Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 29. Mengungkapkan Rahasia Pada Langit.


__ADS_3

Langit naik kembali ke kamarnya, Jingga sedang berbaring menatap langit-langit yang berwarna putih. Jingga tak menyangka hidupnya berubah secara drastis. Kehamilannya merubah jalan hidupnya.


"Sayang, kamu sedang melamun apa?" Langit datang dan bertanya.


"Aku hanya berpikir, hidupku berubah sangat cepat. Apa kau tidak menyesal menikah denganku?" tanya Jingga.


"Apa kau menyesal?" Langit balik bertanya.


"Saat ini tidak." jawab Jingga.


"Itulah jawabanku. Kita baru menikah kemarin, dan aku bahagia bukan menyesal. Bagaimana kalau kau tanyakan lagi nanti 50 tahun kemudian? Saat kita sudah keriput." Jingga tertawa mendengar perkataan Langit.


"Tawamu sangat cantik, sudah lama aku tidak melihatnya. Tertawalah dan bahagia bersamaku." Langit membelai pipi Jingga.


"Khem ... maaf Tuan dan Nyonya saya mengantarkan makanan untuk sarapan." Bibi datang di waktu yang tidak tepat wajahnya bersemu merah. Dia merasa malu melihat kemesraan anak majikannya ini.


"Eh, Bibi. Masuk Bi," ucap Jingga canggung. Dia juga malu pada Bibi.


"Letakkan saja di meja itu Bi, biar nanti saya yang ambil," titah Langit.


"Iya Tuan." Bibi lalu meletakkan makanan itu di meja beserta nampannya.


"Makasih, ya Bi," ucap Langit.


"Sama-sama Tuan." Bibi lalu keluar. Langit mengambil makanan di piring lalu memberikannya pada Jingga. Dia juga mengambil makanan untuknya.


"Kamu mau disuapin?" tanya Langit. Jingga menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, makasih." Jingga lalu duduk tegak dan mulai makan. Dia mencoba dulu sedikit, takutnya akan terasa mual. Setelah dirasa tidak apa-apa, Jingga mulai makan dengan lahap.


Langit juga makan bersama Jingga. Mereka tidak menyadari kalau ada yang mengintip di balik pintu.


"Hayo, lagi apa?" tegur seseorang dengan berbisik. Orang yang di tegur hanya tersenyum malu karena ketahuan mengintip.


"Maaf, Non Bintang. Permisi saya mau ke belakang lagi."

__ADS_1


"Iya, Bi." Bintang geleng-geleng kepala melihat kelakuan ART nya yang berumur 45 tahun itu. Dia sudah lama bekerja di rumahnya. Bintang lalu mengetuk pintu kamar Langit yang sedikit terbuka.


"Masuk!" Suara Langit terdengar oleh Bintang. Dia kemudian masuk ke dalam.


"Ada apa, Bin?" tanya Langit. Bintang duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Aku cuma mau melihat keadaan Kak Jingga, bagaimana Kak lukanya apa tidak ada masalah kandungan Kakak?" Bintang memanggil Jingga Kakak walau umurnya lebih tua dari Jingga karena sekarang Jingga sudah menjadi Kakak iparnya.


"Alhamdulillah kandunganku baik, dia menembaknya di atas kandunganku. Cuma lukaku terasa linu aja."


"Kakak harus sering kontrol, karena takutnya seiring semakin besarnya usia kandungan akan menekan ke luka tembak Kakak."


"Iya Kak Bin, terima kasih sudah diingatkan." Jingga tetap memanggilnya Kakak karena walaupun statusnya adik ipar usianya lebih tua dari Jingga.


"Jingga, apa tidak ada masalah di kemudian hari dengan kandunganmu?" tanya Langit.


"Semoga tidak Kak, nanti kita periksa ke Dokter kandungan saja."


"Lebih baik Dokternya saja yang di panggil ke sini, kak."


"Aku masih sanggup 'kok buat jalan, gak usah di panggil." Jingga menolak.


"Maksudnya?" tanya Langit tidak mengerti.


"Jadi mereka mengawasi rumah ini, sejak kapan?" tanya Jingga. Dia tahu siapa yang di maksud.


"Sejak hari pernikahan," Jawab Bintang.


"Berarti kemarin." Jingga bergumam.


"Hello, aku menunggu penjelasan. Ada apa sebenarnya ini?" tanya Langit. Jingga dan Bintang saling tatap, Bintang lalu mengangguk pada Jingga.


"Begini Kak, sebenarnya aku ini bekerja menjadi agen, tapi maaf aku tidak bisa mengatakan agen apa? Karena itu sangat rahasia dan lebih baik Kakak tidak tahu, untuk keselamatan Kakak. Intinya saat itu aku sedang bertugas dan tiba-tiba pria yang bersama Bintang ingin menembak Bintang, saat aku melihatnya aku langsung menghalanginya hingga aku yang terkena, tapi tetap saja dia berusaha menembak Bintang lagi. Untungnya hanya terkena bahunya." Jingga menjeda sebentar.


Langit mendengarkan dengan serius. Meski banyak pertanyaan yang bercokol di hatinya, dia menahannya sampai Jingga selesai berbicara. Jingga menghela nafas dan melanjutkan penjelasannya.

__ADS_1


"Mereka pasti mencariku ke rumah sakit tapi tidak dapat menemukanku. Aku yakin mereka mengintai rumah ini karena saat itu aku bersama Bintang. Mereka sedang mencari tahu apa hubunganku dengan Bintang. Kenapa kau baru mengatakan ini padaku Kak?" tanya Jingga pada Bintang.


"Kenapa kalian para wanita menyembunyikan ini dari ku? Ini adalah hal yang sangat berbahaya, mengancam nyawa." Langit bertanya pada Bintang dan Jingga.


"Kak, Bintang minta maaf sebelumnya. Sebenarnya Bintang tidak ingin menceritakan ini pada Kak Langit dan tetap merahasiakannya tapi brrhubung Kakak sekarang suami Jingga dan Kakak juga bisa terancam aku memutuskan untuk membuka semuanya agar Kakak juga bisa waspada."


"Kalau begitu ayo jelaskan sedetail mungkin!"


"Nanti saja Kak, menjelaskannya. Sekarang menurutku, Kakak harus segera pergi dari rumah ini bersama dengan Kak Jingga. Agar keluarga ini juga tidak terancam. Aku sudah siapkan tempat untuk kalian. Sementara Kalian di sana dulu, sampai keadaan aman. Hitung-hitung kalian berbulan madu."


"Lalu pekerjaan Kakak bagaimana?"


"Cuti lah, Kak!" ucap Bintang.


"Kalian ini, merahasiakan sesuatu yang sebesar ini. Lalu sekarang kamu main nyuruh aja." Langit menatap adiknya dan Jingga bergantian.


"Sebelum Kakak pergi, aku harap Kak Jingga kontrol dulu lengkap dari atas sampai bawah, luar dalam juga kandungannya. Karena di sana jauh dari rumah sakit." Bintang tidak perduli pada Langit yang protes dia terus mengatakan rencananya.


"Suruh Dokter ke sini. Dokter bedah, Dokter kandungan dan Dokter penyakit dalam. Aku akan pergi untuk mengurus pekerjaanku dulu sebelum kita cuti," ucap Langit. Lalu dia keluar dari kamar.


"Bintang, apakah mereka melakukan sesuatu?" tanya Jingga.


"Tidak, mereka hanya diam mengawasi. Di luar juga ada tim ku yang berjaga. Kak maaf ya aku harus mengatakannya di depan Langit, menurutku ini yang terbaik."


"Iya Bintang, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku juga sudah berniat menceritakanya tapi bingung bagaimana mulai dari mana? Kamu justru menolongku mengatakannya pada Langit." Jingga tersenyum pada Bintang.


"Nanti kalau sama yang lain Kakak bilang saja mau bulan madu tapi minta semua.merahasiakan kepergian Kakak. Bilang saja Kakak akan bulan madu keluar negeri."


"Baiklah."


"Kita harus menyiapkan segalanya, ayo.kit buat list untuk kebutuhan Kakak selama dua minggu di sana." Bintang lalu berdiri dan menuju meja di samping tempat tidur. Dia membuka laci lalu mengambil pulpen dan kertas.


Mereka mulai mendata apa saja barang yang di perlukan. Setelah selesai Bintang menelepon Langit untuk membeli barang yang ada di list. Jingga mengirim list itu via Whatsap.


...----------------...

__ADS_1


Satu lagi rekomendasi dar teman author ceritanya bagus banget. Jangan lupa mampir ya.



__ADS_2