
Langit sudah berada di kamar Jingga, Langit membiarkan posisi pintu dalam keadaan terbuka. Dia tidak ingin keberadaannya di kamar ini menimbulkan fitnah.
"Ada apa Jingga, kau memanggilku?" tanya Langit seraya dia duduk di sofa, sementara Jingga duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku hanya ingin tahu, kesungguhan hatimu untuk menikahiku, bukanlah terpaksa karena aku sudah hamil anakmu. Jika memang hanya karena kehamilan ini ... sungguh, aku tidak masalah bila harus membesarkannya sendiri. Aku juga tidak menuntutmu, jadi kau tidak perlu menikahiku."
"Aku juga tidak akan menikahimu jika hanya untuk bertanggung jawab demi anak itu. Cukup berikan kau uang dan membiayai kebutuhan anakku." Langit tahu apa yang menjadi kekhawatiran Jingga. Sementara itu Jingga termenung menatap Langit.
"Aku ingin menikahimu karena aku mencintaimu dan ingin hidup bersamamu. Melihatmu waktu itu, serta membayangkan kau akan pergi dari dunia ini, membuatku sadar, bahwa aku lebih takut kehilanganmu dari pada terikat pada suatu pernikahan. Kau mengalahkan phobia ku, Jingga." Pancaran mata Langit dan nada bicaranya menyiratkan keseriusan, Langit bicara dari hati dan bersungguh-sungguh dengan keputusannya.
"Aku tahu bagaimana dirimu, wajar bagiku menjadi ragu padamu. Untuk saat ini aku percaya akan kesungguhanmu. Semoga itu untuk selamamya, yakinkan aku sepanjang hidupmu. Ayo kita menikah!" Jingga akhirnya memberi keputusan pada Langit.
Langit terkejut mendengarnya, dia pikir dia salah dengar. "Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Langit untuk memastikan.
"Tidak, ayo kita menikah!" Jingga mengulangi jawabannya.
"Alhamdulillah." Langit langsung bersujud dan membaca do'a sujud syukur. Dia sangat bahagia, hatinya berbunga-bunga.
"Aku akan selalu mencintaimu setiap hari, dan akan kubuktikan sepanjang hidupku," ucap Langit setelah ia duduk kembali di sofa.
Jingga mengangguk. "Buktikanlah sepanjang hidupmu," timpal Jingga.
"Aku juga mempunyai syarat untukmu, apakah kau bersedia mengabulkannya?" tanya Jingga.
"Katakan, akan ku kabulkan!" Langit menjawab dengan yakin.
"Syaratnya yaitu, pernikahan kita tertutup, aku tidak mau ada pesta atau semacamnya, tidak boleh di ketahui publik, dan aku ingin tinggal yang jauh dari keramaian." Dahi Langit berkerut mendengarnya.
__ADS_1
"Aku mengerti, jika kamu tidak ingin ini dirayakan dengan pesta besar. Namun, aku tidak mengerti kenapa harus di sembunyikan dari publik? Juga kenapa ingin tinggal di tempat terpencil?" tanya Langit heran.
"Ada alasan yang tidak bisa aku jelaskan padamu, intinya itu adalah yang terbaik untuk kita semua," ucap Jingga.
Langit tersenyum, "Aku pikir setelah kau memutuskan untuk menikahiku, tidak ada lagi rahasia di antara kita. Ternyata masih saja kau tidak percaya padaku."
"Maaf, bukan begitu maksudku. Aku memang tidak bisa menceritakan ini padamu, tapi jika nanti waktunya sudah tepat aku akan menceritakan semua rahasiaku."
"Kapan, kau pikir waktu yang tepat itu?"
"Entahlah, jangan tekan aku Langit! Aku tidak akan bicara atau aku akan pergi," ancam Jingga. Langit lalu berdiri dan menghampiri Jingga.
"Baik, aku tidak akan memaksamu bicara. Akan ku ikuti syaratmu. Aku juga punya syarat, yaitu apa pun yang terjadi jangan pernah pergi dariku, tetap di sisiku sampai kapan pun. Apa kau bersedia?" tanya Langit. Jingga tersenyum.
"Aku bersedia," jawab Jingga.
"Apa? Nanti malam?" Jingga terperanjat mendengarnya, dia tidak berpikir kalau pernikahannya akan secepat ini.
"Iya, nanti malam. Aku tidak mau menunda hal yang baik, kau sudah bersedia, jadi menunggu apa lagi?" Langit menjelaskan pada Jingga yang terlihat shock.
"Kenapa harus secepat ini?" tanya Jingga.
"Kau tidak ingin pesta besar, ingin pernikahan yang disembunyikan dari publik. Jadi tidak butuh banyak persiapan hanya penghulu dan saksi. Ku rasa nanti malam juga bisa. Sudah ku bilang hal baik jangan di tunda. Aku pergi." Langit kemudian beranjak keluar. Dia akan mengatakan pada Angkasa dan Senja tentang keputusannya bersama Jingga. Lalu dia akan ke KUA, untuk mendaftarkan pernikahannya, walau dilakukan secara diam-diam, dia ingin pernikahan ini sah di mata hukum dan agama.
Langit pergi ke ruang keluarga, di sana semua sudah berkumpul. Mungkin Bintang sudah menceritakan semuanya. Wajah Langit berubah menjadi sendu, dia berjalan lunglai menghampiri mereka.
Mentari dan Senja yang melihat kedatangan Langit dengan wajah sendunya, curiga kalau jingga tidak setuju menikah dengan Langit. "Langit, bagaimana apa Senja mau menikah denganmu?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana lagi Kak?" tanya Langit pada Mentari.
"Kamu sabar ya, nanti Mamah akan bicara pada Jingga pelan-pelan." Senja menguatkan Langit.
"Tidak usah Mah, Mamah cukup siapkan saja pakaian untuk akad nikah Jingga dan aku malam ini, aku akan pergi ke KUA." Langit merubah mimik wajahnya menjadi ceria.
"Maksudmu, Jingga setuju?" tanya Mentari.
"Iya, tapi dia mau pernikahan sederhana, yang hanya di hadiri kita saja, dan tidak di ketahui publik."
Plak ...
Senja memukul punggung Langit. "Kenapa kamu ngerjain Mamah? Selamat Langit, akhirnya Jingga mau menikahimu. Ayo Tari, kita ke butik sekarang, cari pakaian untuk Jingga dan Langit. Bintang tolong siapkan semuanya di rumah. Dekor rumah dengan baik ya. Walaupun hanya ada kita, setidaknya suasananya seperti pernikahan."
"Oke, Mah." Bintang pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel.
"Jingganya gak ikut, Mah?" tanya Mentari.
"Jingganya sedang tidak enak badan. Jadi kita saja yang pergi." Senja dan Tari pergi ke kamar mengambil tasnya masing-masing dan pergi ke butik Senja.
"Ayo Langit, Papah antar kamu ke KUA." Angkasa ikut Langit ke KUA. Semuanya sibuk dengan tugas masing-masing.
...----------------...
Terima kasih readers sudah membaca ceritaku yang receh, terima kasih like dan komennya juga sudah masukin cerita ini ke favorit. Apalah arti tulisanku tanpa kalian. Love you all 💖💖💖💖 .
Author ada rekomen cerita keren, dari teman author. Sambil nunggu author up di baca ya...jangan lupa masukin favorit juga.
__ADS_1