
Beberapa menit berjalan I'am dan Dania Sampai di bank. Cepat I'am menyuruh Dania untuk mengecek isi buku tabungannya.
"Selamat siang." sapa salah satu pegawai bank ramah.
"Siang mbak. Tolong cek-in isi tabungan saya, ya. Saya ingin mengambilnya." ucap Dania.
"Baik tunggu sebentar, ya. Saya akan mengeceknya."
"Isi semuanya ada 1 miliar. Mbak mau mengambil berapa?" tanya pagawai pada Dania.
Dania kaget matanya membulat sempurna ketika mendengar sejumlah uang dalam tabungannya.
"Kami ingin mengambil 500 juta. Tolong cepat di siapkan, ya. ucap I'am pada pegawai itu.
"Baiklah, tunggu sebentar. Silahkan duduk dulu." ucap pegawai itu.
Setelah beberapa menit menunggu, semua uang sudah dikemas. I'am dan Dania pun cepet kembali kerumah pemilik toko itu. Untuk membayar dan mengambil semua berkas-berkas tokonya.
"Dan, besok pagi aku akan membawa May pergi sampai malam. Kamu bantu aku untuk mendekorasi tokonya ya. Ingat, kamu harus mendekorasi tokonya sebagus mungkin, ya." ucap I'am pada Dania. sambil berjalan setelah pergi dari rumah pemilik toko.
"Baiklah, serahkan semuanya padaku. Aku pasti akan membuatnya seindah mungkin." ucap Dania riang.
"Awas ya, jika hasilnya nanti tidak memuaskan." ancam I'am.
"Tenang saja kamu. Aku ini wanita, jadi aku tahu bagaimana cara memperhias." ucap Dania penuh semangat, dan menutup cerita hari ini.
***
sinar mentari pagi yang memancar dari ujung sana, perlahan mengubah warna langit yang tadinya gelap menjadi terang.
Pagi ini I'am sangat bersemangat menunggu kehadiran May yang sedang berjalan menuju toko. Hatinya masih belum bisa tenang dari Rasa gelisah. Karena seseorang yang dia tunggu masih belum kunjung datang.
Tak lama kemudian Dania datang.
"Hei tampan. Sedang apa kamu berdiri di sini.?" tanya Dania berdiri samping I'am tepat di depan toko.
"Aku sedang menunggu May. Lama sekali dia datangnya. Oya Dan? kamu sudah punya ide kan, unk dekorasi tokonya kan?"
"Tenang saja, sudah aku pikirkan. Nanti jika kamu sudah membawa May pergi, aku pasti akan langsung mengerjakannya."
"Hey, coba kamu telepon dia. Tanyakan, sedang apa dia, kenapa lama sekali."
"Tunggu saja sebentar. Dia pasti datang.
"Aku sudah menunggunya dari tadi."
"Yasudah, kalau begitu aku akan menelponnya dulu." ucap Dania sambil membuka ponselnya dan mencari angka milik May.
"Halo Dan, ada apa?" ucap May dari ujung sana.
"Kamu dimana?"
__ADS_1
"Aku masih di rumah. Sekarang lagi mau jalan ke kampus."
"Kamu tidak pergi ke toko dulu?" tanya Dania.
"Buat apa, kan ada I'am di toko. Kuncinya ada sama dia."
"Tapi I'am sekarang sedang menunggumu."
"Untuk apa menunggu aku." ucap May sedikit heran.
"Aku tidak tahu. Tapi katanya dia ingin bertemu dengan kamu. Sebaiknya kamu datang ke toko saja dulu, ya." ucap Dania, langsung mengakhiri pembicaraan.
"Hey Dan. Hah ... Dasar, belum selesai bicara sudah main tutup saja." ucap May ketus.
"untuk apa si manusia tak berkepala itu menungguku." sambung May sesaat sambil berpikir.
Tak lama berpikir May pun segera berjalan menuju toko.
"Hey, Ada perlu apa kamu menunggu aku." tanya May pada I'am setelah sampai di toko.
"Kenapa lama sekali datangnya. Aku ingin ikut ke kampus."
"Untuk apa, aku tidak mau membawamu."
"Hah, sudahlah ayo kita jalan." ucap I'am langsung berjalan sambil menarik pergelangan tangan May.
"Mau apa kamu ke kampus?" ucap May sambil berjalan.
"Aku mau mengajakmu jalan-jalan setelah kamu selesai belajar."
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Aku akan memaksamu."
"Huhhf ... dasar. Kamu itu selalu ingin menang sendiri."
Selang beberapa menit I'am dan May pun sampai di kampus.
"Hey, Kamu diam di sini saja. Jangan kemana-mana. Tunggu aku sampai selesai belajar, ya. Awas jika kamu membuat masalah." ucap May setelah membawa I'am ke tempat biasa May duduk ketika baru Sampai di kampus.
"Iya, tenang saja. Aku pasti akan menuruti perkataan kamu."
Tak lama David pun sampai di kampus sambil memarkirkan motornya di parkiran. Sesaat David memperhatikan May dengan I'am dari kejauhan sambil berjalan menghampiri mereka.
"May!" panggil David sambil berjalan menghampiri May.
"Hey, Dav." sahut May.
sejenak I'am membuang pandangannya ke sisi kosong, seakan malas menatap David.
"Sedang apa dia di sini, May." ucap David berdiri samping May.
__ADS_1
"Memangnya kenapa aku di sini. Apa kampus ini punyamu?" ucap I'am ketus.
"Hey, sudah-sudah. Kalian jangan sampai bertengkar lagi ya. Aku tidak suka melihatnya." senggol May menenangkan suasana.
"Sekarang aku ingin kamu meminta maaf padanya. Ayo cepat." sambung May bicara pada I'am.
"Kamu juga David. Ayolah meminta maaf padanya."
"Iya baiklah." ucap David datar.
"Maaf, atas kejadian kemarin." ucap I'am jutek pada David.
"Iya, aku juga minta maaf. Tapi ingat, kau masih punya hutang padaku." balas David jutek.
"Kalau soal itu, kau tenang saja." ucap I'am sesaat mengambil dompet dari sakunya, dan memberi sejumlah uang pada David.
"Ini ambilah, apa itu cukup. Kalau kurang katakan saja. aku akan menambahkannya lagi." ucap Ima sombong.
sesaat mata May membulat sempurna ketika melihat I'am mengeluarkan sejumlah buang dari dompetnya.
"Hey, kenapa kamu punya uang. Apa kamu merampok orang?" tanya May pada I'am heran.
"Enak saja kamu bicara. Ini uangku sendiri." ucap I'am ketus.
"Dari mana kamu punya uang sebanyak itu."
"Aku meminta pada ibuku."
"Oh ... Jadi kamu sudah meminta uang pada ibumu. Kalau begitu, sekarang kamu kembali dan perbaikilah pintu tokoku."
"Kenapa masih itu saja yang kamu pikirkan. Kamu tenang saja. Nanti akan aku perbaiki."
"Benar ya, awas saja kalau kamu sempat lupa."
"Iya ... Sudah sana, cepat masuk kelas. Jangan membuat aku terlalu lama menunggu di sini."
"Yasudah, aku masuk dulu. kamu Jangan kemana-mana, ya."
'Ayo David, kita masuk." ucap May segera melangkahkan kakinya berjalan memasuki kelasnya.
Saat berjalan David berusaha meraih pergelangan tangan May. Namun I'am seakan merasa cemburu dan tidak terima jika ada lelaki yang berusaha menyentuh ibu mudanya itu.
I'am tersentak dan cepat dia berusaha melepaskan tangan David sedang meraih pergelangan tanah May.
"Hey, lepaskan. Apa kau tidak bisa berjalan sendiri tanpa harus meraih tangannya." ucap I'am sedikit geram merasa cemburu pada David.
"Memangnya kenapa kalau aku memegang tangannya. kau cemburu. Memang kau siapa." jawab David ketus.
Sesaat I'am menggretakkan giginya sedikit geram dengan ucapan David.
"Sudahlah. Kamu jangan seperti anak kecil. David ini sahabat dekat aku. Kami sudah biasa saling berpegangan. Kalau tidak dia yang memegang, terkadang aku yang memegang tangannya, kalau sedang berjalan. Lagi pula kamu tidak pantas cemburu. Karena kamu itu bukan siapa-siapa." ucap May lantang pada I'am, dan segera kembali berjalan.
__ADS_1
Kalau sudah May yang berbicara, I'am tak mampu lagi berkomentar. Sejenak dia hanya menyunggingkan Sebelah bibirnya sesaat sambil memperhatikan May yang berjalan menjauh dari pandangannya.
"Dasar kau, sama sekali tidak mengerti perasaan aku." ucap I'am menggrutu sambil berjalan menghampiri kursi yang biasa di duduki May.