
"Sudahlah, kita tidak usah membahasnya." ucap May sambil menghapus buliran air yang membasahi pipinya.
"Sekarang aku akan membantu membersihkan wajahmu. Ayo." sambung May bangkit dan berjalan menuju rumahnya.
Tanpa membantah, David pun bangkit dan mengikuti langkah May.
"Sebentar ya, Dav. Aku mau mengambil air dan peralatan obat dulu."
Segera May memasuki rumahnya mengambil sedikit air dalam mangkuk, handuk kecil, serta kotak obat, dan kembali menghampiri David sedang menunggunya di teras.
Lalu May membuang bokongnya di kursi samping David.
"Sekarang palingkan wajahmu ke hadapanku. Agar aku bisa membersihkannya."
"Baiklah." segera David melempar wajahnya ke hadapan May.
"Wajahmu sangat hancur. banyak sekali darahnya." ucap May pelan sambil menghapus darah yang berserakkan di wajah David.
"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Mungkin, besok juga sudah pulih." ucap David, sesaat tersenyum sendu menatap May, wajah May masih terlihat sedih.
"Sebenarnya apa masalah kamu dengannya? kenapa dia seperti tidak suka mendengar perkataan kamu, Dav?"
"Dia itu pria yang kabur dari restoran. Setelah memesan banyak makanan dan menghabiskannya. Aku hanya mencoba mengingatkannya saja, tadi. Mungkin dia merasa malu dan terpojok di depan kamu. Karena itu dia marah untuk di jadikan alasan."
"Oh ... Jadi dia orangnya. Dia itu memang sangat nakal. Tapi kamu mau kan, memaafkannya. Jangan bertengkar lagi, kalau kamu bertemu dengannya, ya." ucap May Sesekali memeras handuk kecil yang di celupkan pada mangkuk air, dan berulang-ulang membersihkan darah di wajah David.
"Iya, baiklah. Tapi kamu belum menjawab pertanyaan aku tadi. Sebenarnya dia itu siapa, May?"
"Sebelumnya juga aku tidak mengenalnya. Dia tersesat di kota ini, Dav. Aku hanya membantunya saja."
"Apa karena sibuk membantunya, kamu jadi lupa dengan kuliahmu?"
"Hem, tidak juga."
"Sudah lama, dia bersama kamu?"
"lumayan juga sih ... Sudah ada beberapa hari ini."
"Jika menurutmu, dia sangat nakal. Lalu kenapa kamu tahan, membiarkan dia terus bersama kamu?"
__ADS_1
"Hem ..." sejenak May menghela nafasnya dan membuang pandangannya ke depan. David yang terus menerus melemparkan pertanyaan tentang I'am, membawa jiwa May sejenak berada dalam lamunannya.
Pandangannya menjadi kosong.
"Kalau itu, aku tidak tahu, Dav. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan sikapnya, dan aku sudah bisa memahaminya. Entah kenapa, jika aku sekarang tanpa dia. Aku merasa ada yang kosong dalam hatiku. Aku merasa rindu, jika dia jauh dariku." ucap May lirih. Tak sadar May keceplosan di depan David.
Sesaat David menelan salivanya ketika mendengar curahan hati May. Dia sedikit kaget. Degup jantungnya bertabuh sedikit cepat. Sungguh David menyadari, ada cinta yang bersemi dalam hati May. Namun cinta itu bukan untuknya. Seakan David tidak bisa menerimanya, meskipun itu masih dugaannya saja.
"Apa kamu mencintainya, May?" lirih David sendu.
"Hem." May sedikit kaget, Sejenak May melemparkan pandangannya ke sisi kosong sambil mengelus dahinya.
'Duh ... Apa yang sudah aku katakan. Dasar bodoh. Bagaimana jika dia tersinggung.' gumam May dalam hati, merasa bersalah dengan ucapannya.
"Kenapa kamu diam, May. Jawablah, kamu tidak perlu menutupinya."
"Kamu itu bicara apa, David. Sudahlah, lebih baik kamu berhenti bertanya." ucap May sedikit panik, sambil membereskan peralatan obat di sampingnya.
Pertanyaan David membuat May merasa terjebak. Rasanya ingin saja cepat-cepat dia melarikan diri dari pertanyaan itu.
Setelah selesai membereskan peralatan obat, cepat May bangkit dari duduknya.
"Aku sudah membersihkan wajahmu. Mungkin kamu bisa pulang dan beristirahat sekarang. Maaf, bukannya aku mengusir kamu, Dav. Tapi saat ini, aku sedang ingin sendiri." sambung may, mencari alasan.
"kamu harus menjawabnya dulu. Jika memang kamu mencintainya, lalu bagaimana dengan perasaanku?" ucap David sedikit menggebu. Seakan David tak siap jika I'am merebut May darinya.
"Sudah aku bilang, berhentilah bertanya, Dav. Aku tidak bisa menjawabnya. Saat ini, pikiran aku benar-benar sangat kacau. Aku mohon pergilah, tinggalkan aku sendiri, Dav."
Tak tega melihat wajah May begitu melas. Akhirnya, David pun berusaha mengalah.
"Hah." sesaat David menarik nafasnya dalam. "Baiklah, Aku akan pergi. Semoga kamu bisa cepat tenang, ya."
"Iya, hati-hati, ya." ucap May sedikit tersenyum meskipun terpaksa.
Tak mau terlalu lama mengganggu ketenangan May. David segera mengangkat kakinya berjalan menuju motornya dan segera melajukannya pergi dari rumah May.
Tak lama David pergi, May berjalan ke samping rumah untuk membereskan sampah yang sudah di tumpahkan tadi sambil mencari kartu I'am kembali.
Meskipun bermain bungkus bekas makanan dengan I'am baru saja terjadi. Tapi baginya, itu sudah menjadi kenangan manis untuknya.
__ADS_1
Ketika May meraih satu persatu sampah dan meletakannya pada tempatnya. May mencoba mengingat kembali gelak tawa yang baru beberapa jam dia rangkai bersama I'am dalam pikirannya.
___
(( "Ha-ha-ha. Bagaimana? bau tidak?" tanya I'am Sambil tertawa."
"Mainan kamu itu tidak lucu. Ini, coba kamu cium sendiri, bau tidak?
"Ha-ha-ha. Kamu sendiri tidak mau menciumnya. Tapi kamu menyuruh orang menciumnya. Sudah, cepatlah cium ini."
"Sudah, hentikan May ... Ha-ha-ha"
"Tidak mau. Aku tidak akan melepaskanmu, sampai aku berhasil menempelkan bungkusan ini di hidungmu. Ha-ha-ha."
"Kamu itu jorok sekali, ya. Coba saja kalau bisa. Aku tidak akan mengalah darimu. Ha-ha-ha."
"Hoho ... Jadi kamu menantang aku? baiklah, aku akan membuatmu tidak nafsu makan.
"Ayo cepat, I'am ... Cium bungkusan ini. Ha-ha-ha."
"Aku tidak mau. Kamu saja yang menciumnya. Ha-ha-ha." ))
___
Perlahan Bibir May tersenyum sendu, Setelah Mengingat kembali kenangan manis itu. Sudut matanya Yang berwarna putih mulai memerah Saat cairan bening berusaha menguasai bola matanya.
"Aku harap, kamu tidak benar-benar pergi, I'am. Cepatlah kembali, karena aku menunggumu." lirih May lemas di atas kesedihannya.
Nafas May semakin berat, tak sanggup menahan rasa sesaknya di dada. May menundukan kepalanya dalam, dan kembali memecahkan tangisannya.
***
May yang mulai menyadari perasaannya, saat ini berusaha untuk memikirkan I'am.
Sementara I'am, belum bisa menyadari, malah perasaannya semakin tertutup. Setelah pertengkaran serius barusan. Sepanjang perjalanannya tanpa arah, I'am tak berhenti menggrutu.
"Dasar, wanita galak. Selalu saja menyalahkan aku. Dia pikir aku tidak bisa hidup tanpanya di kota ini. Sehingga, seenaknya saja dia memarahi aku terus. Jelas-jelas dia melihatnya tadi, siapa yang memulainya terlebih dahulu. Tapi tetap saja aku yang salah di matanya. Sekarang dia tidak akan bisa menyalahkan aku lagi. Karena aku tidak akan kembali lagi padanya." ucap I'am menggrutu masih merasa geram.
Tengah berjalan tanpa tujuan, I'am Melihat air memancur di taman tengah kota. Dia mengarahkan langkahnya menghampiri air itu.
__ADS_1
Lalu dia membasuh wajahnya, sekedar membersihkan luka yang sedari tadi merusak penampilannya. Sesaat dia mulai tenang ketika air jernih yang memancur itu memberikannya kesejukan. Perlahan rasa kesalnya mulai menghilang, tapi dia malah kebingungan. Kemana dia harus pergi untuk mencari tempat tinggal sementara. Di tambah lagi perutnya yang sudah mulai lapar, dia menjadi tambah kebingungan.
Sesaat dia membuang bokongnya di salah satu kursi yang ada di taman, dan berusaha untuk berpikir.