannya ke arah kanan dan kiri memperhatikan sekitar perkarangan kampus.
"Bosan sekali rasanya. Lebih baik aku jalan-jalan sebentar." ucap I'am bangkit dari duduknya dan segera berjalan pelan sambil melihat-lihat sekitaran kampus.
Tengah berjalan. ada seorang pemuda mahasiswa sedang melaju sedikit cepat dengan motor besarnya dengan membawa wanitanya hampir menyenggol tubuh besar I'am.
"Hey ...!" teriak I'am keras.
suara keras I'am sekejap memaksa pemuda itu menghentikan motornya sedang melaju. Pemuda itu terkenal sebagai preman di kampus ini.
"Kau bisa membawa motor atau tidak! Kalau melaju itu gunakan matamu!"
"Sepertinya dia belum tau siapa aku. Kamu tunggu sebentar di sini ya, sayang. Aku akan memberi pelajaran padanya." ucap pemuda itu pada wanitanya sambil tersenyum sombong.
"Sepertinya kau belum tahu siapa aku, ya. Apa kau anak baru?" ucap pemuda itu sambil berjalan menghampiri I'am.
**
Tak lama May pun keluar dari kelasnya.
"Kemana dia? benar-benar tidak bisa di kasih tahu." ucap May setelah sampai di kursi tempat I'am menunggu sambil membuang pandangannya pada setiap sisi mencari keberadaan I'am.
"Aku rasa dia hanya berjalan-jalan saja di sekitar sini, lebih baik kita cari saja dia sekarang. Sebelum dia membuat masalah." ucap David berdiri di samping May.
"Yasudah, ayo kita cari." ucap May berlalu melangkahkan kakinya berjalan mencari I'am.
"Lihat Dav, sepertinya itu dia." ucap May melihat dari kejauhan, sambil menunjukan jarinya ke arah I'am.
"Iya, itu memang dia." ucap david, sesaat mengernyitkan dahinya. "Tapi sepertinya dia sedang berhadapan dengan preman kamus. Wah ... Pasti bakal jadi masalah ini." sambung David sedikit panik.
"Kalau begitu ayo kita hampiri dia." ucap May sangat panik, cepat melangkahkan kakinya berlari menghampiri I'am.
**
"Apa untungnya aku mengenalmu. Memangnya kau siapa?" ucap I'am ketus.
__ADS_1
"Berani sekali kau menantangku." ucap pemuda itu sambil mendorong keras tubuh I'am.
Tahu sendiri seperti apa sifat I'am. Dia paling tidak suka kalau di sentuh dengan cara kekerasan. Tangannya langsung menggempal erat. Ketika dia ingin melepaskan tinjauannya, cepat May berusaha ingin menghentikan amarah I'am.
"I'ammm ...!" teriak May sambil berlari.
Sesaat May membuang nafasnya cepat terengah-engah, setelah sampai dan berdiri di samping I'am.
"Apa yang sedang kau lakukan. Sudah aku bilang Jagan membuat masalah, kan!" ucap May ketus.
Karena ingin menghargai perasaan May, dia pun sudah berniat untuk berusaha mengalah dengan May. Jadi dia berusaha menahan amarahnya.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuat masalah." ucap I'am datar pada May.
"Yasudah, kalau begitu ayo kita pergi." ucap May segera meraih pergelangan tangan I'am sambil menariknya.
"Hey, tunggu." ucap pemuda itu menahan langkah I'am dan May. "Kau sudah menantangku. Kau tidak bisa pergi begitu saja." sambung pemuda itu.
"Memang kau bisa apa jika aku pergi." ucap I'am ketus sambil berjalan dan sambil membalikan badannya, wajahnya sengit.
"Sudahlah, tidak perlu menghiraukannya. Ayo cepat jalan." ucap May berjalan sambil menarik-narik tangan I'am.
"Aku tidak takut padamu!" balas I'am teriak sambil menunjukan jari tengahnya ke arah pemuda itu.
"Hey, kau ini tidak bisa di bilang ya. Jangan membuat aku kesal. Kenapa kau suka sekali membuat masalah." bentak May sedikit kesal.
"bukan aku yang memulai terlebih dahulu, tapi dia. Kamu tidak tahu apa-apa, tapi kamu selalu saja menyalakan aku."
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu?"
"Tadi dia melajukan motornya sedikit cepat, dan menyenggol aku. Aku hanya mengingatkannya saja. Tapi dia malah menantangku." ucap I'am menjelaskan sambil berjalan pelan.
"Bukannya sudah aku bilang, kau itu jangan kemana-mana. Kenapa kau tidak mendengarkan aku. Kalau kau tidak pergi, mungkin kau tidak akan punya masalah dengannya."
"Hah ..." sesaat I'am menghentikan langkahnya sambil menghela nafasnya berat, dan menundukan pandangannya.
"percuma saja aku menjelaskannya. Kamu pasti tetap saja menyalahkan aku." sambung I'am mengeluh.
__ADS_1
"Aku bukan menyalahkanmu. Aku kesal padamu, karena kau tidak pernah mau mendengarkan perkataanku. Aku benar-benar sudah tidak mengerti denganmu. sudahlah, aku sudah lelah denganmu." ucap May berlalu melangkahkan kakinya berjalan menuju gerbang kampus.
Sesaat David meraih bahu I'am lembut.
"Kamu dengarkan aku baik-baik. Kami sudah lama bersahabat. Aku sangat menyayangi dia. Aku tahu kamu menyukainya. Aku kasih kamu kesempatan untuk membuatnya bahagia. Tapi ingat, jika saja kamu melukainya, maka aku orang pertama yang akan menghajarmu. Semoga kamu mengerti apa yang aku ucapakan." senggol David perlahan meleraikan tangannya dari bahu I'am, dan berlalu berjalan menuju area parkiran.
"Kau tenang saja. Aku pasti akan menjaganya." ucap I'am sambil memperhatikan punggung David perlahan menjauh dari pandangannya.
David hanya melambaikan Sebelah tangannya keatas pada I'am sambil berjalan tanpa menoleh.
"Hey, May! tunggu aku!" teriak I'am sambil berlari kecil mengejar May.
"Hey, kamu masih kesal padaku, ya. Aku akan coba untuk berubah sekarang. Aku tidak akan berkelahi lagi, dan aku akan berusaha mengalah jika ada yang menantang. Aku akan merubah diriku menjadi seperti yang kamu mau. Sudahlah, kamu tidak perlu kesal lagi. Sekarang kamu harus memaafkan aku." ucap I'am sambil berjalan pelan samping May.
Sesaat tak ada jawaban. May hanya diam, sama sekali tak menghiraukan perkataan I'am.
"Hey ... Hey ibu muda. Kamu jangan pura-pura tidak mendengarkan aku. Sudahlah, jangan marah lagi. Sekarang ayo kita pergi." ucap I'am sambil meraih pergelangan tangan May.
"Lepaskan tanganku, pergi saja kau sendiri." ucap May ketus, sambil menghentakkan tangannya dari genggaman tangan I'am.
sesaat I'am tertawa kecil melihat May lucu karena merajuk.
"He-he-he. Kamu itu lucu sekali kalau sedang marah." ucap I'am sambil mengelus ujung kepala ibu mudanya.
"Tidak usah menggodaku." ucap May jutek sambil menghempas tangan I'am yang ada di atas kepalanya.
"Hah ... Sepertinya dia minta di paksa." ucap I'am pelan.
Sejenak I'am menahan langkah kaki May yang sedari tadi tidak mau berhenti.
tanpa basa basi, cepat I'am melingkari kedua tangan ibu mudanya di lehernya dan berusaha menggendongnya di punggungnya yang besar.
"Hey, apa yang kau lakukan. Cepat turunkan aku. Atau aku tendang kau."
"Sudahlah, kamu jangan marah lagi. Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini denganmu. Sekarang katakan padaku, tempat yang kamu suka di sini. Aku akan membawamu ke sana." ucap I'am berjalan sambil menggendong ibu mudanya.
Sesaat May melemparkan senyuman tipis di atas punggung I'am. Merasa senang dengan cara I'am yang beda memanjakannya.
__ADS_1
"Dasar, cara kamu menenangkan aku itu sangat aneh. Wanita itu kalau sedang marah maunya di rayu, di turuti apa maunya. Bukan di paksa untuk mengikuti keinginanmu."