
"Jingga! ... Jingga!" Langit membangunkan Jingga yang terlihat gelisah, dahinya berkeringat, sepertinya Jingga bermimpi buruk. Langit menggoyangkan bahu Jingga agar Jingga terbangun.
"Jingga!" Langit memanggilnya sekali lagi. Mata Jingga terbuka, nafasnya memburu. Dia bangun dan duduk dengan nafas yang masih terengah.
"Kak Langit!" Jingga memeluk Langit.
"Kamu mimpi apa? Sampai keringetan begini." tanya Langit.
"Aku gak tahu aku lupa, yang pasti mimpinya seram," jawab Jingga.
"Itu cuma mimpi, tenanglah. Aku ada di sini. Lain kali kalau kau mimpi seperti itu panggil aku dalam mimpimu, aku akan datang dan menolongmu." Langit menenangkan Jingga dan menepuk punggung Jingga dalam pelulannya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Jingga. Dia melepaskan pelukannya pada Langit.
"Jam setengah dua. Kau belum sholat dzuhur. Aku membangunkanmu untuk sholat."
"Aku tidur lumayan lama."
"Tidak apa-apa, bagus untuk kesehatanmu dan baby. Kalian harus banyak istirahat."
"Aku sholat dulu kak." Jingga bangkit dan hendak pergi ke kamar mandi.
"Jingga!" Langit memanggilnya. Jingga berhenti dan berbalik.
"Apa Kak?" tanya Jingga.
"Bisakah jangan memanggilku Kakak, tapi panggil aku Mas. Aku berasa menikah dengan adikku kalau kau panggil Kakak," ucap Langit lalu terkekeh.
"Jingga akan coba, Mas." ucap Jingga. Mendengar kata Mas terucap dari bibir Jingga, Langit merasa senang. Jingga kemudian berbalik lagi dan pergi ke kamar mandi.
***
Jingga dan Langit sedang makan berdua di meja makan. "Jingga kamu tidak lupa kan minum obat dari dokter?" tanya Langit.
"Aku sudah meminumnya"
__ADS_1
"Bagaimana kalau hari ini kita berjalan-jalan keluar?" tanya Langit.
"Aku belum kuat kalau harus jalan-jalan jauh dan lama. Kita di rumah saja."
"Baiklah terserah padamu." Nada bicara Langit, terdengar kecewa.
***
"Apa kamu serius?" tanya Senja pada Bintang, mereka sedang bicara di kamar Bintang.
"Iya, Mah. Aku serius."
"Kenapa kamu tidak bilang kalau nyawa Jingga terancam. Sehingga dia perlu mengasingkan diri?"
"Ini, lagi bilang!"
"Iya, tapi kan telat, harusnya Mamih ikut. Jadi bisa merawat Jingga."
"Terus, Mamah gangguin orang yang lagi bulan madu gitu?"
"Semoga Jingga baik-baik saja. Semoga mereka bahagia."
"Amin."
"Assalamu'alaikum." Datang Bulan dan Mentari yang baru saja kembali dari jalan-jalan mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab Senja dan Bintang.
"Oma, aku pulang."
"Iya, sayang. Wah kamu belanjanya banyak sekali."
"Iya, kami kan buat di sana nanti."
"Rumah ini akan sepi, Jingga dan Langit tidak ada, Kamu dan Bulan juga tidak ada." Senja berkata sambil menatap Mentari.
__ADS_1
"Maaf, Mah. Walau aku juga berat meninggalkan Mamah tapi aku harus pergi. Aku harus bekerja," ucap Mentari.
"Iya, sayang Mamah mengerti. Mamah harap kamu di sana bertemu jodoh kamu."
"Kenapa, jadi ke jodoh? Aku ke sana mau kerja bukan cari jodoh. Lagi pula siapa yang mau sama janda beranak satu."
"Kata siapa gak ada yang mau? Buktinya teman-temanku ada yang mau sama Kakak tapi Kakak yang nolak!"
"Bukan begitu, kalau gak ada cinta di hati masa dipaksaka," sanggah Mentari.
"Cinta tidak menjamin kebahagiaan, yang penting itu baik dan setia. Buat apa awalnya cinta lalu selingkuh," balas Bintang. Dia merasa kesal dengan mantan Kakak iparnya, yang selingkuh dan main tangan dengan Kak Mentari
"Hei, kalian hentikan. Di sini ada anak kecil." Senja mengingatkan.
"Bulan, ke dalam dulu." Pamit Bulan pada semuanya dengan wajah yang berubah sendu. Bintang merasa bersalah.
"Maaf, Kak. Aku kelepasan."
"Tidak apa-apa. Kakak ke dalam dulu. Kakak harus bicara pada Bulan."
"Iya, Kak."
Mentari lalu pergi ke kamarnya menyusul Bulan. "Bintang, kamu itu keterlaluan! Selama ini Bulan tidak tahu kenapa Papahnya tidak pernah lagi bersama Mamahnya, gara-gara kamu Mentari dalam situasi sulit saat ini." Senja menegur Bintang.
"Maaf, Mah. Bintang lupa kalau ada Bulan. Nanti Bintang akan bicara sama Bulan."
"Iya, lain kali hati-hati bicara."
"Iya, Mah."
...----------------...
Rekomendasi cerita keren dari AmandaFerina 06. yuk baca ceritanya bagus banget jangan lupa like dan komen ya. Terima kasih
__ADS_1