Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 48. Rumah Baru.


__ADS_3

Hari ini Jingga di perbolehkan pulang oleh Dokter. Tidak ada yang menjemput Jingga, hanya Langit seorang. Jingga tidak masalah, mungkin mereka sedang ada kesibukan masing-masing.


Langit dan Jingga pulang bersama Baby. Jingga sangat bahagia, netranya tak henti melihat buah hatinya, Galaksi Biantara. Begitu tampan dan menggemaskan, rambut hitam yang lebat kulit putih, mata yang bulat dan bulu mata yang lentik. Dia seperti boneka, bibirnya belah tengah berwarna merah. Jingga tak pernah puas menatapnya.


"Semoga hidupmu selalu bahagia, dikelilingi orang-orang yang tulus mencintaimu. Jadilah engkau anak yang berbudi luhur," doa Jingga untuk sang buah hati. Dia lalu mencium kening dan Pipi Galaksi.


"Amin, semoga doamu dikabulkan Allah. Galaksi sayang semoga hidupmu selalu di beri keberkahan, amin."


"Amin." Jingga mengamini doa Langit.


Jingga mengalihkan pandangannya dari Galaksi pada Jalan raya di hadapannya. Dia baru menyadari kalau jalan ini bukanlah jalan menuju ke rumahnya.


"Kak La ...." Belum juga Jingga selesai berbicara, Langit sudah menyelanya.


"Papi! Sayang. Sekarang biasakan panggil Papi. Sudah punya anak panggilan harus berubah."


"Iya, Papi,"


"Ini kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke rumah 'kan?"


"Aku mau menunjukkan sesuatu padamu."


"Apa itu?"


"Kejutan, sayang."


Kalau saja dia tidak tahu kelakuan Langit. Dia pasti akan baper di panggil sayang oleh suaminya. Jingga hanya tersenyum menanggapi ucapan Langit.


"Kau akan tahu kenapa selama ini aku selalu sibuk. Buang pikiran jelekmu tentangku. Percayalah, aku mencintaimu." Langit merasa perubahan sikap Jingga, mungkin dia masih berpikiran buruk tentangnya.


Sampailah mereka di suatu tempat. Di depan rumah yang mewah dan besar.


Langit membuka pagar dan melajukan mobilnya parkir di garasi. Dia lalu mengajak turun Jingga. Walau bingung Jingga mengikuti Langit.

__ADS_1


"Ayo buka pintunya."


"Ini rumah siapa?"


"Buka dulu pintunya kamu akan tahu," jawab Langit seraya tersenyum.


"Gak apa-apa nih di buka pintunya?"


"Gak sayang. Ayo buka pintunya!" Jingga menuruti perkataan Langit dia membuka pintu rumah itu.


"Surprise!" Mata Jingga melotot dia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya.


"Apa ini?"


"Kejutan untuk istriku yang cantik."


"Maksudmu rumah ini adalah kejutan untukku?"


"Aku tahu kamu pasti berpikiran yang tidak-tidak tentangku."


Semua orang mendengarkan Langit.


"Jangan di potong dulu!" ucap Langit begitu melihat Jingga akan bicara.


"Dengarkan baik-baik aku akan menjelaskan apa yang aku lakukan selama ini, jangan dipotong sampai aku selesai." Jingga mengangguk.


"Melihat kamu hamil aku ingin membangun rumah impian kamu. Di mana nanti ada anak-anak kita yang akan meramaikan rumah ini. Lalu aku berinisiatif membuat rumah lewat Firma Arsitek."


"Aku sudah tahu beres. Mereka menyediakan jasa kontraktor dan juga design interior. Pokoknya aku tahu beres! Mereka cuma butuh aku untuk mengambil keputusan mau seperti apa rumahnya atau design interiornya. Nah karena itu aku sering pulang malam."


"Kalau siang aku kerja. aku akan ke sini kalau malam, dan wanita yang sering menghubungiku adalah design interior dari Firma Arsitek itu."


"Bintang juga tahu, tanya aja sama dia kalau kamu gak percaya sama aku."

__ADS_1


"Boleh nih dikasih tahu. Kemarin gak boleh?" tanya Bintang.


"Iya 'kan kemarin belum jadi rumahnya."


"Kalau aku gak ikut campur, jadi gak, rumahnya. Malah bubar rumah tangganya. Percuma bikin rumah kalau istrinya kabur!"


"Bintang! sst ... diam." Senja menegur Bintang.


"Jingga maafin aku ya. Kalau kamu sedih gara-gara aku. Serius niat aku bahagiakan kamu dengan ngasih kejutan ini tapi aku malah membuat istriku sakit hati menganggap suaminya selingkuh."


Jingga menangis. Dia telah berpikiran bodoh dan tidak percaya pada suaminya. Dia telah membuang-buang waktu meratapi nasib dan membayangkan apa yang terjadi jika suaminya selingkuh?


"Sayang kok nangis, sih? Maafin aku ya."


Jingga menggeleng. Dia lalu memeluk suaminya. "Aku yang minta maaf karena tidak percaya padamu. Maaf aku berpikiran buruk tentangmu."


"Tidak apa-apa sayang. Aku mengerti aku yang salah tidak jujur padamu."


"Aku minta sama kamu, lain kali please dengan sangat aku minta jangan buat kejutan lagi yang buat aku salah paham."


"Iya, aku gak akan seperti itu lagi." Langit mengusap kepala Jingga.


"Sekarang kita lihat rumahnya yuk. Kita tour dadakan keliling rumah." Langit sangat bahagia


akhirnya semua masalah selesai dengan baik. Senja menidurkan Galaksi yang tertidur dalam pangkuannya.


Rumah yang di bangun Langit sangat besar dan mewah. Ada sekitar 10 kamar berukuran besar, kolam renang, lapangan basket, taman, dapur yang luas. Ada taman di rooftop, ada mini theater, banyak fasilitas mewah di rumah ini.


Jingga tak pernah menduga dia akan mendapatkan kejutan seperti ini.


...END ...


Maaf dengan sangat author batu bisa meneruskan novel ini. dan terima kasih sudah membaca cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2