
Baru beberapa langkah ponsel May berdering. "Sebentar Dav. Aku angkat telfon dulu." ucap May berhenti dan mengambil gawainya dari saku. Melihat ada panggilan masuk dari Dania, berlalu ia menyambungkan panggilannya.
"Halo May. Kamu dimana? kenapa tidak mengantar kunci hari ini. Aku sudah dari tadi menunggumu di depan toko."
"Ya ampun ..." May menepuk dahinya. "Maaf Dan, aku lupa. Yasudah, tunggu sebentar, ya. Aku segera kesana."
"David, hari ini aku tidak masuk kelas. nanti kamu jelaskan saja padaku, pelajaran yang kamu dapat hari ini, oke. Aku pergi dulu, ya." ucap May segera berlari menembus gerbang kampus menuju toko bunga miliknya.
"Dasar May, masih muda sudah pelupa." ucap David tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah berlari selama lima belas menit, May sampai di depan tokonya. Sesaat ia membuang nafasnya berat, membungkuk, kedua tangannya mencengkram lututnya, karena kelelahan berlari.
"Dari mana saja sih, kamu? kenapa bisa telat datang kemari." ucap Dania.
"Maaf, hari ini aku sangat kesal. Karena itu aku lupa mengantar kunci."
Yasudah, mana kuncinya, biar aku buka pintunya."
May mengambil kunci dari dalam tasnya dan memberikannya pada Dania.
"ini." ucapnya masih sambil menghapus peluh keringat di dahinya.
"Memangnya apa yang membuat kamu hari ini kesal? sampai kamu lupa begitu." ucap Dania sambil membuka pintu toko.
May menghela nafasnya sesaat. "Tadi pagi ada seorang pria tidur di depan pintu rumahku. Aku menyuruhnya pergi, tapi dia tidak mau pergi. Pria itu sangat keras kepala. Aku sangat kesal melihatnya."
Lalu mereka masuk kedalam toko kecilnya itu dan sedikit merapikan bunga-bunga yang ada di dalamnya.
"Memangnya dia dari mana? kenapa dia bisa tidur di depan pintu rumahmu?"
"Aku tidak tahu, aku tidak sempat bertanya. Aku baru menyuruhnya pergi, dia sudah mengajak aku bertengkar. Aku jadi sangat emosi." ucap May meremas-remas telapak tangannya dan menggretakkan rahangnya.
"Sudahlah, kamu gak usah emosi. Dia kan tidak macam-macam. Hanya menumpang tidur saja, kan?"
"Huhf ..." May menghela nafasnya dan membuang bokongnya pada kursi yang ada di dalam toko kecilnya itu. "Lihat saja nanti, jika aku pulang dia masih ada. Akan aku potong-potong seluruh tubuhnya." ucap May menggerutu.
"Kamu tidak pergi ke kampus?" ucap Dania.
"Aku habis dari kampus. Aku malas kembali ke sana. Pagi ini aku akan membantumu saja berjualan."
"Baguslah kalau begitu. Sekali-kali kamu memang harus menemaniku di sini." ucap Dania riang.
Menit demi menit perlahan para pembeli berdatangan satu persatu. Kesibukannya mengurus pembeli membuat ia lupa dengan kesalnya sampai menjelang sore.
__ADS_1
Dania membantu May berjualan hanya dari pagi sampai siang. Karena siang Dania pergi ke kampus bergantian dengan May. jurusan kuliah mereka berbeda. Karena itu jam pelajaran mereka pun berbeda. Setelah sore menjelang, Dania kembali mengunjungi toko bunga May.
"Hai May." sapa Dania setelah pulang dari kampus. " Bagaimana mana sore ini, banyak bunga yang terjual?" sambungnya.
"Ya ... lumayan lah." ucap May sambil menghitung uang hasil penjualan hari ini.
Dania melemparkan pandangannya pada setiap sisi toko. "Sepertinya kamu harus memesan bunga lagi May. Karena toko kamu sudah terlihat kosong."
"Iya, tadi aku sudah menghubungi pemasoknya. Katanya besok akan di antar. Uang pembayaran aku simpan di laci ini, ya. Jika besok pemasoknya datang pagi, kamu bayar saja."
Baiklah, aku pulang duluan, ya. Bye May." ucap Dania berlalu pergi melangkahkan kakinya keluar dari toko kecil May.
"Hati-hati ya ...! ucap May bersiap-siap untuk pulang juga.
Perlahan ia melangkahkan keluar toko dan mengunci pintunya. Tak lama ia berjalan, karena jaraknya yang dekat, hanya beberapa menit May sampai di depan rumahnya. Ia menggretakkan giginya, emosinya meningkat dalam sekejap melihat I'am masih berbaring di teras rumahnya. Segera ia menghampiri dan menendang bokong I'am.
"Auh ... Apa-apaan kamu ini." ucap I'am kesakitan.
"Bangun. Kenapa kamu masih di sini!" bentak May mendacakkan tangannya di pinggang.
"Aku tersesat di kota ini. Aku tidak tau harus pergi kemana."
"Itu urusanmu, bukan urusanku."
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelum pergi aku ingin menumpang charge ponselku. Agar aku bisa menghubungi ibuku."
"Baiklah, tapi setelah ponselmu penuh. Kamu harus segera pergi. Atau aku akan menendangmu. Apa kamu mengerti!"
"Iya, baiklah. Ini tolong ya." ucap I'am memberikan ponselnya pada May.
'wah ... Bagus sekali ponselnya. ini pasti sangat mahal.' gumam May dalam hati.
"Kamu mencuri ponsel ini dimana?"
"Hah." I'am greget.
"Itu ibuku yang membelinya di Eropa. Aku ini anak orang kaya. Kamu jangan asal bicara, ya." Bentak I'am.
May mengetuk dahi I'am dengan ponsel I'am yang di genggamnya.
"Auh ... Kenapa kamu Begitu kasar jadi wanita."
"jangan membentak ku!" ucap May mengerucutkan bibirnya. "Kalau kamu anak orang kaya kenapa kamu seperti gembel. kenapa tidak pulang."
__ADS_1
"Aku tidak punya uang. Dompetku terjatuh. Sudah, jangan banyak bertanya. Cepatlah chargekan ponselku. Kamu ingin aku cepat pergi dari sini, kan?"
Auh ... Aku tidak membentakmu, kenapa kamu masih memukul dahiku."
"Yang kedua, aku tidak suka di perintah." ucap May berlalu memasuki rumahnya.
May memasuki kamarnya dan melempar tasnya di atas ranjang sambil menggerutu. "merepotkan saja." Ia meraih handuk yang di gantung di dinding kamarnya, dan segera melangkah ke kamar mandi membasuh tubuhnya dengan air. Sekedar menghapus penat yang membuat ia lelah karena seharian berjualan.
Setelah merasa segar dan mengenakan pakaian sederhana sekedar merapikan penampilannya. Ia berbaring di ranjang dan memainkan gawainya untuk menghibur diri.
Tak lama I'am mengetuk daun pintu rumahnya berteriak memanggilnya. Ia bangkit dan membuka pintunya.
"Ada apa? Apa kamu ingin mengambil ponselmu. Baiklah, tunggu sebentar."
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Ayo cepat katakan." ucap May ketus.
"Aku lemas. Apa kamu punya sedikit makanan."
"Aku tidak punya makanan. Kamu tahu kan, seharian aku tidak ada di rumah. Tapi aku punya sedikit roti. Apa kamu mau?."
"Boleh juga."
"Tunggu sebentar." May berjalan menuju kamarnya, mengambil beberapa roti dan memberikannya pada I'am.
"Ini, makanlah."
"Terimakasih. Ternyata kamu baik juga, ya." ucap I'am tertawa menggoda.
"Tidak usah banyak bicara, makanlah terus. Sebelum aku ambil kembali."
"I'am menggigit rotinya. "Kamu memberi roti kering, tapi kamu tidak memberi aku minum. jika aku tersedak bagaimana?" ucapnya sambil mengunyah.
"Kamu tidak akan tersedak, jika kamu makan tanpa bicara." ucap May sambil masuk mengambil air minum. "Sudah menumpang, merepotkan lagi. Dasar. sambung May menggerutu.
"Ini." May memberi minum. "Wah ... cepat sekali makannya, Baru di tinggal sebentar sudah habis semua." May menyindir matanya membulat sempurna.
"Tidak usah heran begitu. Ini hanya roti. Jika anak bayi yang memakannya juga pasti akan cepat habis."
"Kata siapa? Bilang saja kalau kamu itu rakus." ucap May ketus.
__ADS_1
"Hem." I'am menggretakkan giginya sambil menyunggingkan sebelah bibirnya, dan menatap tajam kearah May.
"Apa!" ucap May menantang, mendacakkan tangannya di pinggang.