Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.19


__ADS_3

"Hah!" I'am langsung terkejut Mendengar perkataan David. Dia baru sadar kalau David adalah pelayan restoran yang pernah di pukulnya.


"Mungkin kamu salah lihat. Kita belum pernah bertemu sebelumnya." ucap I'am berusaha menutupi masa lalunya pada David.


"Sudahlah, aku mau mencari kartu aku lagi." sambung I'am segera melangkahkan kakinya berjalan menuju tempat sampah.


"Tunggu." David meraih tangan I'am berusaha menahan langkahnya. "Aku masih sangat ingat dengan wajahmu. Apa lagi, dengan kejadian malam itu. Kamu jangan pura-pura melupakannya." sambung David tegas.


"Lepaskan tanganmu!" ucap I'am sambil menghentakkan tangannya kuat, melepaskan genggaman David.


"Hey! kau ini kenapa? dia kan, bicara baik-baik denganmu. Kenapa kau begitu kasar." senggol May keras pada I'am, sesaat I'am sedang membuang pandangannya ke sisi kosong.


"Kau tidak usah ikut campur! memangnya, kau tau masalahnya!" bentak I'am, merasa sangat terpojok.


David tidak terima dengan perlakuan I'am yang kasar terhadap May. Spontan tangannya bergerak mendorong badan I'am keras.


"Berani sekali kau bicara kasar padanya." ucap David keras saat mendorong badan I'am.


Sentuhan keras dari tangan David, memancing amarah I'am meledak seperti api yang bergejolak sangat mengerikan. Tak mau banyak bicara lagi.


"Bugh ...!"


Sebuah tinjuan sangat keras dari tangan I'am mendarat pada wajah mulus David. Pukulan keras itu membuat sebelah ujung bibir David terluka.


tak puas hanya dengan satu pukulan, I'am berusaha mencengkram kera baju David dengan satu tangannya, dan ingin memukul wajah David lagi.


Sementara David bukan pria culun ataupun pecundang yang hanya diam jika di sakiti. Ia berusaha untuk melawan I'am yang badannya sedikit lebih besar darinya.


keduanya pun mulai saling memukul dan berusaha menangkis serangan satu sama lain.


May sangat panik dan juga takut, ketika melihat pertunjukan sudah mulai di depannya.


"Aku mohon, hentikan ...!" teriak May ketakutan.


Keduanya sudah seperti dirasuki amarah. Mereka tak ingat lagi kalau ada May yang sedari tadi sudah sangat panik dengan pertengkaran mereka.


Keduanya terus saling memukul. Namun, tentu saja I'am yang lebih unggul. karena dia lebih cepat dan lebih terlatih dalam berkelahi.


Pukulan-pukulan I'am membuat David terjatuh bangun. Tapi David tidak mau mengalah. Sesekali dia membalas pukulan I'am ketika mendapatkan cela.


Tak tahan lagi May melihatnya, tanpa berpikir panjang, dia memberanikan diri untuk menghentikan pertengkarannya.

__ADS_1


Ketika I'am mencengkram leher David dengan satu tangannya, yang sedang terbaring lemas di atas rerumputan.


Cepat May, menghampiri I'am, dan berusaha meraih tangan I'am erat yang ingin di lepaskan pada wajah David.


"Sudah kubilang, hentikan, I'am ...!" teriak May ketika menahan tangan I'am.


Tak sadar I'am menghentakkan tangannya keras, berusaha melepaskan genggaman May dari tangannya.


Hentakan keras dari I'am membuat May terjatuh. "Auh ...!" ucap May kesakitan.


"May." cepat I'am segera menghampiri may, merasa bersalah. "Maafkan aku, ya. Aku tidak sengaja melakukannya." sambung I'am, sambil membantu May berdiri. Perlahan amarah I'am meredam.


Sesaat May hanya membuang nafasnya cepat sambil menatap I'am sangat kesal.


David sangat tidak terima dengan perlakuan I'am barusan pada May.


"Berani sekali kau menyakitinya." ucap David segera bangkit dan cepat dia menarik I'am dari hadapan May.


"Bugh!"


tinjuan David mendarat pada wajah tampan I'am.


tinjuan David membuat amarah I'am kembali bergejolak. Segera I'am ingin membalasnya. Namun May, lebih cepat berdiri di tengah antara David dan I'am sambil membentangkan kedua tangannya.


"Dia sudah bersikap kasar padaku! aku tidak bisa terima!"


"Dia sama sekali tidak ada menyakitimu! Hanya kau saja yang terlalu sensitif!" bentak May sambil memukul dada I'am, merasa sangat geram.


"Kau bilang dia tidak menyakiti, jelas-jelas dia mendorongku tadi."


"Kenapa kau masih saja menyimpan sifat burukmu itu! dia kan, hanya mendorongmu, kenapa kau langsung memukulnya!"


"Kenapa kau terus membelanya! Apa hanya aku saja yang selalu salah di matamu!"


"Berhentilah bicara kasar pada May." senggol David ikut bicara.


"Diam kau ...!" bentak I'am sangat keras pada David.


"Diamlah David, kamu tidak usah ikut bicara." ucap May sesaat menolehkan tatapannya ke belakang pada David.


I'am sudah merasa lelah dengan pertengkaran ini. Ia berusaha untuk mengalah pada May.

__ADS_1


"Salahkan saja aku terus. Dari awal kamu memang tidak pernah suka padaku. Menurutmu, aku ini sangat merepotkan. Kamu sangat ingin aku pergi dari hidupmu, kan. Sekarang juga, aku akan menghilang dari hadapanmu." ucap I'am lirih. Tak sanggup lagi menahan rasa sesak di dadanya karena sikap May, terus menyudutkannya.


Segera I'am melepaskan sarung tangan yang sedari tadi membungkus telapak tangannya, dan membantingnya di hadapan May sambil menggretakkan giginya menahan geram.


"Aku tidak menyalahkanmu. Kenapa kau tidak bisa mengerti ucapanku." ucap May bibirnya sedikit gemetar.


Tak mau membuang waktu lagi, cepat dia melangkahkan kakinya pergi dari hadapan May. Cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya dan sedikit memar di sebelah Pipinya, membuat Wajahnya terlihat sangat kacau.


"Hey ... Kamu mau kemana?" ucap May sendu, satu tangannya bergerak ingin meraih I'am, seakan ingin menahan langkah kaki I'am yang berjalan pergi dari hadapannya.


Hatinya yang sudah mulai menyukai I'am, Perlahan memaksa cairan bening menghiasi bola matanya, ketika menatap lekat tubuh I'am menjauh dari pandangannya.


May terus menatap punggung Iam yang semakin menjauh, perlahan satu persatu buliran air matanya pun berlomba untuk menampilkan kehadirannya di pipi mulus May.


Seperti ada rasa tak terima atas kepergian Iam yang selama ini telah menganggu ketenangan hidupnya.


Saat punggung badan Iam benar-benar tak lagi terlihat oleh pandangan matanya. May berlari beberapa langkah mengejar I'am, dan berhenti di bibir jalan depan rumahnya.


"I'am ...!" teriak May lantang, sambil membuang pandangannya, mencoba mencari keberadaan I'am. Namun apa yang ia cari sudah tidak ada.


I'am telah pergi, meninggalkan jejak di dalam hati May. Perlahan tangisan May mulai pecah, tak sanggup lagi May menahan kesedihannya.


Kekuatan dari kaki May perlahan menghilang, May terduduk lemas di bibir jalan depan rumahnya. Menarik kedua lutut kakinya dan membenamkan wajahnya diatas dengkulnya. Memecahkan tangisannya yang semakin dalam.


Bagaimana hari-hari mereka terlewati selama ini, banyak sekali pertengkaran yang terjadi setiap hari. Namun kenapa saat ini, hati May merasa hampa saat harus membiarkan I'am pergi dari hadapannya.


Tanpa May sadari, kehadiran Iam bukan hanya untuk membuat ia geram dan kesal. Namun juga mencairkan kekakuan dalam hidupnya selama ini.


Badan May semakin bergetar karena tangisannya, saat memori kenangan mereka terputar dalam otaknya. May mengangkat kepalanya dan menghirup nafasnya yang terasa menyesak di dada.


"Iam, bodoh." ucap may kesal.


"Iam bodoh!" teriak may semakin kesal. Berharap makian yang ia lontarkan mampu mengambil sedikit beban hatinya yang terus menyengal pernafasannya.


"Dasar bodoh, bukan begitu maksudku." ucap May lirih.


"Kenapa kamu tak pernah mengerti ucapan aku, I'am. Aku hanya ingin menenangkan suasana. Bukan menyalahkanmu." May kembali memecahkan tangisannya yang sedari tadi tak mau berhenti.


May kembali membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya, Dan memeluk kedua lututnya dengan erat, menangis tergugu.


Sebuah langkah kaki berjalan gontai berhenti tepat di sebelah May. Mata lelaki itu menatap May dengan sedih. Berjongkok di depan May sedang terduduk, menangisi kepergian I'am.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu pahit menangisi kepergiannya, May? Sebenarnya, siapa pria itu?" tanya David lirih.


__ADS_2