Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.14


__ADS_3

Panjang lebar mereka terus mengobrol duduk di depan toko saling melemparkan senyuman manis, sambil diiringi dengan seruan kendaraan yang sesekali lewat depan mereka yang berjarak beberapa meter saja.


Hingga suasana malam terus semakin larut. Mata May kini merasa lelah, tak sanggup lagi dia menahan. Perlahan matanya tertutup dan kepalanya terjatuh di atas lengan I'am yang berotot besar itu hingga terlelap tak sadar diri.


Si tampan I'am yang memiliki hidung mancung itu sedikit kaget, ketika kepala May menempel di lengannya.


"Ternyata kamu sembarangan juga kalau tidur." ucap I'am sambil tertawa getir, merasa lucu dan menggelengkan kepalanya sesaat.


"Di luar banyak angin, lebih baik aku bawa saja si kurcaci ini ke dalam." sambungnya, perlahan Ia berusaha mengangkat tubuh kecil ibu mudanya dan merebahkannya di kursi panjang.


Sementara si tampan I'am yang memiliki rambut lurus, sangat tebal dan sedikit panjang berwarna coklat itu duduk di lantai melipatkan kedua tangannya di bibir kursi panjang sambil menatap lekat wajah May yang manis meskipun sedang tidur.


"Jika di perhatikan, wajahmu itu sangat manis May. Kamu sama sekali tidak terlihat galak, jika sedang tidur seperti ini." lirihnya lembut. Sesekali dia menegakkan tubuhnya dan menolehkan pandangannya ke luar toko. Merasa bingung tidak tahu harus melakukan apa. Ingin tidur, namun matanya tak ingin sedikitpun melepaskan bayangan raut wajah milik May yang terlukis di bola matanya.


semilir angin yang menembus masuk ke dalam toko dari celah-celah lubang kecil berusaha menyentuh tubuh May. Sehingga membuat tubuh May sedikit bergetar merasakan kedinginan dalam tidurnya.


Si tampan I'am yang polos memiliki tubuh Tinggi dan juga kekar. Meskipun dia tahu apa itu cinta, namun dia belum pernah merasakan seperti apa itu cinta. Karena dia sama sekali belum pernah jatuh cinta pada satu wanita pun.


Karena itu, dia belum bisa menyadari bahwa hatinya yang sedang di balut kebahagiaan itu, adalah benih cinta May yang perlahan bersemi di hatinya. Yang dia tahu, dia hanya bahagia. Namun dia tidak tahu, dari mana datangnya kebahagiaan itu.


Melihat tubuh May sedikit bergetar, hatinya tersentak ia sedikit Kawatir. Tak ingin terjadi sesuatu pada ibu mudanya, Segera dia bangkit dan berusaha mencari kain yang mungkin bisa memberikan kehangatan pada tubuh May. Setiap sudut toko sudah di jelajahi, tapi dia tak menemukan sehelai kain pun. Tak mau terlalu banyak berpikir, cepat dia melepaskan bajunya dan membentangkannya di atas tubuh May sekedar untuk mengurangi rasa dinginnya.


Sejenak ia perhatikan tubuh May tak bergetar lagi. Kembali dia membuang bokongnya di samping kursi panjang yang saat ini menjadi tempat tidur May, untuk melanjutkan pemandangan indah dari manisnya wajah milik May.


tatapannya yang lekat menatap wajah May membuat bibirnya tak sadar terus-menerus tersenyum simpul. Hingga langit yang gelap perlahan mencerah kini menemani matanya terlelap tidur.


Pagi.


Dania yang biasa berdiri setiap jam 8 pagi di depan toko sambil bernyanyi santai sekedar menghibur diri, menunggu May datang mengantar kunci. Kali ini dia kaget, melihat May sedang tertidur di atas kursi panjang dalam toko, dan I'am tertidur di bawah kepala May bersandar di permukaan kursi, menumpuhkan kepalanya di atas kedua telapak tangannya tanpa mengenakan baju.


"May!" teriak Dania sambil mengetuk daun pintu kaca toko. "May ...! cepat bangun. Apa yang sudah kamu lakukan May!" sambungnya teriak memanggil May.

__ADS_1


May tersadar dari tidurnya dan membuka matanya saat mendengar suara Dania dari balik pintu. perlahan dia membuang bokongnya duduk di atas kursi yang baru saja menjadi alas tidurnya.


May belum menyadari kalau di bawahnya ada I'am sedang tertidur tanpa baju.


"Kamu sudah datang Dan, cepat sekali. Memangnya ini sudah jam berapa?" tanya May malas, pikirannya masih mengambang.


"Cepat buka pintunya May." ucap Dania sedikit panik.


"Ia baiklah, tunggu sebentar." ucap May segera bangkit dan melangkahkan kakinya berjalan gontai. Wajahnya masih terlihat sangat mengantuk.


Setelah May membuka pintunya, Dania menepukan lembut kedua pipi May berusaha menyadarkannya dari pikirannya yang masih mengambang.


"May, sadarlah. Apa yang sudah kamu lakukan semalaman berdua dengannya. kamu sudah tidak waras, ya."


"Hem, dia siapa?"


"Hem ... Kamu masih belum sadar juga." cepat Dania membalikan badan May, menunjukan posisi I'am yang sedang menikmati tidurnya.


Cepat ia melangkahkan kakinya menghampiri I'am dan berusaha membangunkan I'am dari tidurnya.


"Hei, cepat bangun ...!" ucap May sambil menarik meronta-ronta berusaha membangunkan I'am. perasaannya dalam hatinya sudah bercampur tidak karuan. Marah, kesal, takut, malu, dan lain-lain semuanya ada di dalamnya.


"Ada apa? kenapa kau seperti orang kerasukan. apa kau tidak bisa membangunkan orang tidur dengan lembut." ucap I'am malas sambil membangunkan bokongnya dari lantai dan kembali merebahkan badannya di kursi panjang melanjutkan tidurnya.


"Cepat katakan sekarang, apa yang sudah kau lakukan padaku?" bentak May kasar, nafasnya terengah-engah.


rasa ngantuk yang masih berat membuat I'am cepat kembali tertidur pulas ketika kepalanya menempel busa kursi itu. Ia tak mampu mendengar suara May meskipun berteriak di dekatnya.


"I'am ... Cepat katakan! apa kau tidak mendengarkan aku! kau benar-benar membuat kesabaranku habis." Cepat May melangkahkan kakinya pergi ke kamar mandi mengambil air.


"Lihat saja, air ini pasti akan menyadarkanmu." ucap May wajahnya terlihat sangat sengit.

__ADS_1


cepat dia kembali menghampiri I'am dan membasuh semua air yang di bawahnya pada kepala I'am.


"Apa yang kamu lakukan May." ucap Dania kaget melihat May menyiram kepala I'am.


"Sudahlah, kamu diam saja. ini urusanku dengannya."


Spontan I'am terbangun dari tidurnya dan membuang bokongnya duduk di atas kursi yang menjadi alas tidurnya. Air yang di tumpahkan di kepalanya sekejap langsung menyadarkannya.


"Kau sudah gila ya. Aku kan, sedang tidur, kenapa kau bisa marah padaku. Kalau begitu katakan sekarang, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak pernah marah lagi padaku! jika tidur saja masih bisa membuatmu marah, aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan." bentak I'am melampiaskan kekesalannya.


"Panjang sekali kau bicara. Apa kau sudah sadar? kalau begitu cepat jelaskan, apa yang sudah kau lakukan padaku. Cepat jawab!" balas May membentak, sudah tak sanggup menahan amarahnya.


"Hah." I'am heran matanya membulat sempurna menatap kearah May yang berdiri di hadapannya.


"Apa yang sudah aku lakukan." sambungnya pelan merasa bodoh, sesaat berusaha mencerna perkataan May.


Namun ia sama sekali tidak mengerti.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan, aku benar-benar tidak mengerti. bukan kau lihat sendiri, dari tadi aku tidur." ucap I'am kembali kesal.


"Kau tidak usah pura-pura bodoh, Kenapa kau tidur di sampingku dan tidak mengenakan baju. Apa saja yang sudah kau lakukan padaku saat aku tertidur!" tanya May kasar, wajahnya sedari tadi sudah terlihat sangat paranoid.


"Hem." sesaat I'am memperhatikan badannya. Lalu dia melemparkan senyuman ke arah May.


"He-he-he. jadi ini masalahnya. Tenanglah kamu tidak perlu marah, Aku tidak melakukan apapun."


"Dalam situasi seperti ini, kau masih bisa tertawa, ya. Aku tidak sedang bercanda. Cepat jawab dengan jujur! Jangan membuat kesabaranku habis!"


"Sudahlah, cepat kamu jawab saja. biar masalahnya cepat selesai." senggol Dania ikut bicara.


"Aku kan sudah mengatakannya. Aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa tidak percaya." ucap I'am membela diri.

__ADS_1


"Apa kau yakin dengan ucapannyamu?" tanya May ketus. Menatap I'am tajam sedang duduk di hadapannya.


__ADS_2