
Langit sedang berada di pom bensin dan dia melihat seseorang yang mirip dengan Jingga. Dia turun dari mobil lalu bergegas menghampiri Jingga. "Jingga!" Langit menepuknya punggungnya. Dia dapat merasakan kalau wanita ini menegang untuk beberapa detik.
Wanita itu berbalik, dia tersenyum. " Ada apa ya, Mas?"
"Jingga, kamu tidak usah berpura-pura tidak mengenal saya! Ayo ikut saya sekarang!" Langit menarik tangan wanita yang dia yakini adalah Jingga.
"Mas, maaf ... saya bukan Jingga! Lepaskan tangan saya."
"Kamu Jingga! Jangan berkelit lagi! Saya tidak akan percaya sama kamu." Langit menyeret Jingga ke mobilnya.
"Mas, saya betul-betul bukan Jingga, saya Angela."
"Saya tahu kamu Angela alias Jingga. Sudahlah hentikan semua kekonyolan ini, Jingga! Kenapa kamu selalu menghindari saya? Sekarang kamu ikut saya pulang. Mamah juga yang lainnya sangat khawatir sama kamu, terutama Bintang. Dia dihantui rasa bersalah karena kamu menolongnya."
"Kamu yang hentikan kekonyolan ini! Kenapa kamu tidak mengerti saya bukan Jingga!"
"Kamu Jingga!"
"Saya bukan Jingga!"
"Sejuta kali kamu menyangkal pun tidak ada gunanya saya tidak percaya, bagi saya kamu Jingga!" Langit terus berdebat dengan Jingga.
"JINGGA SUDAH MATI! Saya bukan Jingga." Jingga akhirnya menyerah.
"Kenapa kamu bilang begitu? Ada apa dengan kamu Jingga? Katakan, Apa yang membuatmu berubah seperti ini?"
Jingga menangis tersedu-sedu, dia lalu berjongkok dan mengeluarkan semua beban di hatinya. Tangisannya terdengar sangat pilu, Langit ikut berjongkok dan menyandarkan kepala Jingga pada dadanya. Untuk sesaat Jingga bersandar lalu kemudian Jingga menolak dan mendorong Langit.
"KAMU! Kamu penyebab semua ini! Kamu menghancurkan aku dalam satu malam. Kamu adalah petaka dalam hidupku. Ku mohon menjauhlah dari ku, tidak usah lagi perduli padaku. Tolonglah!" Jingga merapatkan telapak tangannya di hadapan wajah nya dan memohon pada Langit agar Langit menjauhinya.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, apa yang ku lakukan dalam satu malam?" Langit meminta penjelasan Jingga, karena dia sungguh tidak tahu apa yang membuat Jingga merasa hancur, apa yang telah dia lakukan?
"Bagaimana kau akan mengerti? Kau saja tidak mengingatnya. Tolong menjauhlah dariku, didekatmu membuat hati ku sakit." Jingga lalu bangun, dia masih terisak. "Jangan pernah lagi menemuiku bahkan jika kau ingat semuanya," pesan Jingga dan dia pun pergi.
Langit mencegahnya dan memegang tangan Jingga. "Tidak akan aku biarkan kamu pergi, aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Apa lagi dalam situasi seperti ini. Jika memang benar aku menyakitimu dan membuatmu hancur, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menebus kesalahan ku, maafkan aku."
__ADS_1
"Untuk apa minta maaf atas kesalahan, yang kamu sendiri bahkan tidak tahu di mana letak salahnya?"
"Untuk sekarang mungkin tidak, dan aku tidak ingin kehilanganmu saat aku sudah mengetahuinya. Aku mohon tetap di sampingku, aku mencintaimu Jingga sangat mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu, selalu bersama mu setiap saat. Hukum aku sesuka hatimu agar kau merasa lega, tetapi jangan pernah pergi lagi dariku."
"Aku harus pergi Langit, lepaskan aku!"
"Tidak Jingga, kau ikut denganku! Langit menarik Jingga ke mobil. Mereka menjadi pusat perhatian pelanggan yang membeli bahan bakar.
"Langit, tolong lepaskan aku. Aku harus menjauh dari kalian atau nyawa kalian terancam"
Langit tidak perduli, dia terus menarik Jingga sampai mobil lalu memaksa Jingga masuk dan duduk dalam mobil. Jingga baru menyadari ternyata banyak yang memperhatikan mereka. Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi, dia menuruti permintaan Langit.
Setelah Jingga duduk manis, Langit memasangkan seatbelt dan menutup pintu lalu menguncinya. Langit bergegas masuk mobil lewat pintu kemudi. Dia membuka kunci lalu masuk. Langit menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya.
Jingga merasa menyesal, seharusnya dia tidak pergi dari markas. Dia semula berniat pergi tanpa seorang pun tahu namun, justru bertemu dengan sumber masalah. Jingga perlahan mengusap perutnya.
"Kamu lapar?" tanya Langit, membuat Jingga terkejut dan menjauhkan tangan dari perutnya.
"Tidak," jawab Jingga. Langit tersenyum. Dia berpikir kalau Jingga lapar dan malu mengakuinya.
"Terserah, aku tidak perduli. Aku hanya ingin menjauh agar tidak ada yang tahu kehamilanku," batin Jingga.
Jingga diam saja tidak menanggapi perkataan Langit. 10 menit kemudian mereka sampai rumah keluarga Langit. Jingga tidak langsung turun dia mengamati rumah itu dari dalam mobil.
"Jingga, ayo turun." Langit membukakan pintu untuk Jingga. Dengan berat hati Jingga keluar dari mobil.
Langit kemudian menggandengnya ke dalam rumah. Jingga menolaknya dan melepaskan tangan Langit. Dia tidak ingin merasa nyaman berada dalam genggaman Langit. Dia tidak ingin hatinya terlena dan menjadi goyah. Jingga sudah memutuskan akan pergi, dia akan mencari cara untuk bisa keluar dari rumah itu.
"Assalamu'alaikum." Langit memberi salam ketika masuk. Jingga mengikuti Langit dari belakang.
"Wa'alaikumsalam." Senja dan Mentari keluar dari dapur.
"Langit ... JIngga!" Senja terkejut melihat Jingga di belakang tubuh Langit. Dia segera mendekati Jingga dan memeluknya.
"Sayang, Mamah senang sekali kamu ada di sini."
__ADS_1
"Aku juga senang berada di dekat Mamah, aku dapat merasakan kasih sayang seorang ibu yang hangat dan tulus, tetapi maaf Mah, aku harus pergi karena aku sedang mengandung cucumu. Namun, sayang ayahnya tidak tahu dia ada, bahkan dia tidak ingat telah melakukannya." Jingga berkata dalam hatinya.
Wajah Jingga berubah sendu, dia mengusap perutnya perlahan. Senja mengamati Jingga yang hanya termenung. "Ada apa sayang?" tanya Senja.
"Tidak Mah," jawab Jingga.
"Dia itu lapar Mah," celetuk Langit.
"Oh ... kamu lapar! Yuk kita ke dapur aja."
"Gak Mah, aku gak lapar. Mamah apa kabar? Kak Tari apa kabar?" tanya Jingga.
"Mamah kabar baik, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah, kak Tari juga baik,"
"Kamu sakit Jingga? Wajah kamu pucat." Tanya Mentari.
"Tidak Kak, aku tidak apa-apa. Aku mau pamit pulang, ke sini cuma mampir sebentar aja. Maaf, aku masih ada keperluan Mah."
"Kenapa sudah mau pulang? Baru juga sampai."
"Iya Mah, aku ada pekerjaan. Huek ...." Jingga tiba-tiba merasakan mual, dia berlari ke arah kamar mandi.
"Jingga kenapa?" tanya Mamah pada Langit.
"Gak tahu Mah, mungkin dia maag kali dari tadi dia pegang perut terus," jawab Langit.
Senja dan Mentari serta Langit menyusul Jingga, ke kamar mandi.
...----------------...
Terima kasih sudah membaca cerita ini. semoga suka ya. Saya ada rekomen cerita bagus dari teman author. Jangan lupa mampir dan baca ya terima kasih.
__ADS_1