
Sampailah Langit dan Jingga di villa milik Bintang. Rupanya Bintang sudah menyiapkan segalanya, bahkan beberapa orang asisten untuk melayani mereka. Villanya cukup terpencil tapi sangat asri dan dikelilingi pohon-pohon besar, nampak juga sawah yang terhampar di belakang Villa. Villa ini terletak di pegunungan. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya sangat jauh.
Jingga mengerti sekarang kenapa Bintang menyuruhnya membeli banyak barang dan juga makanan. Bintang juga sudah menyiapkan banyak stock makanan frozen food di villa. Kalau sayuran tinggal petik saja di sini.
Ini adalah tempat persembunyian surga. Pemandangan yang indah, berudara sejuk dan sangat tenang. Begitu sampai mereka langsung mandi lalu makan.
"Sayang, habis makan kamu istirahat. Jangan sampai kamu dan si dede kelelahan," ucap Langit.
"Iya, kamu temenin aku ya, ada yang ingin aku bicarakan."
"Ok."
Selesai makan, mereka pergi ke kamar. Jingga duduk di tepi tempat tidur, Langit duduk di sampingnya. Jingga memutuskan untuk mengatakan semua rahasianya minus teman-teman agennya dan karena mereka sekarang adalah suami istri.
Langit mendengarkan dengan seksama, dia tidak menduga kalau Kevin adalah kakak tiri Jingga yang hampir saja memperkosa Jingga. Bahkan Hartono adalah ayah Jingga yang justru menyiksa Jingga, saat Jingga mengadukan kelakuan Kevin.
Seorang ayah harusnya bisa melindungi anaknya dan orang pertama yang pasang badan ketika sang anak di perlakukan tidak baik oleh seeorang, bukan justru menyakitinya dan berpaling saat anaknya butuh.
"Aku tidak menyangka kalau mereka adalah keluargamu, ternyata Pak Hartono bisa sekejam itu? Aku pernah melihat anak perempuannya, dia memperlakukannya dengan hangat dan sayang."
"Itu adalah adiknya Kevin, aku tidak tahu kenapa Ayah membenciku dan lebih sayang pada Kakak-Kakak tiriku."
__ADS_1
"Kamu yang sabar, suatu hari nanti Ayahmu akan menyadari kesalahnnya dan menyayangimu."
"Saat waktu itu tiba, mungkin aku sudah tidak di dunia ini lagi."
"Kamu ngomong apa, sih?" Langit tidak suka Jingga berkata seperti itu.
"Umur tidak ada yang tahu, karena saat ada kesempatan gunakan sebaik mungkin. Jika waktuku tiba, kuharap kau menyayangi anak kita jangan seperti Ayahku yang membuang anaknya."
"Aku gak suka kamu bicara seperti itu!"
"Aku takut tidak ada kesempatan, karena itu aku katakan sekarang. Carilah wanita yang baik dan menyayangi dia setulus hati. Jangan lihay fisik tapi lihatlah hatinya dengan hatimu bukan dengan mata." Entah kenapa Jingga ingin mengatakan itu semua.
"Jingga kita sudahi saja pembicaraan ini. Kau membuatku takut." Langit bangkit dan menuju pintu.
"Menenangkan pikiran di belakang." Langit lalu pergi keluar.
"Aku hanya ingin kau siap menghadapi keadaan terburuk. Belakangan ini aku selalu bermimpi buruk dan hatiku tidak tenang." gumam Jingga. Dia lalu mengambil salah satu SIM card perdana. Jingga membeli banyak kartu baru dari berbagai Jenis.
Jingga mengambil satu ponselnya yang terlihat jadul. Lalu di pasangkannya kartu itu. Setelah aktif Jingga mengirim pesan pada seseorang yang biasa dia panggil ayah.
Hartono yang sedang duduk di kantornya melirik ponselnya yang berbunyi. Dia lalu mengambilnya. Di lihatnya ada notifikasi menerima pesan tidak namanya berarti ini adalah orang asing yang dia tidak kenal. Untung bukan telepon, karena Hartono tidak akan mengangkat telepon dari orang yang tidak di kenalnya.
__ADS_1
Dia membaca pesan itu. "Aku mencintaimu walau kau membenciku. Sejahat apa pun dirimu padaku, di dalam tubuh ini mengalir darahmu. Pesan ini adalah bakti terakhir ku untukmu. Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu gila kerja, badanmu juga butuh istirahat. Aku tidak masalah jika kau tidak mencintaiku tapi ku mohon cintai dirimu sendiri, love you Ayah." Begitulah isi pesan itu. Hartono termangu menatap ponselnya. Apakah ini Jingga? Di mana dia sekarang? Bagaimana kabarnya? Banyak pertanyaan dalam benak Hartono.
Dia lalu menyimpan ponsel itu. Kilasan tentang kebersamaan mereka terbayang. Bagaimana mereka dulu begitu dekat, sampai dia tahu kalau istrinya selungkuh, saat kecelakaan itu istrinya sedang bersama seorang pria. Mereka tewas bersama. Hartono merasa marah dan sangat sakit hati. Wajah Jingga yang semakin mirip dengan istrinya membuat dia melampiaskannya pada Jingga.
Setelah anaknya pergi dari rumah ada sedikit kekhawatiran di hatinya. Namun dia pikir itu lebih baik. Jika Jingga terus ada di dekatnya dia takut justru akan menyakiti Jingga lebih dalam, karena itu dia tidak mencari Jingga. Namun, dia tetap mendoakan semoga Jingga bahagia di mana pun dia berada.
Dengan adanya sms ini Hartono merasa lega, karena itu berarti Jingga masih hidup. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya. Dia sengaja tidak menghapus pesannya, biarlah itu sebagai kenang-kenangan dari Jingga.
Sementara Jingga langsung menghapus pesan itu lalu membuka ponselnya dan mengeluarkan kartunya. Di gunting-guntingnya kartu itu, kemudian dia membuangnya. Di masukkan kembali ponsel jadul itu ke dalam tasnya dan di simpan di dalam lemari.
Jingga kemudian berbaring di atas peraduan. Setitik air mata menetes dari matanya saat membayangkan masa lalu dengan ayah dan bunda. Lama-lama tetesan itu menjadi aliran air bak sungai di iringi suara isakan.
Pintu terbuka, masuklah Langit. Jingga segera memiringkan badannya membelakangi Langit dan mengusap air matanya, dia menggigit bibir merahnya untuk menahan suara isakan agar tidak keluar.
Langit yang melihat Jingga sedang tertidur menghampirinya dan ikut berbaring di sebelah Jingga. Dia lalu memeluk istrinya dari belakang. "Jangan tinggalkan aku, Jingga. Tetaplah bersamaku sampai kita tua nanti. Perkatanmu seperti menyiratkan perpisahan. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku mencintaimu." Langit lalu mencium puncak kepala Jingga, matanya lalu terpejam.
Jingga berusaha menahan agar tidak terisak, dia semakin kencang menggigit bibirnya. Kata-kata Langit justru membuatnya sedih. Dia merasa tidak akan bisa mengabulkan permintaan Langit. "Tuhan, bahagiakanlah orang-orang yang kucintai." batin Jingga.
...----------------...
Halo author mau rekomendasikan lagi nih novel yang kece, dari author Icha Lauren.
__ADS_1