
Langit sedang berada di tempat orang yang lihai melacak keberadaan seseorang. Dia meretas cctv di daerah itu. Langit teringat sebelum dia berangkat ke Villa, anak buahnya memberikan usul.
"Tuan, saya pikir percuma saja kita ke villa. Penculiknya pasti sudah pergi dan membawa Nyonya Jingga. Kita pergi ke tempat teman saya yang pandai melacak orang."
Langit berpikir, benar juga apa yang dikatakan anak buahnya. "Oke! Kita ke sana saja sekarang!" Mereka lalu merubah haluan laju mobil.
Di sinilah mereka sekarang. Di mulai dari tempat terakhir Jingga berada. Dia menelusuri cctv itu dan terus mengamatinya. Beberapa jam kemudian, usahanya membuahkan hasil. Telah di ketahui mobil apa dan berapa orang yang menculik Jingga.
Mobil itu pergi ke arah Jakarta. Orang itu terus mengikuti jejaknya melalui cctv, sampai tiba di sebuah bangunan. Jaraknya dari tempatnya sekarang berada sekitar empat puluh menit. Setelah mengucapkan terima kasih dan tentu saja memberi imbalan yang besar, Langit langsung meluncur ke lokasi.
...***...
Sementara itu rupanya Kevin kedatangan dua orang tamu yang tak di undang, dia akan menemui mereka. "Ada apa kalian ke sini? Kenapa kau membawa Papah ke sini?" tanya Kevin pada adiknya, wajah Kevin jelas menampakkan dia tidak suka kedatangan mereka.
"Papah mengancam akan memblokir kartu kreditku serta mencabut semua fasilitas."
"Kenapa, Papah tidak boleh datang mememuimu?"
"Ini bukan waktu yang tepat."
"Kapan waktu yang tepat? Apakah ketika Papah sudah bangkrut baru bisa menemuimu?"
"Bukan begitu, Pah. Duduk dulu Pah." Mereka duduk di sofa.
"Ini tempat apa, Vin?"
"Ini base camp ku."
"Vin, Papah mau tahu apa alasanmu, menembak Bintang adik dari Langit?"
"Dia ancaman."
"Apa kamu tidak berfikir kalau tindakanmu akan berakibat buruk pada perusahaan Papah?"
"Kenapa kamu diam? Jawab Papah!" Kevin tetap diam.
"Papah sudah bilang berhenti dari dunia gelap. Urus perusahaan Papah dengan baik. Lihat akibatnya kamu sekarang menjadi buronan!"
"Sudahlah Pah, lebih baik Papah pulang."
"Kamu ngusir Papah!"
Dor ... dor ...
Terdengar suara letusan senjata api, Kevin dan semua yang ada di ruangan itu terkejut. Kevin segera mengambil senjata api di laci mejanya.
"Vin, kamu mau ke mana? Ini berbahaya lebih baik kamu di sini."
"Papah di sini saja. Ada senjata di laci meja, Kevin akan segera kembali."
Kevin pergi ke luar. Dia segera menuju ke kamar Angela. Di lepaskanya ikatan Angela.
__ADS_1
"Bangun dan ikut aku, jangan macam-macam atau peluru ini akan bersarang di perutmu!" Ancam Kevin seraya menodongkan senjata apinya di pinggang Angela. Angela menurut dia tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya.
Sementara itu di ruangan Kevin. "Kamu tunggu di sini! Papah akan menolong Kevin."
"Gak mau, Pah. Aku mau ikut."
"Ya sudah ayo! Tapi tetap di belakang Papah."
"Iya, Pah." Mereka lalu keluar.
"Kevin! Keluar kau! Di mana Angela?" teriak Roy.
"Kalian cepat masuk! Aku akan mengalihkan perhatiannya, kalian cari dan selamatkan Angela," ujar Roy pelan pada teman se timnya. Mereka kemudian berpencar.
Beberapa mobil lain berhenti di depan basecamp, lalu mereka keluar dari mobil. "Kamu tunggu di sini!"
"Gak bisa gitu dong, aku mau ikut!" tolak Bintang. Di tengah perjalanan Langit melihat mobil Bintang dia menghadangnya dan menyuruh Bintang ikut dengannya. Langit yakin Bintang ingin ke tempat Jingga. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada adiknya.
"Diam, tetap di sini." Pintu mobil pun ditutup. Langit bersama yang lainnya masuk ke dalam dengan waspada. Setelah Langit masuk Bintang turun dari mobil.
"Kakak maaf, aku ingin menolong Jingga. Aku berhutang nyawa padanya. Tidak mungkin aku diam saja di saat dia sedang butuh pertolongan," gumam Bintang pelan. Lalu dia pergi masuk ke dalam, tidak lupa dia memegang senjata api untuk pertahanan diri.
Suara senjata api masih terdengar. Ada juga yang sedang berkelahi. Anak buah Kevin cukup banyak sekitar dua puluh lima orang, Sedangkan tim dari Roy hanya empat orang, di tambah Langit yang baru datang berlima jadi sembilan orang, tidak lupa tim Bintang empat orang jadi jumlah mereka tiga belas orang.
Pertarungan sangat sengit. Walau jumlah tidak seimbang namun, kemampuan mereka lebih dari pada anak buah Kevin. Sudah beberapa orang yang tumbang terkena hantaman peluru.
"Letakkan senjata kalian atau dia mati!" Kevin muncul di tengah-tengah pertempuran.
"Aku akan mencoba membidiknya dari belakang," sahut temannya di sana.
"Jangan coba-coba dan mengambil resiko. Jingga bisa terbunuh, letakkan senjata kalian!"
"Kita semua bisa mati!" Teman Roy tidak setuju.
"Letakkan! Kita akan cari cara lain."
Akhirnya Roy dan tim nya meletakkan senjata.
"Kalian semua keluar! Kumpulkan mereka dan ambil senjatanya." Perintah Kevin pada anak buahnya.
Langit baru masuk bersamaan dengan Hartono juga adik Kevin yang menghampiri Kevin.
"Lepaskan dia Kevin!" teriak Langit seraya mengarahkan senjata ke arah Kevin.
"Wah, Tuan Langit ada urusan apa Anda di sini. Kau datang di saat yang tidak tepat. Turunkan senjatamu!"
"Dia istriku! Lepaskan dia!"
"Wah, jadi dia adalah istrimu. Berarti kau berbulan madu bersama dia. Padahal tadi kalau saja kalian tidak mengganggu aku yang akan berbulan madu dengan istrimu."
"Kurang ajar kau, aku tidak akan mengampunimu!"
__ADS_1
"Hahahaha ... Lihat siapa yang berbicara? Letakkan senjatamu!"
Langit tidak perduli, dia membidik Kevin. "Tuan Hartono! Apa kau tidak rindu pada anak gadismu yang kau siksa. Tidakkah kau ingin bertemu dengannya dan meminta maaf!" Jingga menggeleng pada Langit agar Langit tidak memberi tahu jati dirinya. Semua orang dikumpulkan di tengah ruangan dan menjadi sandra kecuali Langit yang memegang senjata.
"Untuk apa aku minta maaf pada anak yang tidak berguna, jangan kau bahas tentang dia!"
"Kau memang orang tua yang kejam, kau bahkan tidak merasa menyesal setelah menyiksanya!"
"Kenapa kau bahas Jingga?"
"Karena ...."
"AWW ...!" Kevin berteriak karena Jingga secara tiba-tiba dapat memelintir tangannya ke belakang. Jingga juga menendang senjata Kevin yang terjatuh sebelum adik Kevin merebutnya.
Semua anak buah Kevin mengarahkan senjata ke arah Jingga. Langit pun menodongkan senjata ke arah Kevin.
"Buang senjatamu!" Hartono menempelkan senjatanya ke kepala Jingga. Langit belum juga membuang senjatanya.
Plak ...
Kevin menampar Jingga. "Kurang ajar kau." Kevin tidak terima atas tindakan Jingga.
Dor ...
Langit menembak kaki Kevin.
"Argh!" teriak Kevin.
Hartono membalas menembak Langit, Jingga merasa ada kesempatan untuk dia menyingkir. Namun, tidak jauh dari sana adik Kevin mengambil senjata Kevin yang terletak di lantai dan menembak Jingga.
"Jingga!" teriak Langit yang melihat Jingga terkena tembakan.
Hartono tentu terkejut saat Langit meneriakkan nama Jingga pada gadis yang dia tahu bernama Angela. Untunglah tembakan itu hanya mengenai bahunya.
"Jadi kau Jingga, temuilah ajalmu sister!" Adik Kevin kembali menembakkan senjatanya pada Jingga.
Dor ...
"Tidak, Jingga!" Langit teriak histeris dan menembak secara membabi buta pada Kevin dan adiknya. Peluru itu pun ada yang mengenai perut adik Kevin. Dia langsung terjatuh. Kevin sendiri terkena dadanya. Dia langsung mati di tempat.
Roy dan timnya, mengeluarkan senjata cadangan dan menembaki musuh. Terjadilah baku tembak.
"Jingga maafkan Ayah!"
"Ayah ...."
...----------------...
Bagaimana ya keadaan Jingga? Nantikan next bab nya ya. Jangan lupa like dan komen juga bunganya.. Terima kasih sudah membaca cerita author yang gaje. Terima kasih juga sudah like komen dan memberi bunga serta vote dan Semoga terhibur ya... Love you All 😙😙😙❤❤❤❤.
Seperti biasa ada rekomendasi cerita untuk kalian jangan lupa mampir like dan komentarnya. Terima kasih.
__ADS_1