Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.12


__ADS_3

"Hah ..." I'am membuang nafasnya setelah menurunkan May dari atas punggungnya sambil menghapus peluh keringat yang penuh menghiasi dahinya.


"Terimakasih ya. sudah menggendongku sampai rumah." ucap May sambil melemparkan senyuman


Sejenak I'am menatap senyuman dari bibir May, ia merasa senang. 'Baru kali ini dia tersenyum padaku. Akhirnya, aku bisa juga melihat sisi wanitanya yang asli.' gumam I'am dalam hatinya.


"Hey ... Kenapa kamu diam. Sudah sana, kembalilah ke toko, dan jangan lupa ya, Besok pagi kamu bantu Dania berjualan."


"Iya, baiklah, aku pergi dulu." ucap I'am segera melangkah pergi.


Baru beberapa langkah I'am berjalan, May memanggilnya.


"Hey." panggil May


"Ada apa lagi?" ucap I'am berhenti dan membalikan badannya.


"Aku ingin tahu namamu?"


"Oh ... Jadi kamu tertarik juga ingin tahu namaku."


"Sudahlah, tidak jadi." ucap May merasa malu dan berlalu melangkah menuju pintu rumahnya.


"Namaku Ilham Arayan! panggil saja aku I'am." ucapnya saat May baru berjalan beberapa langkah.


May membalikan badannya dan ingin memberi tahu namanya. Namun I'am sudah memotongnya terlebih dahulu, ketika May baru mau menyebutkan namanya.


"Kamu tidak perlu memberi tahu namamu, aku sudah tahu namamu dari Dania. Yasudah ya, aku pergi dulu." ucap I'am melemparkan senyuman manis sambil mengedipkan sebelah matanya. Sesaat wajah dan sikap I'am terlihat sangat dewasa di mata May.


Batin May seperti tersentak dan nafasnya sejenak seakan terhenti. Tak menyangka, Saat matantap senyuman I'am dan sikapnya yang berubah sangat dewasa.


Mata May tak berhenti menatap kosong setiap langkahan I'am berjalan semakin menjauh dari pandangannya.


'Aku tidak bisa menebaknya, sebenarnya, dia itu seperti apa? di bilang tidak dewasa, tapi tadi, dia terlihat seperti sangat dewasa. Aku merasakan hatiku seperti di pelukannya.

__ADS_1


Baru kali ini aku menemukan pria sepertimu I'am. Pria yang tidak bisa aku tebak kepribadiannya.' lirihnya dalam hati, Tak sadar bibirnya tersenyum senang.


tak lama, May tersadar dari lamunannya.


"Ah, kenapa aku jadi memikirkannya. Ada-ada saja." ucapnya berjalan memasuki rumah menuju kamar dan membaringkan tubuhnya lemas di atas ranjang.


Beberapa jam menghabiskan malam bersama I'am, membuat dia terlupa dengan masalahnya tentang perasaan David.


***


Sesampai di toko. I'am merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang dalam toko. Menumpuhkan kepalanya di atas kedua telapak tangannya, setelah membasuh tubuhnya dengan air di kamar mandi, sekedar menghapus penat dan membersihkan seluruh tubuhnya.


sorot matanya kosong seakan sedang melamun dalam suasana malam tadi yang mewarnai ceritanya bersama May.


"Meskipun aku tidak punya apa-apa, tapi aku merasa sangat bebas di sini. mungkin karena aku bertemu dengan orang yang tepat.


Dia memang wanita yang cerewet dan juga kasar. Tapi entah kenapa, aku mulai terbiasa dengan sikapnya. Aku merasa seperti punya teman sekarang." lirih I'am pelan.


Ia mendengakkan kepalanya dan menumpuhkan kedua tangannya kebelakang di lantai teras, menikmati hamparan langit malam yang bertaburan ribuan bintang.


Sesekali Ia tersenyum getir saat pikirannya membayangkan wajah May. "Kalau di ingat-ingat, dia itu sangat lucu jika sedang kesal. Aku sangat suka melihatnya.


Apa lagi kalau tersenyum seperti tadi. Dia terlihat sangat cantik dan juga imut. Aku harus bisa membuatnya tersenyum lagi." ucapnya terus-menerus melemparkan senyuman manis pada hamparan langit malam yang menyaksikan kediamannya di selimuti rasa bahagia.


"Ah, kenapa aku jadi memikirkannya. Sudahlah, lebih baik tidur saja. Tidak ada gunanya aku memikirkannya." ucapnya polos beranjak berjalan ke dalam toko dan merebahkan tubuhnya kembali pada kursi panjang.


Sifatnya yang polos dan tidak terlalu dewasa, membuat dia tidak sepenuhnya paham, bahwa cintanya pada May sedang menggebu-gebu dalam hatinya. Dia sama sekali tidak tahu perasaan apa itu yang sedang dia rasakan.


Namun hal itu membuat dia selalu rindu dengan kehadiran May. Seakan dia tidak mau sedetikpun May hilang dari pandangan matanya.


Detik jarum jam terus berdetak, hingga malam semakin larut. Namun rasa rindu ingin bertemu May membuat dia masih belum bisa tertidur lelap. Sedari tadi rasa gelisah membuat tubuhnya terus-menerus berbalik bertukar posisi. sesekali matanya mengintip jam dinding yang menurutnya berdetak sangat lambat.


"Hah ... Ia menghela nafasnya berat sambil melemparkan bokongnya duduk dari tidurnya. "Kenapa lama sekali paginya." sambungnya merasa bosan.

__ADS_1


Ia kembali berjalan keluar toko, dan berjalan pelan berbolak-balik di depan toko menghilangkan rasa bosannya.


***


Meski keduanya belum bisa menyadari kehadiran cinta di antara mereka. Namun rasa rindu sudah merasuk dalam hati mereka dan mengganggu ketenangannya. Kini keduanya tak mampu lagi untuk saling berjauhan.


"Duh ... Kenapa aku jadi memikirkan dia terus sih ... Ayo dong I'am, keluar dari pikiranku." ucap May sambil menepuk-nepuk lembut kepalanya.


"Jika saja dia bisa terus menjadi dewasa seperti tadi. Mungkin aku tidak akan pernah kesal lagi padanya. Aku jadi ingin melihatnya dewasa lagi. Dia terlihat sangat tampan jika seperti itu. Hah ..." ucap May sambil menghela nafasnya dan membangkitkan badannya duduk di atas ranjang.


"Duh ... Kenapa tiba-tiba aku ingin sekali menemuinya. Lebih baik aku ke toko sebentar. Siapa tahu saja dia belum tidur."


May menarik selimut yang membungkus seluruh kakinya dan beranjak cepat berjalan keluar rumah menuju toko.


May mengernyitkan dahinya, matanya memandang kejauhan.


"Bukannya itu I'am, sedang apa dia? kenapa berbolak-balik di depan toko. Apa dia sedang menjaga toko? dasar bodoh." ucap May sambil melangkah pelan menghampiri I'am.


May berhenti tepat di belakang I'am ketika I'am sedang berjalan pelan membelakangi May.


Seketika ceritanya berbeda, saat keduanya saling mengadukan sifat kerasnya. Cinta yang tadinya bersinar menyiratkan kebahagiaan, sekejap seperti terdiam Hanya duduk manis sambil Tertawa menyaksikan mereka saling melemparkan kekesalannya.


"Ahh!" teriak I'am kaget nafasnya terengah-engah, tiba-tiba melihat May ada di hadapannya. "Sedang apa kau di sini? kau membuat aku sangat terkejut. Jika jantungku lepas bagaimana? apa kau rela memberikan jantungmu untukku? tidak kan!" ucap I'am sedikit kasar dan sedikit kesal.


May menyunggingkan sebelah bibirnya dan melirikkan bola matanya sengit pada I'am. 'Jika tahu begini, aku tidak mau datang kemari. Dasar, pria menyebalkan.' gumam May dalam hatinya.


"Jangan menatapku seperti itu. Ini sudah larut malam. Aku tidak mau bertengkar denganmu." ucap I'am jutek berlalu berjalan dan membuang bokongnya di bibir teras.


"Seharusnya aku yang bertanya, kau sedang apa di luar? Aku kan, tidak menyuruhmu menjaga tokoku seperti scurity. Atau jangan-jangan?" ucap May sesaat memikirkan sesuatu dan cepat menghampiri I'am. "Jangan bilang kalau kuncinya hilang." sambungnya, perlahan May membungkuk sambil mendancakkan kedua tangannya di pinggang, dan matanya membulat tajam menatap dekat wajah I'am.


Tatapan May membuat raut wajah I'am sedikit meringis, dan menjauhkan sedikit kepalanya ke belakang dari tatapan mata May.


"Kamu itu sangat menakutkan. Sudah aku bilang, jangan melihatku seperti itu."

__ADS_1


__ADS_2