
Pagi ini Jingga dan Langit memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar villa. Udara sangat dingin dan masih berkabut, matahari baru saja terbit. Langit masih terlihat berwarna orange. Mereka memakai sweater couple, tampak begitu sangat serasi.
Mereka berjalan bergandengan tangan, menikmati indahnya pemandangan. Mereka tidak pergi jauh hanya ke daerah persawahan dan duduk di saung, jaraknya mungkin sekitar 500 m dari villa mereka. Jingga minum air mineral yang di bawanya.
"Di sini sangat tenang dan sejuk. Aku suka sekali." ujar Jingga.
"Kamu benar, pemandangan ini dan suasananya membuat kita nyaman. Menghilangkan lelah setelah bekerja seharian." Langit setuju dengan Jingga.
"Ya, kurasa kita harus sering ke tempat seperti ini, paling sedikit 2 minggu sekali. Agar pikiran kita relax," timpal Jingga.
"Bagaimana perutmu apakah msih sakit?" tanya Langit seraya mengelus perut Jingga.
"Alhamdulillah sudah lebih baik. Terima kasih karena telah merawatku."
"Jangan berterima kasih karena itu adalah kewajibanku sebagai suami. Lagi pulaku senang melakukannya karena aku mencintaimu." Langit berkata dengan lembut seraya tersemyum. Tatapan matanya terlihat tulus.
"Aku yakin anak kita sekarang bahagia, kau begitu sayang dan perhatian padanya."
"Hanya anak kita? Apa kamu tidak?" tanya Langit.
"Aku bahagia," jawab Jingga.
"Aku bahagia jika kalian berdua bahagia." Langit kemudian memeluk Jingga dan menyadarkan kepala Jingga di dadanya.
"Aku mengerti sekarang, kenapa orang-orang di desa sangat bahagia walau hidup mereka berkecukupan. Karena hati mereka selalu bahagia dan bersyukur atas nikmat Allah. Bagaimana tidak? Mereka setiap hari disuguhkan pemandangan yang indah, udara yang sejuk."
"Kamu benar. Aku pun rasanya ingin tinggal di sini."
"Sayangnya kita tidak bisa lama di tempat ini. Aku harus bekerja. Karena ribuan karyawan bergantung di perusahaanku."
"Aku mengerti."
__ADS_1
"Aku janji kita akan sering berkunjung ke tempat ini."
"Janji ya."
"Iya, sayang." Langit mencolek hidung Jingga.
"Satu lagi kamu harus berjanji jika aku mati, aku ingin dikuburkan di desa. Agar kau bisa meluangkan waktu berlibur dan menikmati pemandangan sambil menenggokku."
"Jingga, sudah aku bilang jangan bicara hal-hal seperti itu. Kenapa kau selalu berbicara mengenai kematian dan perpisahan? Kau membuatku takut."
"Maaf, aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin mengucapkannya tidak ada maksud lain. Jangan di pikirkan."
"Kau merusak suasana saja," ucap Langit sementara Jingga hanya terkekeh.
"Maaf," ucap Jingga.
Hari semakin siang, para petani mulai berdatangan untuk mengurus sawah-sawah mereka. Langit dan Jingga memutuskan untuk pulang. Setiap orang yang berpapasan dengan mereka tersenyum dan menganggukkan kepala. Sungguh ramah orang-orang di tempat ini.
"Ciri khas orang pedesaan, ramah dan baik," ujar Langit lalu merangkul perut Jingga.
Sampailah mereka di rumah. Begitu masuk tercium wangi masakan. Bagi Langit baunya harum dan menggugah selera. Namun, bagi Jingga ini membuatnya mual. Dia berlari ke wastafel terdekat.
Jingga sangat mual rasanya ingin muntah tapi tidak ada yang keluar. Mungkin karena dia belum makan. "Sudah, ayo kamu istirahat di kamar. Nanti aku bawakan kamu susu."
Langit menuntun Jingga ke kamar mereka. Lalu dia pergi ke dapur untuk membuatkan susu hamil rasa coklat agar Jingga tidak mual. Dia juga membawa makanan untuk sarapan Jingga dan dirinya.
Langit lalu ke kamar. Dia meletakkan makanannya di meja yang ada di kamar. Jingga bangun dan pindah duduk di sofa di samping Langit. Dia meminum susu yang di buatkan oleh Langit.
Begitu Jingga akan makan, dia merasa mual dan akan muntah kembali tapi ditahannya karena dia tidak ingin susu yang sudah di minumnya keluar lagi.
"Aku gak kuat nyium baunya Mas."
__ADS_1
"Kamu harus coba makan dulu, anak kamu belum makan. Sini biar aku suapi, mungkin anaknya mau di suapi Papahnya." Langit mengambil piring yang ada di tangan Jingga dan menyuapi Jingga dengan telaten.
"Kamu benar, mualnya hilang. Anaknya manja sama Papahnya." Jingga terkekeh sambil mengusap perutnya.
"Papah akan selalu menyuapi kamu," ujar Langit seraya ikut mengelus perut Jingga dan tersenyum.
Jingga makan dengan lahap. Tidak terasa makanannya habis. "Alhamdulillah aku kenyang. Terima kasih Mas."
"Syukur Alhamdulillah, sama-sama sayang."
"Oh, iya Mas, aku mau minum obat dari dokter."
"Sebentar Mas ambilkan obatnya." Langit mengambil obat yang ada di meja nakas sebelah tempat tidur. Jingga lalu meminumnya.
"Mas, aku ingin makan ubi rebus."
"Apa? Baiklah aku akan bilang pada bibi."
Langit beranjak pergi. "Mas! Ikut, aku mau duduk di belakang."
"Ayo!" Langit menggandeng tangan Jingga. Dia akan memenuhi ngidam Jingga. Ini adalah pertama kalinya Jingga ngidam.
Hari pertama di villa mereka lalui dengan bahagia. Bagaimana dengan esok atau hari berikutnya? Semoga mereka akan selalu bahagia.
----------------
Halo apa kabar semuanya semoga kalian suka dengan bab ini ya. jangan lupa beri like dan komen juga masukkan cerita ini ke liat favorit kalian. terima kasih untuk semuanya. Maaf masih banyak typo.
Author ada lagi rekomendasi cerita untuk kalian. Setiap hari author akan rekomendasikan novel-novel yang keren untuk kalian. Jangan lupa mampir dan di baca ya. Juga beri like dan komennya. Terima kasih
__ADS_1