
Malam hari, di ruang tengah keluarga Biantara, suasananya sudah berubah. Ruangan itu sudah didekor dengan sangat rapi, terlihat elegan dan mewah. Jingga tak habis pikir, pernikahan ini hanya di hadiri oleh mereka saja, tapi dekorasinya sangat mewah dan elegan.
Jingga meminta pada Langit tentang wali nikahnya di wakilkan saja oleh wali hakim. Karena tidak mungkin Jingga meminta pada Ayahnya, yang bahkan sudah tidak menganggapnya sebagai anak. Hal itu juga akan membahayakan keluarga Langit.
Mereka tidak tahu jika semua pegawai yang mendekor tempat itu adalah teman-teman agen Bintang. Dia minta bantuan keamanan agar tidak ada penyusup. Bintang juga sudah minta untuk mundur tetapi atasannya belum mengizinkan. Untuk sementara ini, dia diberikan cuti sementara.
Langit tampak sangat tampan dalam setelan jas berwarna putih, Jingga tampil dengan kebaya putih panjang membuatnya nampak anggun dan cantik. Langit sampai terpesona oleh kecantikan Jingga.
Yang lainnya juga tampil dengan pakaian yang seragam, kebaya berwarna peach. Bahkan semua pegawai yang bekerja di sana juga memakai seragam kebaya berwarna hijau.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Bapak Penghulu.
"Iya, Pak silahkan."
Langit dan Jingga duduk di depan penghulu, mereka mulai acara akad nikah. Jingga teringat pada orang tuanya. Pada ibunya yang telah tiada, andai dia berada di sini, akankah dia bahagia? Sedangkan Jingga nikah sudah dalam keadaan hamil.
Jingga juga teringat pada ayahnya, yang dulu sangat mencintai dan menyayanginya. Menikah dengan ayah sebagai wali nya adalah impian setiap anak anak perempuan. Namun, apa daya jika sang ayah kini sangat amat membencinya.
"Sah," teriak orang-orang di sekeliling Jingga membuat lamunan Jingga tentang orang tuanya buyar.
"Alhamdulillah. Kita sudah sah menjadi suami istri Jingga." Langit menengok pada Jingga, yang hanya di tanggapi senyuman oleh Jingga.
Setelah acara akad selesai, kini semua berbaris untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, di lanjut dengan makan-makan.
__ADS_1
"Jingga selamat ya, semoga sakinah, mawaddah dan warahmah." Senja memeluk Jingga dan mengucapkan selamat.
"Makasih Mah," balas Jingga.
"Langit jaga Jingga dan anakmu dengan baik, jangan sakiti mereka atau Mamah pecat kamu jadi anak!" Senja beralih ke Langit.
"Mamah kalau sama Jingga bicaranya lembut, kok sama aku malah ngancam. Bukannya di kasih selamat di doakan yang baik," protes Langit.
Senja terkekeh dan membelai pipi Langit. "Udah nikah mau jadi Bapak masih baperan aja. Selamat ya Langit, anak Mamah yang tampan dan ngeselin. Mamah lega soalnya sekarang Mamah gak perlu ngurusin kamu lagi ada Jingga yang menggantikan tugas Mamah. Jingga kamu harus sabar ya ngurusin Langit. Dia itu banyak maunya, bikin kesel, keras kepala ...."
"Udah ... udah! Kok, malah jadi jelekin Langit sih." Langit kesal dengan Senja.
Mereka semua bergantian mengucapkan selamat pada Langit dan Jingga. Di luar gerbang terlihat ada beberapa mobil yang terparkir agak jauh. Terdapat beberapa orang di dalamnya, mereka sedang mengawasi rumah Angkasa Biantara.
"Sepertinya ada acara di rumah itu."
"Tidak mungkin, masa pernikahan seorang keturunan Biantara tidak pakai pesta dan secara sederhana begini." Temannya yang berada pendamping menyangkalnya.
"Iya juga, sih. Lalu ada acara apa?" tanyanya lagi.
"Entahlah, kita awasi saja. Buat apa kita pikirin, kita cuma di suruh untuk mengawasi dan memcari tahu apa hubungan Angela dengan Bintang. Apakah Angela ada di rumah ini atau tidak?"
"Oke."
__ADS_1
"Aku lapar, kita cari makan dulu yuk!"
"Kamu mau di bunuh bos! Kalau lapar cari saja makan sendiri, salah satu dari kita harus ada yang mengawasi, aku nitip, ya."
"Huh, marah-marah saja, ujung-ujungnya nitip juga. Ya udah, aku pergi dulu. Kerja yang benar, awasi jangan sampai lengah!" Orang itu lalu keluar dan berjalan kaki menyusuri jalan mencari penjual makanan. Tidak terpikir olehnya untuk pesan secara on line.
"Bro, ada yang mengawasi arah jam 10." Seseorang berambut cepak yang berada di dalam gerbang berbicara pada temannya.
"Laporkan pada Bintang," ucap orang itu sambil melihat ke arah mobil.
"Siap, aku ke dalam dulu." Orang berambut cepak itu beranjak ke dalam.
...***...
Acara telah selesai, Penghulu telah lama pulang. Mereka sekarang sedang berkumpul di ruang keluarga. Jingga terlihat lelah.
"Sayang, kalau kamu ngantuk, kamu istirahat aja di kamar. Langit antar Jingga ke kamarmu! Lalu kamu ke sini lagi. Mamah mau bicara sama kamu."
"Iya, Mah. Ayo sayang, kamu harus istirahat sudah malam. Kasihan anak kita, dia pasti lelah."
"Iya," jawab Jingga dengan lemas karena dia benar-benar mengantuk. Mereka berdua pergi ke kamar Langit.
...----------------...
__ADS_1
Rekomendasi karya buat kamu.. jangan lupa mampir ya.