Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 28. Perdebatan hangat


__ADS_3

Pagi hari ini adalah sarapan pertama Jingga menjadi istri, Dia ingin masak tetapi dilarang oleh Senja. Akhirnya Jingga melihat saja Senja dan Bibi memasak. Dia duduk di bangku dan membantu apa saja yang bisa di lakukannya sambil duduk.


Jingga merasa hangat, apalagi semalam Langit memperlakukannya dengan baik. Langit tidak memaksa Jungga dan bersedia tidur di sofa. Jingga yakin badan Langit pasti akan terasa pegal ketika dia bangun, karena sofa itu lebih kecil dari tubuhnya.


Mungkin karena Jingga tidak pernah mendapat perhatian dan dekat dengan lelaki, bahkan sampai sekamar, dia merasa sedikit risih. Namun, dia sadar kalau Langit adalah suaminya. Jingga harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan Langit di sekitarnya.


"Jingga, ini di minum ya." Senja meletakkan segelas susu hamil rasa mangga, agar Jingga tidak mual.


"Terima kasih, Mah,"


"Kenapa kamu sudah bangun? Ini baru jam setengah enam," tanya Senja.


"Jingga gak bisa tidur lagi Mah, habis sholat subuh."


"Kamu mau bubur ayam, nanti Bibi belikan. Mamh takutnya kamu lapar, masakan Mamah belum matang."


"Tidak Mah, aku nunggu masakan Mamah aja."


"Sayang, kamu kok ada di sini. Aku bangun kamu gak ada. Harusnya kalau kamu bangun, aku juga dibangunin ya." Datang Langit dan langsung menegur Jingga.


"Manja amat!" sindir Senja.


"Biarin sama istri aku ini, bilang aja Mamah iri!"


"Iri sama kamu! Sorry ya Mamah tiap hari juga di manjain sama Papah. Kamu mah baru 'kan?" Senja tidak mau kalah. Jingga tersenyum tipis melihat perdebatan hangat suaminya dan Mamah mertuanya. 'Suami' hal yang dulu Jingga anggap tidak mungkin menikahi Langit. Kini dia sudah sah bersuamikan Langit.


"Aduh, pagi-pagi kalian sudah ribut! Gak malu sama Jingga?" tanya Angkasa yang baru turun dengan pakaian santainya.


"Pagi sayang, ini Langit, masa bilang Mamah iri sama dia. Padahal dia yang baru nikah, kita mah udah sering mesra-mesraan ya sayang." Jingga semakin lebar tersenyum mendengar perkataan Senja.


"Jingga harap maklum ya, sama mereka berdua. Itu cara mereka berinteraksi ya seperti itu. Kalau salah satu nggak ada, rumah jadi sepi," ucap Angkasa seraya duduk di samping Jingga.


"Iya, Pah. Aku malah senang jadi terasa hangat rumahnya." Jingga tersenyum pada Angkasa.


"Jingga kita ke kamar yuk! Aku mau mandi, sebagai istri kamu harus menyiapkan pakaianku." Langit mengajak Jingga ke kamar.


"Iya, Mah Pah, aku ke kamar dulu." Jingga pamit pada Senja dan Angkasa.


"Iya sayang, tapi minum susunya dulu." Senja mengingatkan. Jingga lalu meminum susunya. Dia kemudian beranjak bangun dan menyusul Langit.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Senja langsung duduk di tempat tidur. Perut atasnya yang bekas luka tembak terasa sakit. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Senja teringat Langit yang sedang mandi. Dia lalu bangkit dan melangkah perlahan ke arah wardrobe Langit. Jingga mengambil kaos dan celana panjang santai. Hari ini Langit tidak akan ke kantor.


Jingga kemudian berbaring setelah meletakkan pakaian Langit di atas tempat tidur. Beberapa menit kemudian, Langit keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk terlilit di pinggangnya.


Wajah Jingga bersemu merah melihat badan Langit yang polos tanpa pakaian. Jingga memalingkan wajahnya, mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang berada di samaping meja.


"Kenapa wajah kamu merah? Aku ini suami kamu sekarang, jadi tidak usah malu. Kamu akan sering melihat aku seperti ini bahkan mungkin lebih fulgar dari ini." Langit tersenyum menggoda Jingga.


"Cepat pakai baju, nanti kamu masuk angin." Jingga menyuruh Langit berpakaian dengan alasan masuk angin, padahal sesungguhnya dia malu melihat Langit seperti itu.


"Tenang, aku sudah terbiasa seperti ini. Aku tidak akan masuk angin."


"Iya, pokoknya cepat berpakaian, tidak baik lama-lama seperti itu."


"Baik, Nyonya Langit," ucap Langit sambil mengambil bajunya dan melepaskan handuk itu.


"Aa!" Jingga teriak secara spontan,lalu menutup matanya.


"Kamu kenapa teriak-teriak? Nanti Mamah pikir kita sedang melakukan hal yang aneh-aneh."


Jingga masih menutup wajahnya. "Kamu kenapa buka handuk di sini, kan pornografi."


"Kamu itu lucu, suami baru juga buka handuk sudah teriak, bagaimana kalau aku buka semuanya? Apakah kamu akan Lari?" tanya Langit semakin menggoda Jingga.


"Aku baru tahu kalau Kak Langit itu jail juga nyebelin."


"Iya, tapi cuma sama kamu aja. Kita ke bawah yuk. Aku lapar." Langit mengajak Jingga turun, dia menjulurkan tangannya pada Jingga.


Sebenarnya, perut Jingga masih terasa linu, tapi dia tidak enak kalau terus di kamar. " Ayo." Jingga menggapai tangan Langit. Mereka saling menggenggam dan berjalan keluar kamar.


"Kamu kenapa, perut kamu sakut?" tanya Langit yang merasakan genggaman tangan Jingga yang kencang, dia lalu melihat Jingga sedang mengusap perutnya. Langit kemudian teringat Jingga pernah terluka.


"Aa." Jingga reflek teriak karena Langit tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.


"Kamu suka sekali teriak." Langit menyindir Jingga.


"Kamu suka sekali mengejutkan orang." Jingga membalas perkataan Langit.


"Kok kita ke kamar lagi, kamu gak jadi makan katanya lapar?" tanya Jingga bingung karena Langit membawanya kembali ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu di kamar aja, luka kamu belum sepenuhnya pulih. Jangan dulu banyak bergerak dan naik turun tangga. Aku akan bawakan sarapan kamu ke lamar. Kita makannya di sini aja." Jingga mengangguk, Langit kemudian beranjak keluar untuk mengambil makan.


"Mah, aku sama Jingga mau makan di kamar aja," ucap Langit pada Senja.


"Kamu itu, Jingga masih sakit, jangan dulu di apa-apain!" ucap Senja.


"Siapa yang apa-apain Jingga?"


"Kamu! Sampai Jingga teriak-teriak."


"Ya ampun Mamah, bukan seperti itu kejadiannya, Jingga cuma terkejut ketika aku buka handuk."


"Jingga masih polos, baru lepas handuk aja sudah teriak." Bintang berkata sambil terkekeh. Namun, semua justru jadi melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Apa?" tanya Bintang yang tidak sadar kalau mereka melihatnya karena ucapannya barusan.


"Jadi maksud kamu, kamu sudah tidak polos lagi?"


"Hah, kenapa nanya begitu?"


"Tadi kamu bilang, Jingga masih polos baru lepas handuk aja sudah teriak, itu berarti kamu sudah tidak polos, begitu?" tanya Angkasa


"Ya ampun Pah, bukan begitu. Aku ngomong seperti itu bukan berarti aku udah pernah. Tapi kan aku sering nonton dan lihat film-film barat, malah aku sering liat langsung mereka bertelanjang dada di pantai." Bintang membela diri.


"Aku juga sering lihat orang gak pakai baju di pantai," celetuk Bulan. Mentari melotot mendengarnya.


"Aduh, ini gara-gara kalian bahas begituan di depan anak kecil," protes Mentari.


"Ya udah, Lang kamu ke kamarvaja nanti makanan untuk kamu dan Jingga diantarkan Bibi.


"Iya Mah, makasih." Langit lalu beranjak pergi.


...----------------...


Halo readers, author kembali up semoga suka ya..


Terima kasih atas like, komen dan hadiahnya.


Author juga ada rekomendasi cerita yang menarik dari teman author jangan lupa mampir dan berikan like ya Judulnya CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER karya COVIE

__ADS_1



__ADS_2