Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.11


__ADS_3

Sesaat I'am berdiri sejenak setelah sampai di toko kaki lima, memperhatikan toko pakaian sederhana di hadapannya.


"Kamu tidak salah membawaku ke tempat ini."


"Memangnya kenapa? bukannya kamu ingin membeli pakaian. Cepatlah pilih, kamu mau yang mana?"


"Tidak ada satupun yang mewah. aku tidak suka. Kita cari tempat lain saja." ucap I'am Segera berjalan."


"Hei, tunggu." May meraih tangan I'am menghentikan langkahnya. "Apa maksudnya tidak ada yang mewah. Kamu pikir kamu ini siapa.


Saat ini kamu tidak dengan Ibumu. Tidak bisa meminta apa yang kamu mau. Sekarang cepatlah pilih pakaiannya. Atau aku sama sekali tidak akan membelikan." sambung May tegas.


"Baiklah. aku akan memilihnya. Apa kamu puas." ucap I'am jutek berlalu melangkah dan memilih-milih beberapa pakaian.


"Huh ... Dasar. Seharusnya kau itu bersyukur, karena aku sudah mau membelikannya."


"Aku beli pakaian yang ini saja." I'am meletakkan beberapa pakaian di hadapan penjualan paruh baya itu.


"Baiklah, Sebentar ya, saya kemas dulu." senggol penjualan paruh baya itu.


"ini uangnya ya Bu." ucap May memberikan uang pas pada Ibu penjual. "Sudah kan, ayo kita pergi." sambungnya pada I'am dan melangkah segera meninggalkannya.


'Aku pikir dia hanya memilih satu pakaian. Kalau seperti ini terus aku bisa bangkrut.' gumam May dalam hatinya menggrutu.


"Terimakasih ya, kamu benar-benar baik padaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak bertemu denganmu. Untung saja aku tidur di depan rumahmu." I'am melemparkan senyuman.


"Iya, tapi itu tidak gratis. Kamu sudah berjanji padaku kan, kalau kamu akan membantuku di toko."


"Tenang saja. aku pasti akan merawat dan menjaga toko kamu sebaik mungkin."


"Sebenarnya Kamu tinggal di mana?" tanya May sambil berjalan pelan.


"Aku tinggal di kota Seberang yang ada di sebelah Utara."


"Wah ... Itu jauh sekali. Bagaimana caranya supaya kamu bisa pulang dengan cepat. Aku pikir kota kamu itu tidak terlalu jauh dari sini. Mungkin dalam beberapa hari aku bisa memberi kamu uang untuk pulang."


"Tenang saja. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Aku sudah betah tinggal di sini. Jadi aku tidak mau buru-buru pulang. Awalnya tempat ini memang membosankan. Tapi, setelah jalan-jalan malam ini, aku sudah sedikit paham dengan tempatnya. Jadi aku suka tinggal di sini."


"Hah ..." May sedikit terkejut dan menghentikan langkahnya. "Yang benar saja." sambungnya pelan menundukan kepalanya pasrah.


"Kenapa kamu berhenti. Apa kamu lelah?"

__ADS_1


"Jika kamu sudah betah tinggal di kota ini. Itu artinya, kamu akan lama tinggal di tokoku."


"Tentu saja." ucap I'am sama sekali tidak tahu maksud perkataan May.


"Hah ..." May kembali menundukan kepalanya pasrah.


"Kamu benar-benar lelahnya. Yasudah, kalau begitu aku akan menggendongmu." tanya I'am menatap May wajahnya penuh kepolosan.


Segera I'am meraih kedua tangan May dan melingkari lehernya.


"Hey, apa yang kamu lakukan. Cepat turunkan aku." May sedikit berontak di atas punggung I'am yang tinggi besar.


"Sudah tenanglah. Aku tidak akan macam-macam. Anggap saja gendongan ini adalah ucapan terima kasihku padamu." ucap I'am dan mulai melangkahkan kakinya.


"Kamu yakin akan menggendongku sampai rumah. Nanti kamu yang akan kelelahan."


"Aku ini pria yang tangguh. Mana mungkin aku lelah, hanya menggendong tubuhmu yang kecil.


Mulai sekarang jika kamu lelah. Kakiku siap untuk menggantikan kakimu. jadi kamu jangan lagi mengatakan, kalau aku ini selalu merepotkan kamu, ya."


"Hem, enak saja kamu bicara. Jika kamu lebih banyak merepotkan aku dari pada membantu, maka aku akan tetap mengatakan kalau kamu itu merepotkan."


"Kita lihat saja nanti. Seiring waktu, kamu pasti senang dengan keberadaanku."


"Aku ini suka berkelahi. Selain Papaku, aku tidak takut dengan siapapun. Keberanianku, akan membuat kamu merasa tenang dan aman. Kamu akan bisa hidup dengan bebas."


"Aku tidak pernah punya musuh. Tanpa keberanianmu, aku pun bisa hidup dengan bebas. Jadi kamu tidak usah terlalu bangga dengan sifat burukmu itu."


"Aku sama sekali tidak suka dengan sifatmu itu. Jika kamu ingin tinggal lama di tokoku. Aku minta kamu bisa merubahnya." sambung May berusaha melembutkan hati I'am.


Sejenak I'am memutarkan bola matanya, mencoba mencerna perkataan May tentang sifatnya.


"Apa iya sifatku buruk? bisa jadi juga sih. Karena kalau tidak buruk, Papaku tidak akan mungkin selalu marah padaku. Tapi kenapa mama tidak pernah marah." ucap I'am pelan, seakan tak sadar kalau May berada di punggungnya.


"Ha-ha-ha." May tertawa geli memperhatikan I'am sedang bicara sendiri.


"Kamu ini, benar-benar sangat naif ya, jadi pria. Kamu tidak perlu mempertimbangkannya. Lakukan saja apa yang aku katakan. Aku mengajarimu untuk menjadi baik, percayalah. Aku yakin, seorang Papa tidak akan pernah marah pada anaknya jika anaknya menjadi orang yang baik ."


"Sebenarnya, aku tidak pernah membuat masalah. Hanya saja, orang-orang selalu memancing amarahku. Aku tidak bisa menahan, jika ada yang menantang."


"Justru itu, sekarang kamu harus bisa menahannya. biarkan saja jika ada yang menantang. Kamu tidak perlu mempedulikannya."

__ADS_1


"Tidak mudah bagiku untuk melakukan apa yang kamu katakan. Aku ini seorang pria, aku tidak mau di pandang sebagai pecundang."


"Kamu ini benar-benar seperti manusia tak berkepala ya. Kenapa susah sekali bicara denganmu. Kalau begitu, terserah saja. tidak ada untungnya juga aku perduli denganmu. Yang ada hanya membuat kesal saja. Hah ..." ucap May sambil menghela nafasnya.


Tak mau membuat May kesal lagi I'am mencoba mengikuti perkataan May.


"Yasudah, aku akan coba melakukannya. Aku tidak akan berkelahi lagi. Apa kamu puas." ucap I'am sedikit ketus.


"Oya, apa kamu yakin. Jika nanti aku melihat kamu berkelahi, kamu akan aku hukum." ucap May menggoda I'am.


"Apa-apaan kamu! Kamu itu bukan orang tuaku. Kamu tidak pantas menghukum aku."


"Bukannya tadi kamu bilang, kalau aku ini ibu angkatmu. Jadi kamu harus menuruti apa kataku."


"Kalau begitu aku tidak mau kamu menjadi ibu angkatku."


"Yasudah, aku juga tidak mau, punya anak angkat seperti kamu."


Yasudah, Kalau begitu, kamu jangan mencoba mengatur hidupku."


"Tapi tetap saja kamu tidak boleh berkelahi lagi. Atau aku akan melemparmu dari tokoku, apa kau mengerti?" ucap May ketus, mulai kesal.


Hah ... I'am membuang nafasnya panjang sambil menundukkan kepalanya, sejenak dia menghentikan langkahnya, tak tahan mendengar perkataan May.


"Kenapa kau berhenti! ayo cepat jalan lagi!" ucap May judes.


"Iya baiklah, kenapa kamu begitu cerewet jadi wanita. Sepertinya kamu juga harus merubah sikap. Jika tidak, pria yang akan menjadi pendampingmu, hidupnya pasti akan sangat menderita."


"Kamu ini. Pandai sekali kalau bicara." Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi. ucap May, berusaha mengalah.


"Apa kamu tidak lelah, dari tadi menggendongku?" sambung May.


'Sebenarnya aku lelah. Karena tubuhmu ini semakin lama semakin berat di punggungku. Tapi tidak mungkin aku mengatakannya. Kau pasti akan menganggap aku pecundang, yang cuma banyak bicara.' gumam I'am dalam hati menutupi gengsinya.


"Tidak, Kamu tenang saja. Nanti jika aku lelah, aku akan melepaskanmu tanpa memberi tahumu." ucap I'am menggoda May.


"Hoh ... coba saja kalau berani!"


"He-he-he. Aku hanya bercanda, kamu itu sensitif sekali, ya."


Sesaat May memperhatikan wajah I'am dari atas punggungnya. Perlahan bibirnya menyiratkan senyuman manis terbawa dalam lamunan.

__ADS_1


'Sebenarnya, kamu ini pria yang sangat polos. Meskipun sangat menyebalkan, tapi aku mulai senang dengan kehadiranmu. Sikapmu yang bisa berubah dalam sekejap, terlihat sangat lucu di mataku.' lirihnya dalam hati.


Setelah lumayan lama berjalan sambil menggendong May di punggungnya. Akhirnya langkah I'am sampai juga di depan rumah May.


__ADS_2