
Namun keberuntungan masih berpihak pada I'am. Perlahan bibirnya tersenyum tipis saat matanya menangkap sesuatu di seberang jalan, merasa lepas dari penderitaannya.
I'am Melihat dua preman yang pernah di lumpuhkannya waktu itu, sedang memasuki warung makanan pinggir jalan. Cepat ia menghampiri kedua preman itu.
"Hey, apa kalian masih ingat denganku?" tanya I'am, berdiri di samping kedua preman itu.
"K-k-kau". ucap salah satu Preman itu terbata ketakutan melihat I'am.
"He-he-he. Tenanglah, aku tidak akan macam-macam, jika kalian bersikap baik denganku.
"Iya, baiklah, kami akan bersikap baik." ucap salah satu preman itu, wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Kalau begitu, belikan aku makanan sekarang. Aku sudah sangat lapar."
"Ba-ba-baiklah. kalau begitu duduklah dulu, aku akan membelikannya."
"Hey, apa wajahku terlihat pucat." ucap salah satu Preman itu pelan pada temannya.
"Sepertinya tidak. Sudah, cepatlah kau pesan makanan untuknya. jangan membuat dia marah." ucap temannya pelan.
"Iya, baiklah. Ehm, ehm." sesaat Preman itu menampilkan wajah garangnya. "Hey ...! cepat buatkan makanan satu lagi, ya." sambung Preman itu garang, menunjukan pada pelayan.
"Bagaimana, bos? aku sudah memesankan makanan untukmu. Apa menurutmu, kami sudah cukup baik, bos?" tanya Preman pada I'am.
"He-he-he. Bagus." ucap I'am sambil mengelus lembut kepala preman itu. "Teruslah bersikap baik padaku, maka aku akan bersikap baik pada kalian." sambungnya merasa senang.
Malam.
Setelah selesai makan, I'am yang bingung dengan arah langkahnya, kini menjadikan Preman itu tempat sementaranya untuk menyelamatkan hidupnya.
"Sebenarnya, kamu mau kemana, bos? kenapa dari tadi, bos mengikuti kami?"
"Aku hanya ingin tahu saja, apa yang kalian kerjakan malam hari begini." ucap I'am mencari alasan.
"Oh ... kalau begitu, nanti bos perhatikan saja, apa yang kami lakukan."
"Iya, baiklah. Tapi tujuan kita ini, sebenarnya mau kemana?" tanya I'am belum mengerti.
__ADS_1
"Kita akan pergi ke pusat kota, di sana banyak orang-orang yang datang sekedar bersantai di malam hari. Ada yang membawa keluarganya, dan ada juga yang pacaran. Nah ... Target kita di sana nanti, orang-orang yang pacaran itu, bos."
"Target? memangnya apa yang ingin kalian lakukan pada mereka?
"Kami mau mengganggu mereka."
"Hah." I'am kaget mendengarnya. "Apa kalian tidak ada kerjaan lain. Apa enaknya mengganggu orang pacaran. Kalian sudah tidak waras, ya." sambung I'am
"Ha-ha-ha. pikiranmu itu sangat lurus ya, bos. Maksud aku itu, kita hanya meminta sedikit uang mereka saja. Setelah itu kita pergi."
"Tapi kenapa harus meminta uang dengan orang yang pacaran?"
"Karena meminta uang mereka itu sangat mudah, bos. Pekerjaan kita malam ini tidak akan sia-sia pokok nya. Sudah, bos tenang saja."
"Hem ..." Sesaat I'am menghela nafasnya, merasa lelah mendengarnya. "Terserah kalian sajalah." sambungnya malas.
Setelah berjalan sambil mengobrol, mereka pun sampai di pusat kota. Sesaat I'am menghentikan langkahnya memperhatikan tempat itu yang padat dengan keramaian orang.
Iam melihat ke sekeliling pusat kota itu, ada banyak pemandangan yang selama ini luput dari matanya.
Pemandangan sebuah keluarga yang begitu ceria, bermain bersama menikmati waktu senggang mereka bersama keluarga. Ada beberapa pasangan muda mudi yang bercanda ceria, menikmati malam yang begitu indah.
Sebelumnya, hati I'am pernah merasakan perasaan yang sama, seperti apa yang dia rasakan di sini. Perasaan penuh cinta, penuh kebahagiaan saat dia bersama seseorang.
"May." sesaat Iam teringat pada gadis itu, gadis yang pernah menanamkan benih cinta di hatinya. Meskipun waktu itu I'am tidak menyadarinya.
"May." ucapnya lirih. otaknya berusaha mengingat semua kebersamaannya dengan May.
"bos, kenapa diam. Disini sangat banyak target, ayo kita beraksi, bos." ucap Preman itu, memecahkan lamunan I'am.
"Kalian saja yang beraksi, aku mau pergi." ucap I'am segera meninggalkan kedua Preman itu.
"Hey, bos ...! kau mau kemana?!" teriak Preman itu.
Kini I'am mulai menyadari cintanya. Ia sangat ingin kembali menyambut kebahagiaannya bersama May. Hatinya sudah tak sabar ingin bertemu, cepat dia berlari menembus padatnya kota malam ini hanya untuk menemukan May.
'Maafkan aku May, Aku selalu merepotkanmu, aku selalu membuatmu kesal, aku selalu membuatmu marah. Aku berjanji, aku akan belajar untuk berubah.' gumam I'am dalam hatinya sambil berlari.
__ADS_1
***
May masih berada di dalam toko bunganya, masih berharap seakan I'am akan kembali.
May sedang duduk di kursi Sambil memainkan kartu SIM I'am dengan jemarinya.
"Kamu kemana I'am, kenapa belum kembali juga. Apa kamu serius dengan ucapanmu itu." ucap May sendu. "Baiklah, aku sudah lelah. Jika dalam satu jam kamu tidak datang juga, aku akan berhenti menunggumu." Sambungnya, mulai putus asa.
"Mungkin kartu ini, akan menjadi kenang-kenangan darimu, untukku. Aku pasti akan menyimpannya baik-baik."
Selama satu jam penantiannya, bibirnya hanya tersenyum sendu menahan kesedihannya. Jemarinya tak berhenti memainkan kartu SIM I'am sedari tadi tak lepas dari genggamannya. Sesekali matanya menatap jam dinding yang setia menemaninya dalam diam.
Satu jam sudah berlalu.
I'am menghentikan langkahnya di dekat sudut toko bunga May, sambil membungkuk memegang kedua lututnya. "Hah." sesaat dia membuang nafasnya panjang sambil menghapus peluh keringat yang membasahi dahinya. Karena kelelahan berlari tanpa berhenti.
Setelah nafasnya berhembus normal, dia menegakkan tubuhnya. Lalu perlahan bibirnya tersenyum manis, saat pandangan matanya menembus kaca dinding toko, menatap lekat wajah May.
Perlahan I'am melangkah mendekati sudut toko dan membentangkan jemarinya pada dinding kaca itu, mencoba meraih wajah manis May yang berada di dalam toko.
"Aku ingin bahagia bersama kamu, May. Aku tidak peduli, meskipun kamu sangat membenciku. Aku tidak akan pergi lagi. Aku akan tetap menyukaimu, May." ucap I'am lirih, meresapi perasaannya.
"Sudah satu jam." ucap May pelan, sesaat melemparkan pandangannya keluar depan toko. "Hem ..." May membuang nafasnya berat, merasa lelah.
"Sudahlah, sebaiknya aku pulang saja sekarang." May sudah merasa bosan.
Karena malam sudah mulai larut. Tak mau membuang waktu lagi. Cepat dia membereskan sedikit tokonya ,bersiap-siap untuk pulang.
I'am sudah berpikir, kalau David pasti sudah menceritakan yang sebenarnya dengan May. Karena itu, I'am masih menduga, kalau May pasti akan sangat marah jika melihatnya.
"Hem." I'am sedikit panik melihat May berjalan menuju keluar toko. Cepat dia menyembunyikan tubuhnya di balik sudut toko.
"Aku tidak mungkin bertemu dengannya sekarang. Dia pasti sangat marah denganku. Lebih baik, aku menunggu waktu yang tepat saja." ucapnya pelan di balik sudut toko.
Setelah semuanya beres, May mengunci daun pintu tokonya, dan berjalan menuju rumahnya. Rasa lelah yang menumpuk di benaknya membuat kakinya sedikit lemas. sehingga langkah kaki May terlihat berjalan gontai.
I'am mengernyitkan dahinya saat melihat May yang baru saja berjalan. I'am merasa Kawatir dengan keadaan May. Cepat dia mengikutinya dari belakang. Karena takut terjadi sesuatu pada Ibu mudanya itu.
__ADS_1
Baru berjalan beberapa meter, May kehilangan tenaganya dan kesadarannya. Perlahan tubuhnya pun mulai membuang terjatuh.
Tak ingin sedikit pun gadisnya itu terluka. I'am yang berjalan di belakangnya, dengan cepat, tangannya menangkap tubuh kecil May yang mau terjatuh, dan menyandarkannya sesaat di tubuhnya yang besar.