Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 9. Perasaan Sebenarnya.


__ADS_3

Sekarang aku masih di kantor. Aku melihat jam, sudah pukul 11.50. Datang Shiren sekretarisku. Aku sedang berdiri di dekat kursi sofa.


"Pak, kita makan siang bareng?" Aku tidak menjawabnya. Aku memperhatikan Shiren. Sebenarnya bukan memperhatikan tapi melamun sambil melihat Shiren. Pikiranku teringat pada Jingga. Sudah hampir 1 bulan, aku tidak pernah bertemu dengannya.


Aku berhenti mengawasinya, karena aku takut perasaan itu akan semakin tumbuh. Perempuan ngin hubungan yang pasti dan mengikat, sedangkan aku? Aku tidak mau terikat dalam suatu hubungan.


Jadi kasihan Jingga jika bersamaku, dia akan terombang-ambing dalam ketidak pastian. Aku bahkan tidak ingin menikah seumur hidupku.


Tapi setelah aku berusaha keras aku tetap tidak bisa melupakannya. Sekarang pun aku merindukannya. Shiren mendekat dan berdiri tepat di hadapanku.


"Kenapa Bapak memperhatikan saya?" tanya shiren.


Aku baru sadar dia berdiri sangat dekat. Shiren wanita yang cantik, tubuhnya sintal dan berisi, terutama di tempat-tempat tertentu. Dia termasuk wanita sexy dengan pakaian yang memperlihatkan kelebihannya.


Shiren menatap bibirku, hm ... mungkin aku bisa melupakan Jingga dengan mengalihkan pikiran dan perhatianku pada wanita-wanita sekelilingku.


"Tadi kamu bilang apa?" tanyaku dia semakin mendekat lalu bibir kami menempel. Shiren mengalungkan tangannya di leherku. Kami saling memagut dan bermain lidah. Aku memeluk pinggangnya.


Setelah beberapa menit aku melepaskan pagutanku pada shiren.


Bukan sekali ini kami saling beciuman, Kami bahkan juga suka make out di kantor, karena itu Shiren berani menciumku. Dia bukan kekasihku, aku juga tidak mencintainya aku hanya jadikan Shiren alat untuk melupakan Jingga.


Shiren tersenyum menggoda. "Bagaiman kalau kita makan siang dulu? Baru nanti kita lanjut. Aku sudah lapar."


Benar, aku juga lapar. Aku mengangguk, lalu mengambil jas dan dompet. Shiren keluar, tapi tak lama Shiren kembali membawa rantang makanan. Aku seperti mengenali rantang itu. Persis seperti punya mamah.


"Ada ini di atas mejaku, sepertinya tadi ada yang datang mengantarkan makanan untuk Bapak."


"Coba saya lihat." Shiren memberikan rantang itu dan ada kertas di tempel di atasnya bertuliskan namaku.


Aku lalu menelepon mamah, untuk menanyakan apakah mamah mengirim makanan? Aku tidak mau makan makanan yang tidak jelas asalnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Ada apa Lang?"


"Ini mah Shiren melihat ada rantang makanan di atas mejanya. Apa Mamah tadi mengirim makanan?"


"Iya, tadi Mamah suruh Hani mengirim makan buat kamu dan dia makan siang di kantor. Kebetulan Jingga hari ini main ke rumah jadi Mamah masak bersama terus Mamah ingat kamu. Hani juga belum makan, jadi Mamah suruh makan sama kamu."


"Oh, gitu Mah. Ya udah makasih."


"Tunggu Lang, kenapa kamu nanya Mamah? Memangnya kamu gak ketemu sama Jingga?"


Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, aku harus jawab apa?


"Gak, Mah. Langit tutup dulu teleponnya ya Mah, soalnya Langit udah lapar mau makan." Lebih baik aku menghindar dan cepat mengakhiri telepon Mamah.


"Ya udah deh, padahal Mamah mau tahu, kenapa kamu gak ketemu Jingga? Terus Jingganya ke mana?"


"Ke mana Jingga? Kenapa dia tidak masuk dan pergi begitu saja? Apakah aku melukai hatinya? Apa dia tidak rindu padaku? Kenapa aku merasa seperti pria brengsek yang sudah mengkhianati orang yang ku cintai?"


"Pak! ... Pak!" Suara Shiren menyadarkan ku dari lamunanku tentang Jingga.


"Eh ... iya Ren, ada apa?"


"Bapak, yang ada apa?"


"Gak apa-apa, kamu boleh keluar. Terimakasih." Aku lalu duduk di sofa, sedangkan Shiren keluar dari ruanganku.


Aku membuka kotak bekal dari mamah, isinya banyak sekali. Ah iya, aku lupa, kan harusnya ini untuk berdua sama Jingga. Berarti dia belum makan dong?


Apakah aku bagi dua saja sama Shiren? Jangan deh, nanti dia baper, kan ribet. Katakanlah aku memang jahat tapi mereka tahu, aku tidak akan memberi perhatian spesial pada siapa pun, hanya sebatas hubungan teman.

__ADS_1


Aku akhirnya makan sendiri. Terlintas dalam memori, ketika aku melihat Jingga sedang memasak bersama Mamah. Lalu kilatan-kilatan memori lain muncul. Dari awal aku bertemu Jingga sampai dia memutuskan keluar dari rumah.


Harus aku akui, aku merasakan bahagia dan selalu rindu padanya saat dia berada di rumah, aku ingin segera lekas pulang. Seberapa besar pun aku berusaha untuk menutupinya, tetap saja aku tidak bisa membohongi diri sendiri.


Aku yakin setelah kejadian ini Jingga pasti semakin tidak suka padaku, dia pasti merasa illfell. Aku semakin tidak percaya diri untuk mencintainya.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu membuyarkan semua memoriku.


"Masuk!" Shiren membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Maaf Pak, ada tamu. Mereka sudah membuat janji sebelumnya untuk bertemu hari ini."


"Oke, tolong bereskan ini!" Aku lalu pergi ke toilet yang ada di dalam ruanganku untuk mencuci tangan.


Begitu aku kembali, ruangan sudah bersih dan wangi pengharum. Aku lalu duduk di kursi kebesaranku.


"Permisi Pak, ini ada tuan Hartono beserta putranya."


"Silahkan masuk."


Mereka masuk ke dalam dan duduk di depanku. Tuan Hartono mengatakan maksud dan tujuaannya bekerja sama dengan perusahaanku. Dia menyerahkan proposalnya. Aku membacanya sekilas.


"Saya tidak bisa putuskan sekarang, proposal ini harus saya bahas dengan tim yang terkait. Jadi mungkin nanti, untuk pertemuan berikutnya guna membahas masalah ini, akan saya sampaikan lewat sekretaris saya."


"Baiklah Pak Langit, saya mengerti. Ditunggu kabar selanjutnya. Semoga saja kabar baik. Kalau begitu saya pamit, terima kasih pak ... selamat siang."


"Sama-sama, selamat siang Pak." Saat aku melihat Tuan Hartono selintas aku seperti melihat Jingga, entahlah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2