
Hidupnya yang selama ini selalu ingin bebas, membuat I'am tak biasa menggunakan pikirannya untuk menyelesaikan masalahnya. Meskipun Beberapa saat dia berusaha menggunakan otaknya untuk membantunya. Namun, dia tak mampu mendapatkan sebuah ide untuk membantunya.
"Hah ..." Sesaat I'am menghela nafasnya berat, merasa lelah berpikir. "Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Jalan satu-satunya mencari pickup yang membawa dia ke kota ini. Itu saja yang selalu terlintas di otaknya kalau sudah tak mampu berpikir untuk menyelesaikan masalahnya.
"Meskipun aku sudah lupa jalannya. Aku harus berusaha mencarinya. Aku pasti bisa menemukan pickup itu." lirih I'am lantang penuh keyakinan, saat ini.
Tak mau berlama-lama membuang waktu. Segera dia bangkit dan melanjutkan langkahnya kembali menyusuri jalanan yang menantangnya.
***
"huhff ... kemana perginya, si tampan itu? Sudah siang, tapi kenapa belum kembali juga." ucap Dania sedang beristirahat setelah mengurusi para pelanggan.
"Duh ... May juga, kenapa belum datang. sebentar lagi aku kan, harus pergi ke kampus." Dania sudah merasa tak tenang karena waktu terus mendesaknya.
Dania bangkit dari duduknya dan berjalan keluar toko. Sambil menunggu pelanggan, sesekali pandangannya memperhatikan jalanan yang biasa di lalui May ketika pergi ke toko.
"Hem, lebih baik aku hubungi saja dia. Dasar May, Lama-lama dia itu sudah sama seperti I'am. Sudah mulai tidak bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri.
Segera Dania meraih ponselnya dari saku dan melihat sederet angka yang tertera untuk mencari angka milik May. Lalu cepat dia berusaha menghubungi May.
May menahan tangisannya saat mendengar ponsel dalam sakunya berdering. Segera ia meraih ponselnya dan menyambungkannya.
"Halo May, kenapa kamu belum datang? aku sudah mau pergi ke kampus ini." ucap Dania setelah May menyambungkan panggilannya.
"Mungkin aku telat datang Dan, Kalau Kamu ingin pergi, titipkan saja kuncinya pada toko sebelah, ya." ucap May lirih, suaranya sedikit bergetar berusaha menutupi tangisannya.
"Kenapa kamu telat datang? apa yang terjadi pada dirimu, May? kenapa suaramu seperti menangis. Apa si tampan itu sudah menyakitimu?"
"Tidak, aku baik-baik saja kok. Sudah ya, Dan. sebentar lagi aku akan ke sana." ucap May mengakhiri panggilannya.
"Tunggu May." Dania berusaha menahan, namun May sudah terlebih dahulu menutupnya.
__ADS_1
"Huhf ... Cepat sekali dia menutupnya. Kalau begitu, aku akan menunggunya disini. Aku ingin tahu, apa yang terjadi dengan dia."
Dania merasa aneh dengan keadaan May. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak pergi ke kampus hari ini, dan menunggu May di tokonya.
Tak lama berdiri di luar, Dania kembali masuk dan membuang bokongnya pada kursi kasir dan menumpuhkan dagunya pada kedua tangannya di atas meja.
"Kenapa May menangis, ya? Pasti si tampan itu membuat masalah lagi padanya. Dasar I'am. Suka sekali mengganggu, May." ucap Dania lirih.
***
May, setelah menerima telpon dari Dania dia melanjutkan membereskan sampahnya. Setelah lama mencari, akhirnya May menemukan kartu I'am. Memang apa yang di pikirkan I'am itu benar. Ketika May menyapu teras rumahnya, kartu I'am terselip pada tumpukkan debu yg sudah di kumpulkannya. hanya saja May tidak melihatnya.
"Wah ... sepertinya ini kartunya. I'am pasti sangat senang, jika tahu, aku sudah menemukan kartunya." Sesaat may tersenyum lebar. Hatinya yang tadi sedih sekejap merasa senang.
Lalu May membersihkan tangannya dan sekedar merapikan dirinya dengan air untuk menghilangkan aroma sampah yang mungkin menempel pada tubuhnya. Setelah itu, cepat dia melangkahkan kakinya berjalan menuju toko. Sambil berjalan, sesekali May memperhatikan kartu I'am yang sedang di genggamnya.
'Cepatlah kembali, I'am. aku akan memberikan kejutan untukmu.' gumam May dalam hatinya sambil melihat kartu SIM I'am yang di genggamnya.
"Hai, Dan. Kenapa kamu masih disini?" tanya May setelah memasuki tokonya dan sejenak berdiri di samping Dania.
"Aku tidak ke kampus hari ini. Aku sengaja menunggu, karena Kawatir padamu. Kamu tadi, kenapa menangis?"
Sesaat May melemparkan bokongnya di kursi depan Dania.
"Siapa yang menangis. Sudah aku katakan, aku tidak apa-apa."
"Kamu jangan berusaha membohongiku, May. Sedari tadi aku menghawatirkan kamu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?cepat katakan."
"Hem ... Baiklah." May menghela nafasnya, wajahnya terlihat sedih.
"Tadi, I'am dan David berkelahi di depan rumahku. Aku berusaha untuk menenangkannya, tapi I'am malah salah paham padaku. Lalu sekarang dia pergi. Aku tidak tahu, dia akan kembali atau tidak." ucap May sendu.
"Kenapa mereka bisa berkelahi. Apa masalahnya, May?"
__ADS_1
"Masalahnya, I'am itu pernah datang ke restoran tempat David berkerja. Lalu I'am tidak membayar pesanannya. David hanya berusaha mengingatkannya. Tapi I'am malah tidak terima dan langsung memukul David."
"Dasar I'am, dia itu sangat arogan, ya." ucap Dania sedikit geram dengan I'am.
"Iya. Memang dia, seperti itu orangnya."
"Lalu Sekarang, I'am pergi kemana May?"
"Aku tidak tahu, Dan. Dia sangat marah padaku. Katanya dia akan menghilang dari hadapanku." ucap May sedih.
"Hah ..." Dania sedikit kaget. "Apa dia serius dengan ucapannya. Jika dia masih di kota ini, aku tidak yakin kalau dia tidak kembali padamu. Sudahlah, kamu tidak usah memikirkannya. Sebentar lagi juga dia pasti akan datang. Meskipun aku baru mengenalnya, tapi aku tahu betul sifatnya."
"Jika dia tidak kembali bagaimana?"
"Kenapa kamu begitu peduli padanya, May. Seharusnya kamu senang dia sudah pergi. Karena sudah tidak ada yang merepotkanmu lagi."
"Sudahlah, kamu tidak akan mengerti, Dan."
'Aku mengerti May, Kamu mencintainya, kan. Hanya saja aku tidak mau menanyakannya. Karena aku tahu, rasa gengsi kamu itu sangat besar. Jika aku menanyakannya, kamu pasti akan menutupinya.' gumam Dania dalam hati. sesaat tersenyum tipis menatap sahabatnya sedang jatuh cinta.
Hari mulai sore. Dania pun kini meninggalkan May sendiri di toko.
Saat ini May sedang berdiri di balik dinding kaca tokonya, menempelkan satu telapak tangannya pada dinding kaca sambil menatap padatnya jalanan di depan toko.
"Kenapa kamu belum kembali juga I'am. Jangan membuat aku terlalu lama menunggu. Cepatlah kembali." ucap May lembut, sedari tadi tak berhenti memikirkannya.
***
"Hah ..." I'am berdiri dan mendengakkan kepalanya ke arah bentangan langit yang mulai berwana keorenan, menyisakan warna jingga di ujung sana. Sejenak melepaskan rasa lelahnya setelah lama berjalan, belum menemukan apa yang dia cari.
"Perutku sudah sangat lapar. Kemana aku harus mencari makanan. Aku sama sekali tidak punya uang. Hem ... Apa yang harus aku lakukan."
Tak tahu lagi harus kemana dan apa yang harus di lakukan. Dia berjalan beberapa langkah dan membuang bokongnya di kursi pinggir jalan. Dia melepaskan pandangannya pada setiap sisi arah sekedar memahami keadaan sekitar, untuk menghilangkan rasa bingungnya.
__ADS_1