
Sambil menghapus peluh keringat yang sedikit menghiasi dahinya, I'am menurunkan bokongnya berjongkok dan melangkah pelan di teras rumah May.
"Di mana ya, kartuku terselip." ucapnya dengan tatapan matanya liar pada setiap sisi teras dan barang-barang yang ada di sekitarnya.
Dia masih belum menemukan kartunya setelah beberapa menit mencari. Sejenak dia memutar balik ingatannya, berusaha untuk membayangkan posisi ponselnya yang berantakan saat itu.
"Seingatku, aku membantingnya disini. Tapi kenapa tidak ada ya? apa mungkin terlempar sampai keluar?" ucapnya pelan sambil berpikir.
"Lebih baik aku coba cari saja." sambungnya cepat bergerak mencari kartunya di rerumputan hijau depan teras.
Sementara May yang berada di dalam rumah, saat ini dia tidak mengetahui kalau I'am sedang berada di depan rumahnya.
May saat ini sedang berdiri tepat di depan cermin dalam kamar. Sekedar memperhatikan dirinya yang sudah berdandan rapi untuk pergi ke toko bunganya.
Namun, tiba-tiba tatapannya kosong, Ketika suasana tadi pagi melintas di pikirannya. Wajahnya sembari menyiratkan kebahagiaan di atas senyumannya yang perlahan terlukis manis di bibirnya. Tak sadar, seakan tangannya bergerak sendiri menyilang meraih lengannya dan mendekap erat tubuhnya. Merasakan hangatnya sebuah cinta yang mulai bersemayam di hatinya.
Sementara I'am, sedari tadi masih sibuk mencari kartu SIMnya.
"Hah ... I'am menghela nafasnya berat dan menundukan kepalanya berjongkok di atas rerumputan hijau pada perkarangan rumah May, merasa sudah putus asa.
Sejenak dia berdiam diri. Lalu tiba-tiba matanya membulat sempurna, sekejap menegakan kepalanya saat pikirannya menangkap sebuah jawaban.
"Mungkin May pernah melihatnya. Siapa tahu saja dia menyimpannya. Lebih baik aku tanya saja padanya." ucapnya Segera menghampiri daun pintu rumah May.
"May ... apa kamu ada di dalam." panggil I'am sambil mengetuk pintu.
"Ah." May tersentak dari kenikmatan dalam lamunannya, ketika mendengar alunan suara I'am yang memanggil namanya dari balik daun pintu rumahnya.
__ADS_1
"Bukannya itu suara I'am? untuk apa dia datang kemari?" ucapnya segera meninggalkan kamarnya menuju daun pintu depan rumahnya.
"Hey, Ibu muda ...!" teriak I'am memanggil May
"Iya, tunggu sebentar." sahut May dari dalam berjalan menghampiri I'am.
"Kenapa lama sekali ...! cepat buka pintunya ...!
May berdiri di hadapan I'am setelah membuka daun pintunya, langsung mengegas suaranya.
"Sudah aku bilang, tunggu sebentar kan. Kenapa masih berteriak! Apa kau pikir, rumahku ini di tengah hutan. Aku kan, sudah menyuruhmu untuk membantu Dania di toko. Lalu kenapa kamu datang kemari? ada urusan apa? jika kau butuh sesuatu, katakan saja pada Dania. Aku selalu meninggalkan sedikit uang di toko. kau tidak perlu." belum sempat May menyelesaikan perkataannya, cepat I'am menangkupkan salah satu telapak tangannya menutup mulut May. Karena sudah tak tahan mendengar ucapan May yang berkicau tak henti-henti seperti burung yang bernyanyi di pagi hari.
"Kau itu terlalu banyak bicara, ya. kalau kau tidak bisa berhenti, Lalu kapan giliran aku bicara? kau itu sangat serakah. Hanya bicara saja kau tidak mau bergantian. Kalau urusan uang saja kau pelit, tapi kalau soal bicara dan memarahi orang, kau itu sangat royal. jika saja ada kontes yang bertema, paling pintar memarahi orang. Aku akan langsung mendaftarkanmu. Pasti kau akan mendapatkan juara umum. " ucap I'am kesal.
Cepat May menghempas tangan I'am dari mulutnya. Sudah tak sabar ingin membalas ucapan I'am menyindirnya.
"Tidak usah mengatakan orang. Kau itu sendiri juga banyak bicara. Apa kau tidak sadar, barusan kau bicara seperti kereta api, lama sekali berhenti meskipun pedal remnya sudah di injak. Andai saja aku tahu dimana tempat membeli tiketnya, aku akan membelikannya untukmu. Agar kau bisa cepat pergi dari kota ini." balas May. sangat geram berdiri tegas sambil mendancakkan kedua tangannya di pinggang.
"Kau sendiri, kenapa bicara tentang kontes. Apa maksudnya?" tanya May ketus.
Tak mau melanjutkan pertengkaran, perlahan I'am menurunkan nada suaranya.
"Yasudah, lupakan saja. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Kartu SIM aku hilang, apa kamu ada melihatnya disini?" tanya I'am sambil menunjuk ke arah lantai.
"Aku tidak ada melihatnya. Apa hilangnya karena kamu membantingnya waktu malam itu, ya?"
"Iya. Masa kamu tidak ada melihatnya? setelah kejadian itu, kamu pernah membersihkan lantai ini tidak?"
__ADS_1
"Tentu saja aku pernah. Kau pikir aku ini wanita pemalas." ucap May kedua alisnya bertautan menatap I'am sedikit tajam.
"Kalau begitu, berarti kamu melihatnya. Saat kamu membersihkan debu di lantai ini."
Sesaat May menahan nafasnya matanya membulat tajam ketika mendengar ucapan I'am seakan menuduhnya.
"Kau pikir aku membohongimu! Kalau aku bilang tidak ada, ya tidak ada! jangan menuduhku sembarangan kau, ya!" bentak May kasar.
bentak May spontan membuat I'am sedikit kaget kedua alisnya naik ke atas, wajahnya menyeringai sedikit takut.
"yasudah, aku minta maaf. kenapa kamu selalu cepat marah kalau bicara denganku. Aku bukannya tidak percaya padamu. Tapi masa iya, kamu membersihkan tempat ini, tapi tidak melihatnya. coba kamu ingat-ingat lagi. Maaf, bukannya aku menuduhmu. Aku hanya ingin kamu bisa membantu aku." ucap I'am pelan berusaha menjaga perasaan May.
Sesaat May memutarkan bola matanya berusaha untuk mengingat.
"Aku sudah mengingatnya, tapi memang aku tidak melihatnya."
"Kalau begitu, dimana kamu membuang debu-debu itu. Aku yakin mungkin kurtunya terselip di antara debu-debu saat kamu menyapunya. makanya kamu tidak melihatnya."
"Aku membuangnya di tempat sampah, ada di samping rumah."
"Yasudah, kalau begitu ayo bantu aku mencarinya." ucap I'am cepat meraih pergelangan tangan May, dan berjalan sambil menariknya menghampiri tempat sampah.
"Uh ..." ucap I'am ketika tersengat aroma sisa-sisa makanan dan segala macam yang ada dalam tempat sampah. "bau sekali sampahnya. Memangnya ini sudah berapa tahun tidak kamu bersihkan?" tanya I'am meledek.
"Sudah tidak usah banyak bicara. Cepat cari kartumu sekarang." ucap May jutek. "Aku pergi dulu, ya." sambungnya.
"Hey, tunggu dulu, kamu mau pergi kemana? Bantu aku dulu, kalau berdua kita lebih cepat menemukannya." ucap I'am sejenak meraih tangan May berusaha menahan langkahnya.
__ADS_1
"Hah ... Kamu ini, selalu merepotkanku saja. yasudah, tunggu sebentar, ya. Aku mau mengambil masker dan sarung tangan." ucap May segera melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Ya, baiklah. Cepat ya?" Sahut I'am sesekali memperhatikan tempat sampah sambil menutup hidungnya.