
"Orange, karena lututmu bermasalah, usahakan hindari gerakan lutut yang berlebihan. Juga sebisa mungkin kau hindari musuh mengincar lututmu. Perkuat dan latih gerakan tanganmu agar lebih gesit. Ayo kau latihan yang benar!"
"Iya Pak."
Jingga sering di panggil orange, karena mereka sulit menyebut Jingga. Pak Richard adalah salah satu pelanggan restoran bu Fatimah. Di sana Jingga bertemu denga beliau.
Saat itu Jingga sedang terpuruk karena peristiwa yang buruk menimpanya. Richard melihat Jingga sedang menangis dalam keadaan yang tidak bisa di bilang baik. Jingga sedang berjalan gontai keluar dari hotel dengan pandangan kosong dan wajah yang sedikit luka, ada sobekan pada bajunya. Saat itu hari sudah malam.
Richard menolong Jingga dan menawarkan tumpangan. Awalnya Jingga takut dengan Richard, tapi Richard berhasil meyakinkan Jingga. Dia mengantar Jingga sampai tempat kosnya.
Besoknya mereka bertemu kembali di restoran bu Fatimah. Sejak saat itu mereka sering ngobrol karena Richard setiap hari makan di sana.
Seminggu sebelum Richard kembali ke negaranya dia memberikan kartu nama pada Jingga dan mengajak Jingga ikut bersamanya. Dia akan melatih Jingga agar menjadi lebih kuat dan tidak mengalami hal serupa.
Jingga tidak langsung menerima dia berpikir dan menimbang berulang-ulang, sampai akhirnya dia menyetujuinya. Jingga ingin meninggalkan negara ini yang telah menorehkan luka terlalu dalam baginya. Dia ingin menjauh dari mereka yang selalu menyakitinya, terutama orang yang dia cintai telah menyayat dan menghancurkan hatinya, hingga hancur berkeping tidak tersisa.
Jingga lalu keluar dari pekerjaannya dan juga tempat kosnya. Dia terbang ke benua lain bersama Richard. Jingga mengenal orang-orang baru. Dia baru tahu kalau ternyata Richard bergelut di suatu perkumpulan rahasia seperti CIA atau apapun namanya itu.
Jingga pernah melihat mereka menjalankan misi, namun dia hanya mengamati dari jauh di dalam mobil.
Jingga harus berlatih terlebih dahulu setelah kemampuannya meningkat dia baru boleh menjalankan misi. Jingga baru bergabung selama sebulan, masih banyak yang harus dia pelajari.
Dia ingin menjadi Jingga yang baru. Jingga sudah mati kini hanya ada Orange panggilan mereka untuk Jingga.
"Orange, jangan melamun ketika latihan, fokus!" Richard menegur Jingga mengagetkan Jingga yang sedang melamun.
"Maaf Pak."
"Nanti, kamu ke kantor Pak Kim, setelah latihan selesai. Dia memanggilmu."
"Siap Pak!"
Setelah latihan selesai seperti perintah Richard Jingga pergi ke kantor Pak Kim, atasan mereka.
Tok ... Tok ...
"Masuk!"
Mendengar perintah masuk dari dalam Jingga segera membuka pintu dan masuk.
"Silahkan duduk Orange."
"Terima kasih Pak." Jingga pun duduk di hadapan Kim.
__ADS_1
"Jingga, kamu akan mulai saya masukkan dalam misi tapi misi kali ini akan berbahaya. Kamu harus waspada. Misi ini juga akan mengharuskan kamu terbang ke Indonesia. Apa kamu bersedia? Jika kamu sudah setuju tidak ada jalan untuk kembali, kamu harus kerjakan sampai tuntas."
"Apa? Ke Indonesia?" Haruskah dia kembali ke sana. Tapi ini misi pertamanya, dia juga harus membuktikan kemampuannya atau nanti dia tidak bisa dipercaya lagi. Kemungkinan bertemu dengan mereka sangat kecil, tapi semua kemungkinan bisa terjadi. Jingga bingung apa yang harus dia putuskan.
"Kalau boleh tahu misinya apa dan di mana?"
"Kau tidak boleh tahu kecuali kau anggota tim. Terima atau tidak?"
"Baiklah Pak, dengan berat hati aku menerimanya."
"Bagus. Aku tahu kau bisa di andalkan. Kemajuan mu sangat pesat. Kau tahu? Kau adalah primadona di sini. Semua orang membicarakanmu."
"Bapak terlalu berlebihan."
"Ok! Sekarang kita bicarakan misi kita.
...***...
Langit mendapat kabar dari detektif yang di sewanya kalau Jingga pergi ke luar negri tetapi dia tidak menemukan jejaknya. Detektif mengetahuinya dari cctv Bandara. Namun, anehnya dia tidak dapat menemukan penumpang atas nama Jingga. Sepertinya ada seseorang yang menyembunyikan identitasnya.
Apa sebenarnya yang Jingga lakukan?
Sebenarnya Langit ingin mencari Jingga tapi dia ada proyek penting dengan Pak Hartono dan Kevin. Dia akan terbang ke Bali. Dia akan tinggal disana untuk beberapa hari.
Apalagi, Hartono adalah orang yang bisa di bilang tergolong orang kaya. Sedangkan Jingga pernah cerita kalau dia harus bekerja untuk kuliahnya karena orang tuanya tidak mau membiayai kuliahnya. Mungkin karena mereka tidak mampu.
"Lang, kamu kapan berangkat le Bali?" tanya Senja.
"Besok Mah. Kenapa?"
"Kamu, lama di sana?" tanya Senja lagi tanpa menjawab pertanyaan Langit.
"Gak tahu, tiga sampai empat hari mungkin. Kenapa?"
"Terus, Jingga bagaimana? Kamu sudah tahu, di mana dia?" Senja tidak menjawab pertanyaan Langit tapi terus bertanya.
"Langit sudah berusaha mencari sampai menyewa detektif, tapi Jingga tidak di ketahui kebaradaannya. Dia seperti hilang di telan bumi."
"Jingga kenapa ya? Mamah khawatir pada Jingga."
"Dia baik-baik saja Mah. Jingga sudah dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri."
"Kamu selalu seperti itu. Kamu memang tidak khawatir pada Jingga. Cepat selesaikan packing lalu makan!" Senja ke luar dari kamar Langit.
__ADS_1
"Mamah tidak tahu betapa khawatirnya aku." batin Langit.
Langit kemudian melanjutkan packingnya.
...***...
Hari ini Langit akan berangkat ke Bali. Pak Hartono dan Kevin sudah berangkat lebih dulu. Mereka akan bertemu di sana. Langit sedang sarapan bersama keluarganya.
"Kak Langit, aku boleh ikut ke Bali?" tanya Bintang.
"Tidak boleh, Kakak mau kerja bukan liburan."
"Aku juga tidak mau menganggu Kakak, aku bisa liburan sendiri. Tapi aku malas kalau di villa sendiri. Kalau ada Kakak, kan ada temannya."
"Ya udah cepat buruan, Kakak tunggu."
"Ok, Siap!" Bintang segera berdiri dan mengambil tasnya di kamar. Sebenarnya ia sudah packing dari semalam.
Mamah yang menyuruh untuk mengikuti Langit, tugasnya adalah menjauhkan Langit dari wanita-wanita penggoda.
"Bintang! Cepat!" Langit berteriak memanggil Bintang.
"Iya Kak, gak sabaran banget sih," gerutu Bintang.
"bukan begitu sayang. Kakak sudah ada jadwal. Ayo cepat kita berangkat." Mereka lalu pamit pada Mamah dan Papah.
Sesampainya di Bandara, Bintang merasa ingin kencing. Dia berlari ke toilet meninggalkan Kakaknya.
Saat Langit sedang, berjalan terburu-buru tiba-tiba ...
BRUK ...
Langit menabrak seseorang. Langit langsung melihatnya dia sangat cantik, anggun dam berkarisma. Rambutnya coklat panjang, tinggi dan langsing. Wanita itu memakai kacamata hitam.
"Maaf, nona saya tidak sengaja." Langit membantu mengambil ponsel wanita itu yang terpental karenanya.
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." Wanita itu menerima ponsel dari tangan Langit. Tangan mereka secara tidak sengaja bersentuhan. Dia segera mengambil ponsel dan hendak pergi.
"Tunggu dulu! Nama kamu siapa? Aku Langit."
"Aku buru-buru. Maaf, senang bertemu denganmu lagi." Kemudian wanita itu pergi.
Langit sedang mencerna kata-kata wanita itu. "Senang bertemu denganmu lagi? Apakah itu berarti kita pernah bertemu? Tapi siapa dan di mana?" gumam Langit. Kemudian dia pergi melanjutkan langkahnya menuju pesawat pribadi.
__ADS_1
...----------------...