
"May? siapa dia? aku tidak mengenalnya."
"Hah ..." Dania heran. "Jadi kamu belum mengenalnya. Aku beritahu ya, May itu gadis yang sedang duduk di dalam toko." sambungnya menunjukkan jarinya kearah May berada dalam toko.
I'am melemparkan pandangannya kearah May, menaiki kedua alisnya.
"Jadi namanya May. Sesuai dengan orangnya, pendek."
"Hey ... Kamu jangan Bicara seperti itu. jika dia dengar, dia pasti akan marah."
"Kenapa harus marah. Memang kenyataannya, kalau dia itu pendek."
"Pantas saja May selalu kesal padamu. Ternyata kamu ini keras kepala."
"Aku bicara apa adanya. Kenapa kamu bilang aku keras kepala. Keras kepala itu orang yang tidak mau mengalah." ucap I'am berusaha membela dirinya.
'Ternyata benar apa yang dikatakan May. Dia ini banyak bicara dan juga kasar.' gumam Dania dalam hati mengarahkan bola matanya keatas menatap wajah I'am yang jauh lebih tinggi darinya.
' Tapi meskipun begitu, dia tetap terlihat lucu dan tampan.' sambungnya dalam hati sambil tersenyum.
"Iya, iya, kamu benar." ucap Dania mengalah.
"Memang aku benar. Jika aku salah, aku pasti akan diam." sahut I'am sambil berusaha kembali merayu orang-orang yang berjalan melewatinya, untuk membeli bunga di toko May. Namun usahanya masih sia-sia. Ia belum berhasil mendapatkan satu pelanggan pun.
Sementara May terus memperhatikan I'am dari dalam toko. Tak tega melihat I'am, Akhirnya May merasa kasihan juga padanya. Ia bangkit dari duduknya, melangkah keluar toko berjalan mendekati I'am.
"Tidak perlu kamu menyuruh orang membeli bungaku. Jika memang mereka ingin membeli, tidak perlu di rayu, mereka pasti akan datang sendiri. Ini ambillah.' ucap May memberikan sedikit uang pada I'am.
"He-he-he. Terimakasih ,ya." ucap I'am sambil meraih uang dari tangan May. "Kalau begitu aku pergi dulu." sambungnya, berlalu melangkahkan kakinya.
Baru beberapa langkah, I'am berhenti dan membalikan pandangan ke arah May sambil menyunggingkan kedua sudut bibirnya lebar.
"Hehe." May tertawa menyindir. "Tidak usah sok manis. Pergilah, dan jangan kembali lagi ya!" sambungnya.
"Aku benar-benar heran melihat tingkah nya. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya. Hidupnya seperti tidak ada beban." ucap May sambil melihat I'am yang perlahan menjauh dari pandangannya.
***
I'am. Kehidupannya yang mewah dan tidak pernah kekurangan, selalu membuat dia bertingkah sesuka hatinya. Hobinya yang berkelahi, membuat dirinya mudah terpancing emosi. Dia akan melawan siapa saja jika ada yang menantang dan berusaha melukainya.
Saat dia tengah berjalan menikmati kebebasan hidupnya. Tiba-tiba ada dua preman mencoba menahan langkahnya. Mencengkram kera bajunya dari belakang dan menyeretnya ke sisi kosong yang sepi.
__ADS_1
"Berikan semua yang kamu punya! Atau aku patahkan kakimu." ucap Salah satu preman itu dengan mencengkram salah satu kera baju I'am.
I'am menundukjan pandangannya, dan menggretakkan rahangnya. Dengan tenang dia menanggapi perkataan preman itu. Tanpa basa-basi, "Bugh" Secepat kilat tinjuan keras dari tangan I'am menempel pada salah satu wajah preman itu sampai terjatuh. Belum lagi lawannya sempat menyerang, I'am langsung menendang preman satunya lagi. Ia melayangkan beberapa kali tinjuan pada preman yang di tendangnya.
Lalu preman yang pertama kali di tinjunya, bangkit mencoba menyerangnya dari belakang. I'am membalikan badannya dan menangkis serangan preman itu yang ingin melukainya.
"Bugh!"
Tangannya yang sangat lihai meninju, terus melayang. Membuat wajah Kedua preman itu penuh berlumuran darah. Tanpa terluka sedikitpun, I'am membuat kedua preman itu terbaring di lantai tak berdaya.
"Kau yang ingin mematahkan kakiku, kan." ucap I'am sengit pada salah satu preman itu, sambil menggretakkan giginya. "Sebelum kau mematahkan kakiku, Aku yang akan mematahkan kakimu duluan." sambungnya dan menginjak keras kaki salah satu preman itu.
"Ahh ...!!! teriak preman itu merintih kesakitan.
"Jika kau berani menantang ku lagi. Aku akan benar-benar mematahkan kakimu." ucap I'am, sejenak merapikan kera bajunya dan kembali melanjutkan langkahnya berjalan menikmati kebebasannya.
Lalu dia berhenti di sebuah cafe pinggir jalan, dengan memesan secangkir kopi untuk menemaninya bersantai.
"Aku tidak bisa terlalu lama di sini. Tapi bagaimana caranya, ya?' ucapnya sambil memutarkan bola matanya. Lalu bibirnya tersenyum saat sebuah ide masuk ke dalam pikirannya.
"Aku tau, Aku harus mencari mobil pickup itu lagi. Dengan begitu aku bisa kembali. Tapi aku tidak ingat jalannya. Kemana aku harus mencari mobil itu.? Hah ..." ucapnya, kembali lemas menundukkan kepalanya.
"Aku pergi dulu ya May. Jika dia kembali lagi, tahanlah amarahmu, dan cobalah untuk menerimanya." ucap Dania, sedang bersiap untuk berangkat ke kampus. Saat dia keluar dari toko seorang pemuda memarkirkan motornya di dekat toko May.
"Wah ... Pangeran ku." lirih Dania riang, segera menghampirinya.
"Hai ... David." sapa Dania manja sambil memainkan jemarinya.
"Hai ... Dan. Apa May ada di sini?" tanya David.
"Dia ada di dalam. Buat apa kamu mencarinya. Lebih baik, kamu mengantarku ke kampus. Mau kan?"
"Duh ... Bagaimana, ya? Bukannya aku tidak mau. Tapi lain kali saja, ya." tolak David lembut, sambil mengelus rambut belakangnya dengan satu tangannya.
"Yah ... yasudah kalau begitu. Aku pergi dulu, ya." ucap Dania sambil cemberut.
"Baiklah, hati-hati, ya."
Berlalu David turun dari motornya dan menghampiri May di dalam toko.
"Hai May." sapa David setelah memasuki toko.
__ADS_1
"Hai Dav. Bagaimana dengan pelajaran di kampus? apa banyak materi hari ini?"
"Tidak terlalu banyak. Kamu kenapa tidak masuk hari ini?" ucap David menumpuhkan kedua telapak tangannya pada meja di hadapan May.
"Aku bangun kesiangan. jadi tidak sempat ke kampus." ucap May beralasan.
"Kenapa bisa kesiangan? apa kamu tidur terlalu malam. Memangnya apa saja yang kamu kerjakan?"
"Tidak ada, Aku hanya sedikit lelah saja."
"Apa kamu lagi banyak pikiran. Sepertinya kamu itu butuh liburan. Bagaimana kalau aku temenin kamu jalan-jalan. Kita cari ketenangan di luar."
"Lain kali saja ya, Dav. Belakangan ini toko ku sangat sepi. Jika aku tutup, pemasukan aku makin berkurang nanti."
"Ayo lah May. Sudah lama kita tidak jalan bareng lagi."
"Memangnya kamu tidak kerja?"
"Kalau itu gampang. Aku bisa menghubungi teman kerjaku untuk menggantikannya dulu.
"Hem ..." May membuang nafasnya panjang. "Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi. sambung May sambil tersenyum.
Saat May keluar dari tokonya bareng David. I'am melihat May, berjarak sedikit jauh. I'am mengernyitkan dahinya dan memperhatikan wajah pemuda yang bersama May saat ini.
"Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana, ya?" lirihnya sambil berpikir.
I'am berusaha untuk mengingatnya. Lalu matanya membulat sempurna ketika dia sudah mengetahuinya.
"Dia kan, Pelayan yang mengejarku malam itu. Kenapa dia bisa bersama wanita halus itu? Gawat jika dia melihatku, dia pasti akan menceritakan semuanya. Wanita itu pasti akan menghabisi aku." ucapnya sambil meringis takut.
"Wah ... Dia berjalan kearah sini ...!" Cepat I'am membalikan badannya, membelakangi mereka, berusaha menyembunyikan wajahnya. Perlahan motor David mendekat ke arahnya dan melewatinya.
"Hah ..." I'am menghela nafasnya berat merasa lega. "Untung saja mereka tidak melihatku. Jika tidak, habislah aku." ucapnya sambil mengelus dadanya.
I'am melanjutkan langkahnya kembali menuju toko bunga May.
"Siapa ya, pria itu? kenapa bisa pergi dengan May. Apa mungkin dia pacarnya? kalau memang iya, sial banget hidup pria itu. Punya pacar
seperti singa kelaparan. Ha-ha-ha." ucapnya tertawa geli sambil berjalan.
"Benar-benar tidak bisa kubayangkan. Ha-ha-ha." sambungnya terus-menerus tertawa geli menyindir David sepanjang langkahnya.
__ADS_1