Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Lanjut Atau Mundur


__ADS_3

Langit tidak bisa fokus bekerja, dia selalu ingat dengan wanita yang di senggolnya secara tidak sengaja di bandara. Dia begitu cantik mempesona. Andaikan saat itu dia bisa berkenalan dan meminta no teleponnya, mungkin sekarang dia langsung meneleponnya.


Akhirnya hari ini tugasnya selesai dia bisa segera kembali ke Jakarta. Langit kembali tanpa memberitahu keluarga perihal kepulangannya. Sementara Jingga sedang makan siang bersama keluarga Biantara.


"Angel, ada apa? Kau terlihat gelisah." Senja merasa ada sesuatu yang membuat Jingga khawatir.


"Hm ... anu Mah eh Nyonya, Mamah saya kecelakaan saya harus segera kembali ke Inggris, tapi saya baru saja bekerja dengan Nyonya. Saya jadi bingung." Jingga menjalankan rencanakan untuk mundur dari misi seperti saran Roy.


"Innalillahi, kasihan sekali Mamah kamu. Saya akan ijinkan kamu pulang tapi bisa kan kalau kamu usahakan agar tidak lama, setidaknya sampai satu hari sebelum pergelaran kamu sudah kembali, bisa?" tanya Senja.


"Maaf Nyonya saya tidak bisa janji akan saya usahakan karena saya juga tidak tahu bagaimana kondisi Mamah. Untuk lebih amannya bagaimana kalau agency mengganti saya dengan model yang baru?" tanya Jingga.


"Bagaimana ya, saya sudah cocok dengan kamu." Senja enggan membiarkan Jingga pergi.


"Angel bisakah kita bicara berdua?" tanya Mentari. Dia akan berbicara serius mengenai jati diri Angel.


"Bisa Kak," jawab Jingga ragu. Mentari bangkit dan mengajak Jingga untuk mengikutinya. Mereka kini sedang berada di kamar Mentari.


"Duduk sini Angel." Mentari menarik tangan Jingga.


"Kamu kenapa?" tanya Tari.


"Hah, kenapa apanya Kak?"


"Kenapa mau pulang ke Iggris?"


"Orang tua Angel kecelakaan ...." Perkataan Angel terhenti melihat Mentari mengangkat tangannya.


"Kamu tidak usah berbohong, Kakak ingin tahu yang sebenarnya ... Jingga!" Mata Jingga melotot mendengar Mentari memanggil namanya.


"Ka ... Kak manggil siapa? Siapa Jingga?"


"Kakak tahu kamu Jingga, jangan mengelak lagi!" Mentari menggenggam tangan Jingga.


"Apapun alasan kamu, Kakak tidak akan bertanya, Kakak yakin kamu akan menceritakannya begitu kamu siap. Kakak cuma minta, kamu jadilah Jingga di hadapan kami." Tidak ada lagi alasan untuk Jingga mengelak. Jingga menghela nafas.


"Kak Tari, maaf sebenarnya banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa menceritakannya. Dan aku mohon Kak Tari mau merahasiakan siapa aku sebenarnya pada semuanya termasuk Papah, Langit dan Bintang. Ini semua demi kebaikan dan keselamatan kalian, bilang juga pada Bulan untuk merahasiakannya. Cukup kenali aku sebagai Angel. Bisa kan, Kak?"


"Baiklah jika itu permintaan kamu. Tapi Kakak minta kamu berhati-hati. Kakak punya perasaan tidak enak." Mentari berpesan pada Jingga.

__ADS_1


"Iya kak." Jingga tersenyum dan mengangguk. Dia percaya pada Mentari.


"Yuk kita keluar kasihan Mamah sendirian. Eh ... tapi Jingga kalau aku cerita sama Mamah boleh kan?"


"Boleh Kak, tapi pastikan tidak ada yang menguping."


"Oke." Mentari dan Jingga lalu pergi keluar kamar. Saat mereka baru keluar Jingga di kejutkan oleh penampakkan Langit yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Langit! Kamu sudah pulang?" Mentari juga terkejut. Dia melirik kepada Jingga yang sepertinya gelisah. Mentari menggeser badannya menghalangi pandangan Langit pada Jingga.


"Iya kak, baru saja."


"Oh, ya udah kamu istirahat aja. Kakak mau le dalam dulu." Mentari menarik tangan Jingga yang mengikutinya tanpa menoleh ke belakang.


"Kak, gak mau di kenalin temannya?" tanya Langit sambil terus menatap punggung Jingga.


"Gak usah, Kakak gak mau dia jadi korban kamu," ketus Kakaknya. Sementara Jingga yang mendengar itu merasa tersentil hatinya. Kemarahan dan kesedihan itu kembali datang saat memori tentang malam itu teringat kembali.


"Dia bahkan tidak dapat mengenaliku dan melupakan kejadian itu begitu saja," batin Jingga.


Jingga pergi mendahului Mentari, dia tidak ingin lebih lama di dekat sumber lukanya. Sementara itu Langit merasa tidak percaya dia hari ini bisa bertemu dengan wanita bandara.


Langit tersenyum dan bersiul lalu masuk ke kamarnya. Dia akan mandi dan berdandan agar terlihat lebih tampan dan segar di hadapan wanita itu.


"Baiklah, Angel. Tapi jangan kapok-kapok ya main ke sini lagi."


"Iya Nyonya."


"Jangan Nyonya dong, Tante saja."


"Baiklah Tante. Saya pamit dulu dah semuanya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Jingga pergi keluar dan masuk mobil di mana sudah ada Roy menunggu lalu membukakan pintu mobil untuk Jingga. Bersamaan dengan itu turun Langit dengan penampilan yang sudah keren.


"Loh! Tamunya mana Mah?" tanya Langit melihat hanya ada mamah dan kakaknya saja sedang menonton TV.


"Takut liat kamu, terus pergi!" gurau Senja.

__ADS_1


"Mamah bokis, mana ada liat cowok ganteng kabur! Emangnya aku setan!" balas Langit.


"Kenapa ngomong setannya liat ke Mamah, kamu ngatain Mamah setan?"


"Nggak, kalau Mamah setan berarti aku anak setan juga dong! Mamah gak tahu aja di luar sana banyak yang tergila-gila sama aku."


"Percaya, karena mereka sama gilanya denganmu. Cuma Angel yang waras tidak tergoda sama kamu."


"Angel? Oh jadi namanya Angel, nama yang cantik sama seperti orangnya. Punya no teleponnya gak, Mah?"


"Gak ada."


"Pelit! Aku pergi dulu." Setelah mengatai Senja pelit Langit pergi ke luar. Sayang sekali jika dia tidak ke mana-mana sedangkan dia sudah kece begini. Jadi Langit akan pergi ke tempat temannya.


"Sewot dia." Senja dan Mentari terkekeh.


"Bulan masih tidur?"


"Iya Mah,"


"Mamah juga mau tidur dulu ah." Senja pergi ke kamarnya.


...***...


"Makanya kalau kerja yang benar. Kelalaian kamu bisa membahayakan keselamatan seluruh tim dan menggagalkan misi, ngerti!"


"Maaf Kak, aku salah." Jingga menunduk di marahi seniornya.


"Sudahlah, ini adalah tugas pertamanya. Jangan terlalu keras pada dia."


"Ini masalahnya menyangkut nyawa. Bukan hanya nyawa dia yang dipertaruhkan di sini, tapi juga seluruh tim." Senior wanita itu masih saja memarahi Jingga.


"Iya Kak maaf, aku tidak akan mengulanginya." Jingga pasrah, dia sadar ini adalah salahnya. Wajar kalau kakak seniornya marah-marah.


"Sekarang bagaimana? Apa Orange harus kita tarik?" tanya yang lain.


"Tidak perlu. Semua akan berjalan sesuai rencana, mereka sama sekali tidak menyadari kalau dia itu Jingga. Jika dia di tarik maka akan timbul masalah lain, acara sebentar lagi digelar, jangan bertindak mencurigakan dan bersikap seperti biasa. Ini terakhir kali kita membahasnya. Sekarang semua bubar." Roy memberi perintah. Semua membubarkan diri.


Jingga pergi ke kamarnya. Dia merasa pusing, mungkin sudah waktunya jadwal bulanan dia datang bulan, dia merasa lemas.

__ADS_1


Jingga mengambil kalender yang ada di meja samping tempat tidurnya. Dahinya mengernyit, ini sudah 2 minggu lewat dari jadwalnya. Mungkin sekarang dia akan mendapatkan menstruasinya. Jingga menyimpan kalender di tempat semula dan membaringkan tubuhnya. Tak perlu waktu lama untuk Jingga terlelap. Dia kini sudah di buai mimpi.


...----------------...


__ADS_2