Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Langit Menemui Angela.


__ADS_3

Pertemuannya sekilas dengan Jingga kemarin membuat Langit tidak bisa bekerja dengan baik. Dia ingin kembali bertemu dengannya. Hanya ada satu cara yaitu pergi ke boutique mamahnya.


Oleh karena itu meskipun sekarang pukul 10.15, Langit meminta kepada sekretarisnya untuk menjadwalkan ulang seluruh kegiatan dan janji pertemuan dengan para kolega bisnisnya. Dia lalu pergi ke tempat mamahnya.


Begitu sampai di sana, Langit langsung naik ke lantai dua di mana ruangan mamahnya berada. Langit melihat model-model itu sedang melakukan fitting baju yang akan mereka kenakan untuk peragaan busana. Model-model itu sekilas melihat Langit.


Langit menuju ruangan ibunya, di sana tidak ada orang. Langit duduk di sofa. Ruangan Senja disekat kaca yang tembus pandang dari dalam, tapi dari luar terlihat gelap.


Namun dia tak melihat Angela, di mana dia? Pertanyaannya langsung terjawab, saat dia melihat Angela yang cantik dan sangat mempesona.


Sampai saat ini Langit tidak menyadari kalau Angela adalah Jingga, dan Langit tidak berharap bertemu dengan Jingga. Dia tidak mau kalau tumbuh cinta di dalam hatinya. Bagi Langit cinta itu menyusahkan dan hanya menjadi beban. Dia akan menjadi orang bodoh karena cinta.


Langit tidak menyadari apa yang di lakukannya sekarang justru karena dia jatuh cinta, dia berusaha keras melupakan Jingga dan menghilangkan cinta di hatinya, tapi dia justru bertemu orang yang mirip dengan Jingga.


Dia sampai datang ke boutique mamahnya karena ingin melihat Angela untuk mengobati rindunya pada Jingga. Ya ... Langit melihat kemiripan Angela dengan Jingga. Namun dia tidak menyadari Angela adalah Jingga. Sebab Angela lebih sexy, fashionable, dan anggun.


Angela tidak menyadari kalau Langit sedang mengamatinya dari balik kaca. Angela berjalan bak model dalam pagelaran. Senja menghampiri Angela dan mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangannya.


Senja membuka pintu, dan dia berbalik menghadap Angela di belakangnya, sehingga dia tidak menyadari ada Langit sedang duduk di sofa. Sementara Angela terpaku melihat Langit.


"Angela? Ayo masuk!" Senja mengajak Angela masuk karena Angela hanya berdiam di depan pintu.


"Langit!" Senja terkejut begitu berbalik, dia melihat ada Langit di dalam ruangan kantornya.


"Ada apa kamu ke sini sayang?" tanya Senja pada anaknya. Dia lalu menghampiri Langit dan memeluknya sebentar.


"Gak ada apa-apa Mah, Langit hanya rindu pada Mamah. Di rumah kita jarang ketemu karena Mamah sibuk. Jadi Langit ke sini." jawab Langit kemudian mereka duduk.


"Sejak kapan kamu rindu pada Mamah, biasanya juga ketemu sebulan sekali. Kamu lebih memilih sama wanita-wanita mu itu!" Senja mencibir Langit.


"Wanita mana? Aku itu sibuk Mah."


"Iya sibuk bermesraan!" Wah kacau, mamahnya ini! Menjatuhkan harga dirinya di depan Angela.


"Terserah Mamah, Mamah itu selalu berpikiran negatif tentangku." Percuma saja Langit membantah.


"Angela sini! Kenalkan ini anak Tante , Langit namanya." Senja memperkenalkan Langit pada Angela. Secara bagi Langit, dia belum kenal Angela. Jingga alias Angela duduk di samping Senja.


"Aku sudah pernah bertemu dengan Angela Mah, ini adalah pertemuan ketiga kami. Bukan begitu, Angela?"

__ADS_1


"Saya lupa Tuan."


"Oh begitu rupanya, tidak masalah saya cuma penasaran aja sama kamu." Mendengar ucapan Langit, Jingga berpikir penasaran apa yang dimaksud Langit?


"Langit ke kantor lagi Mah, tidak mau mengganggu Mamah. Kelihatannya Mamah sibuk banget."


"Loh, katanya rindu Mamah, mau ngobrol. Kok malah pulang? Kan ngobrolnya juga belum. Barusan kamu ngobrolnya kan sama Angel bukan Mamah!"


"Mamah aja sibuk, gimana mau ngobrol. Aku pergi dulu Mah, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Kenapa tuh anak kaya orang ngambek aja?" tanya Senja pada Jingga. Jingga tidak menjawab, dia hanya tersenyum.


"Angel, sepertinya Langit menyukaimu."


"Mamah bisa saja, tidak mungkin lah Mah." Jingga terkekeh.


"Dia gak pernah gitu, loh! Bela-belain ke tempat Mamah buat ngobrol doang. Itu mah alasan saja. Sebenarnya dia mau melihat kamu." Senja mengatakan pendapatnya.


"Mungkin, dia suka Angela, bukan Jingga." Ucapan Jingga membuat Senja terdiam.


"Rumit juga kalau Langit menyukai sosok lain dari dirimu."


"Itulah Mah dan aku tidak mungkin menjadi Angela selamanya." Jingga tersenyum. Senja menyentuh telapak tangan Jingga dan di genggamnya.


"Iya, Mah. Aku janji, terima kasih atas pengertian Mamah. Jika waktunya sudah tepat aku pasti akan mengatakan semuanya."


...***...


Akhirnya waktu pagelaran busana di adakan. Semua undangan sudah hadir. Acara ini juga untuk menggalang dana bagi masyarakat korban bencana.


Tamu yang hadir adalah orang- orang besar dan para pengusaha terkenal. Ada juga tamu yang menjadi target mereka yaitu Tuan Rafael beserta istrinya.


"Halo, Nyonya Biantara. Selamat ya akhirnya Anda bisa juga mengadakan pagelaran besar. Semoga sukses."


"Terima kasih Nyonya Rafael. Selamat menikmati acaranya. Silahkan duduk." Senja menyambut para tamu.


"Kenalkan ini anakku, Bianca. Dia baru kembali dari luar negeri."


"Halo Tante, senang bertemu denganmu." Bianca mencium tangan Senja.

__ADS_1


"Senang juga bertemu denganmu. Bianca ini cantik seperti Mamahnya."


"Terima kasih Tante. Tante juga cantik dan awet muda."


"Ayo silahkan duduk ... maaf tapi saya harus mengurus beberapa hal, permisi."


"Silahkan, semoga sukses, ya."


"Terima kasih." Senja pergi meninggalkan mereka.


"Mah, apa anaknya datang?"


"Langit maksud kamu?"


"Iya."


Istri Rafael mengedarkan pandangannya. "Sepertinya belum atau dia tidak datang. Mamah juga tidak tahu. Kamu kenal Langit?"


"Siapa sih yang gak tahu Langit. Pengusaha sukses yang tampan dan masih lajang. Dia adalah incaran banyak wanita. Sayang Langitnya dingin banget susah di dekatin. Bisa sih tapi dia tidak pernah mau punya ikatan."


"Apa kamu bisa deketin dan rayu dia? Supaya Langit mau menikah denganmu. Kalau kamu bisa buat dia jatuh cinta padamu dan bertekuk lutut, kamu hebat!"


"Kita lihat saja nanti." Bianca tersenyum angkuh.


Di sisi lain Rafael sedang mengobrol bersama Tuan Angkasa Biantara. Para model sebagian sedang bersiap. Jingga mendapat giliran terakhir.


Beberapa orang mengawasi mereka. "Tim siap di posisi masing-masing." terdengar suara dari head set pada setiap anggota Tim. Jingga juga memakainya. Namun yang di pakai Jingga menyerupai anting, agar tidak mencurigakan.


"Mah, sudah siap." Mentari datang menghampiri Mamahnya. Senja, pergi bersama Mentari.


"Bintang sudah datang?" Mentari menggeleng.


"Anak itu katanya ke Bali mau jagain Kakaknya malah dia jalan-jalan sama temannya. Terus pulang dulua. Pergi lagi, itu anak sukanya travel."


"Biarin Mah, selagi dia belum menikah, biarkan Bintang menikmati kebebasannya."


"Yang penting buat Mamah dia bisa menjaga diri."


"Iya Mah."

__ADS_1


Mereka berbincang sambil berjalan menuju back stage.


...----------------...


__ADS_2