Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.13


__ADS_3

"Jawab pertanyaanku, di mana kuncinya?" ucap May pelan sambil menggretakkan giginya.


"Kuncinya ada di pintu, lihat saja sendiri kalau tidak percaya." ucap I'am sedikit kesal, sejenak menoleh sambil menunjukkan satu jarinya ke arah pintu toko.


Perlahan May menegakkan tubuhnya dan melipatkan kedua tangannya di dada. "Ingat ya, kamu jangan sampai sembarangan meletakkannya."


"Iya, aku pasti akan menyimpannya baik-baik. Tenang saja. kamu tidak perlu mengingatkan aku terus. Aku bosan mendengarnya. Kau itu suka sekali mencari masalah padaku, ya!" ucap I'am ketus, sambil menatap May berdiri di hadapannya.


Baru saja May meredam amarahnya, namun perkataan I'am yang terlontar tanpa di pertimbangkan dulu selalu memancing amarahnya.


"Apa! kau bilang apa! coba katakan sekali lagi!" ucap May menantang sambil mendancakkan tangannya.


Tak tahan melihat sikap May menantang, Cepat I'am bangkit dari duduknya merasa geram.


"Kau pikir aku takut padamu. Kau itu suka mencari masalah! Apa! kau ingin memukulku, tidak akan bisa lagi. Aku sudah sangat paham dengan sikapmu." ucap I'am balik menantang sambil bersiaga menjaga dahinya dari Tangan halus milik May.


May membuang nafasnya sangat cepat seperti banteng melihat bentangan warna merah, dadanya bergerak naik turun mendengar perkataan I'am yang menantangnya. I'am benar-benar membuat amarah May meledak seperti bom atom.


"meskipun kau sudah paham dengan sikapku, kau pikir aku tidak bisa menyakitimu!"


"Bugh." ujung sandal yang menjadi alas kaki pendek May dengan cepat menempel pada tulang kering I'am sangat keras.


"Auh ..." teriak I'am mengangkat satu kakinya yang di tendang May sambil meloncat-loncat dengan satu kaki menahan sakit dan mengelus tulang keringnya.


Tak puas hanya dengan menendangnya untuk melampiaskan amarahnya, cepat ia mencengkram erat rambut tebal I'am, dan menggoyangkan kepalanya, saat I'am berjongkok menumpuhkan satu lututnya di atas lantai masih berusaha menghapus rasa sakitnya.


"Lepaskan tanganmu dari kepalaku.! Argh ..." I'am berusaha berontak dan menghentakkan tangan May dari kepalanya. Apa-apaan kau ini! kenapa senang sekali menyakitiku!" bentak I'am berdiri tegak di hadapan May.


"Karena aku sangat geram padamu. Tadi aku bertanya balik-baik, apa kau tidak bisa menjawab dengan baik juga. Sekarang aku kasar, kau bilang aku suka menyakitimu." ucap May tegas.


"Ya baiklah. aku minta maaf." ucap I'am berlalu duduk di bibir teras.


"Yasudah, lain kali jawablah dengan baik jika aku bertanya."


"Ya, baiklah ibu muda." ucap I'am sambil mengerucutkan bibirnya. "Susah sekali menang darinya." sambungnya menggrutu.


"Lalu kamu sedang apa di luar. Berjalan bolak-balik seperti orang bodoh." Tanya May berdiri di hadapan I'am.

__ADS_1


"Aku sedang berusaha memikirkan sesuatu. Tapi aku belum mendapatkan jawabannya."


"Memangnya kamu sedang memikirkan apa? coba katakan padaku." ucap May perlahan membuang bokongnya di bibir teras samping I'am.


"Aku seperti merasakan ada kebahagiaan dalam hatiku. Tapi aku tidak tau, kebahagiaan apa ini, dan aku juga tidak tahu datangnya dari mana."


"Kamu bisa merasakannya, tapi kamu tidak tahu perasaan apa itu. Bagaimana sih?"


"Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Karena itu aku bingung, perasaan apa yang sedang aku rasakan saat ini."


"Tidak salah jika aku mengatakan kamu itu bodoh. Memahami perasaan sendiri saja tidak bisa."


"Huhf ... Menyesal aku memberitahukannya padamu. Sudah aku tebak, kamu pasti akan mengatakan kalau aku ini bodoh." ucap I'am santai berusaha menangkap perkataan May sedikit dewasa, sambil menatap para bintang yang bertaburan di langit hitam.


Perlahan bibir May tersenyum tipis ketika matanya menatap hangatnya wajah milik I'am yang terlihat sedikit dewasa.


'Jika saja kamu bisa terlihat dewasa terus seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah bosan melihatmu.' lirihnya dalam hati.


"Ini sudah larut malam, tapi kenapa kamu datang kemari." Tanya I'am.


sesaat tak ada jawaban. I'am menarik pandangannya pada May. Perlahan ia memiringkan sedikit kepalanya merasa heran melihat May. "Kamu sedang apa?" tanya I'am pelan. Sesekali ia menoleh pada setiap sisi kosong. "Apa yang kamu lihat?" sambungnya pelan.


"Apa yang terjadi dengannya? aneh sekali dia. Aku benar-benar tidak mengerti." lirih I'am semakin heran.


Lalu I'am menepuk lembut pipi May berusaha menyadarkannya dari lamunan.


"Ah." May sedikit tersentak


"Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa cara berpikirmu seperti orang tidak waras. Aneh sekali."


"Aku tidak memikirkan apa-apa."


"Lalu kenapa kamu diam saja seperti patung?"


Pertanyaan I'am membuat bibir May kelu. "Oh, i, itu. Ta, tadi." ucap May terbata, merasa terjebak dalam kejujuran yang membuat bibirnya tak mampu menjawab yang sebenarnya, sedang memperhatikan I'am sedari tadi.


"Eh, Coba kamu lihat bintang itu. Terang sekali sinarnya." ucap May menunjuk ke arah langit, berusaha membohongi untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Yang mana?" ucap I'am matanya liar berusaha melihat bintang yang di maksud May.


"Yang itu ... Masa kamu tidak bisa melihatnya."


"Mereka sangat banyak. Aku tidak tahu, bintang yang mana kamu tunjuk."


"Ha-ha-ha ... Ha-ha-ha." May tertawa terbahak.


"Kenapa kamu tertawa? apanya yang lucu." ucap I'am sedikit heran.


"Aku tidak tahan melihat wajahmu yang sangat lugu itu. kamu itu sangat lucu sekali. Ha-ha-ha."


"Apa iya? tunggu sebentar, ya " ucap I'am penasaran, segera ia bangkit dan ingin berjalan ke dalam toko."


"Kamu mau kemana?" tanya May sambil memegang pergelangan tangan I'am, berusaha menahan I'am.


"Aku mau mencari cermin sebentar."


"Sudah, tidak usah. Kamu tidak perlu melihat wajahmu sendiri."


"Kenapa?"


"Percuma saja, kamu tidak akan bisa menyadarinya. Karena hanya orang lain yang bisa menilainya."


"Oh ... begitu ya." ucap I'am datar. Sesaat dia mencoba mencerna perkataan May. Namun tetap saja dia tidak begitu mengerti dengan ucapan May barusan. "Ah ... yasudah. Oya, aku masih penasaran dengan bintang yang kamu tunjuk. Dia berada di sebelah mana?"


Sudahlah, lupakan saja bintang itu, kamu tidak perlu melihatnya lagi. Karena aku hanya menggodamu saja. he-he-he." ucap May sesekali masih tertawa geli.


"Ah, kamu ini. Awas saja nanti ya, aku pasti akan membalasmu." ucap I'am santai sambil melemparkan senyuman.


Seketika suasana menjadi ceria seakan memaksa sang rembulan dan para bintang menjadi saksi kegembiraan mereka berdua di tengah sunyinya malam ini.


"Oya, kamu tidak akan bisa membalasku. Karena kamu itu pria yang sangat naif."


"Kita lihat saja, tapi kamu jangan marah padaku ya, jika aku berhasil membalasmu nanti."


"Iya, aku tidak akan marah."

__ADS_1


"Aku akan membuatmu menyesal karena sudah menantangku."


"Coba saja kalau bisa." ucap May merasa senang menikmati sikap I'am yang lebih santai dari sebelumnya.


__ADS_2