
Sampai di rumah, Jingga langsung masuk ke kamar. Senja merasa ada yang aneh dengan Jingga. Dia menjadi lebih pendiam, sejak pulang dari Dokter kandungan.
Jingga berusaha menelepon Langit, tapi sama seperti tadi teleponnya tidak aktif. Bolehkah, dia berpikiran negatif tentang Langit? Secara semua petunjuk mengarah ke hal negatif.
Chat dari perempuan, pergi berdua, ponsel yang sengaja di matikan, Apa yang akan kau pikirkan bila itu terjadi?
Pasti curiga adanya perselingkuhan, bukan? Itulah yang Jingga pikirkan sekarang.
Jika benar, teganya Langit berselingkuh di saat mereka sedang menanti kelahiran si buah hati yang tidak lama lagi. Apakah karena tidak terpenuhi hasratnya, lantas dia mencari yang lain? Atau karena jingga tidak cantik lagi? Jingga mematut dirinya di cermin.
Tubuhnya memang naik belasan kilo semenjak dia hamil. Badannya membengkak di mana-mana. Wajahnya pun menjadi tembam.
Pantas saja saja jika Langit berpaling. Dia menjadi seperti Jingga yang dulu. Dia menjadi tidak percaya diri.
Bagaimanakah nasib anaknya nanti, kalau Langit lebih memilih wanita lain dan meninggalkannya? Sanggupkah dia bertahan.
Pikiran Jingga sudah melalang buana, membuatnya bertambah gelisah.
"Aduh." Perut Jingga terasa linu karena anak dalam kandungannya menendang. Mungkin dia mengingatkan Jingga untuk tidak berpikiran macam-macam.
"Maaf, sayang. Mamah janji tidak akan banyak pikiran lagi." Jingga mengusap perutnya.
Jingga naik ke atas peraduan. Dia mengatur bantalnya untuk dia bersandar. Jingga sudah tidak bisa tidur berbaring lagi. Posisi tidurnya adalah duduk bersandar.
Mata Jingga perlahan terpejam. Pada saat yang sama pintu kamar terbuka. Masuklah Senja, Senja memang melarang Jingga mengunci kamarnya. Takut terjadi sesuatu pada Jingga.
Senja menatap Jingga yang tertidur. Dia lalu menaruh kue di atas nakas serta minuman. "Ada apa, denganmu?Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Apa kau memikirkan kelahiranmu?" Senja bertanya pelan pada Jingga.
__ADS_1
"Jangan banyak berpikir, tapi banyak berdoa. Serahkan semua pada Allah." Senja lalu keluar dari kamar Jingga.
Begitu pintu tertutup mata Jingga terbuka. "Iya Mah, jangan banyak berpikir tapi banyak berdoa, saat ini anak aku yang menjadi prioritas."
Mata Jingga kembali terpejam, tangan Jingga mengusap-usap perutnya.
***
Jingga terbangun tatkala mendengar suara adzan dari ponselnya. Dia berjalan ke kamar mandi, hendak mengambil wudhu. Di bukanya pintu kamar mandi.
Sebelum masuk Jingga lebih dulu membaca doa masuk WC. Dia masuk perlahan, kemudian berwudhu. Setelah itu Jingga melaksanakan sholat sambil duduk bersandar.
***
Hari sudah malam, bulan bersembunyi di balik awan. Jingga berdiri di depan jendela menatap langit kelam. Diliriknya jam dinding yang menghiasi kamarnya, pukul sembilan malam dan Langit belum juga pulang.
"Sayang, kamu kok belum tidur?"
"Aku teringat Ayah dan Bunda." Jingga lalu beranjak naik ke peraduannya. Dia bersandar dengan bantal yang ditumpuk membuatnya nyaman. Jingga membaca dia tidur.
"Aku mandi dulu, ya. Rasanya gak enak banget lengket." Langit pergi ke kamar mandi.
Jingga tidak perduli, dia memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian Langit keluar. Dia memakai bajunya.
Di lihatnya Jingga yang sudah terpejam. Suara lagu terdengar dari ponsel Langit. Dia mengangkatnya.
"Halo," ucap Langit.
__ADS_1
"...."
"Aku sudah sampai, Jingga sudah tidur."
"...."
"Kita rahasiakan dulu masalah ini. Aku tidak mau Jingga kepikiran, dia sedang hamil besar."
"...."
"Iya nanti akan aku kenalkan kamu pada Jingga. Kita tunggu waktu yang tepat."
"...."
"Oke, aku juga lelah. bye." Langit menutup teleponnya. Langit menata Jingga.
"Maafkan aku Jingga, aku terpaksa merahasiakannya." Langit kemudian naik ke atas kasur dan berbaring di samping Jingga. Dia memeluk pinggang Jingga yang tidur bersandar.
Dug
Langit merasakan tendangan anaknya dia tersenyum bahagia, "Sayang kangen Papah ya. Maaf Papahnya terlalu sibuk sama Tante. Nanti kamu Papah kenalin ya sama Tantenya." Kemudian Langit membelai perut Jingga dan menciumnya.
"Selamat tidur sayang." Langit kembali berbaring dan membalikkan badan membelakangi Jingga.
Air mata jatuh menetes di pipi Jingga. Jingga segera mengusapnya dia menggigit bibirnya agar tidak terdengar suara isak tangis. Jingga menguatkan hatinya sambil membelai perutnya, berharap si bayi dapat menguatkannya.
__ADS_1