Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab. 35


__ADS_3

Jingga sedang makan ubi rebus dengan lahap. Dia sangat suka terutama ubi putih. "Enak?" tanya Langit.


"Enak banget. Makasih," jawab Jingga antusias.


"Aku sudah kenyang. Buat kamu aja," lanjut Jingga. Mendengar Jingga sudah kenyang Langit terkekeh, tentu saja kenyang ubi 1 kilo di makan semua tinggal setengah potong buat Langit.


"Ya udah, benar ini buat aku?" tanya Langit.


"Iya," jawab Jingga seraya mengangguk.


"Suapin dong," pinta Langit dengan manja, Jingga mengikuti kemauan Langit dan menyuapinya.


"Pantas kamu lahap, enak ya ubinya."


"Iya nanti bikinin lagi, ya. Pokoknya harus selalu ada ubi di rumah, nanti bisa di bakar atau di rebus. Aku mau ubi yang di bakar pakai hawu."


"Hawu itu apa?" tanya Langit.


"Ya ampun, kamu hawu aja gak tahu? Panggil Bibi."


Langit memanggil Bibi, lalu dia menanyakan apa itu hawu?


"Hawu itu tungku tradisional, bahan bakarnya kayu atau sabut kelapa, Tuan, jawab Bibi.


"Bisa kamu bikin?" tanya Langit.


"Bisa Tuan."


"Tolong buatkan, istri saya mau ubi bakar yang pake hawu," pinta Langit.

__ADS_1


"Oh, saya mengerti Tuan. Memang enak yang dibakar pake hawu."


"Ini uangnya, beli saja bahan yang kamu butuhkan jangan lupa beli juga ubi yang banyak pokoknya setiap hari harus ada ubi di rumah." Langit memberikan lima ratus ribu rupiah.


"Baik Tuan." Bibi mengambil uang itu.


"Bi, campur sama singkong juga, ya."


"Iya, Nyonya."


"Ayo kita masuk ke dalam. Jangan lama-lama di luar, nanti kamu masuk angin." Langit mengajak Jingga masuk. Saat ini mereka berada di bale-bale belakang di kebun mereka yang banyak pohon buah-buahan, juga ada pemandangan sawah yang terlihat.


"Ayo," ucap Jingga. Dia bangun dan berjalan bergandengan dengan Langit.


***


"Ke mana dia pergi? Kenapa kalian tidak ada yang tahu? Percuma saja pengintaian selama dua minggu tetapi Angel tidak ada di rumah itu!" Rafael memarahi seluruh anak buahnya.


"Kevin tidak tahu Pah,"


"Kamu kerjanya apa, sih? Masalah kantor tidak tahu. Kamu cari tahu, dan minta ganti rugi. Tidak bisa seperti ini!"


"Iya, Pah," sahut Kevin.


"Telepon sekretarisnya, bilang kita ingin bertemu Langit," ucap Hartono. Kevin pun segera menelepon sekretaris Langit.


"Pah, Langit tidak ada di tempat. Dia sedang berada di luar negeri."


"Kurang ajar, lalu bagaimana? Dia memutuskan kontrak secara sepihak."

__ADS_1


"Semua tugasnya di handle oleh Tuan Angkasa."


"Begitu rupanya, minta pertemuan dengannya secepatnya."


"Iya, Pah."


***


Hartono dan Kevin akhirnya bertemu dengan Angkasa setelah makan siang. Mereka mempertanyakan alasan di putusnya kontrak. Padahal pembangunan sudah berjalan.


"Ini adalah keputusan Langit dan saya yakin keputusannya yang diambil sudah dipikirkan matang-matang. Tidak mungkin dia akan mengambil keputusan yang merugikan perusahaannya."


"Mungkin perusahaan Anda, tidak rugi! Tapi saya yang harus menanggung kerugian," ucap Hartono dengan marah.


Angkasa menghadapinya dengan tenang. "Kami sudah mengganti rugi dan membayar pinalti sesuai dengan yang di kontrak. Anda tidak rugi apa pun."


"Mungkin Anda memang sudah membayar sesuai dengan yang di kontrak, tapi citra kami akan menjadi jelek. Karena perusahaan sebesar Anda mundur pada saat pembangunan. Mereka pasti akan berpikir ada yang salah dengan perusahaan saya!"


"Betul, kalau begitu kenapa Anda tidak introspeksi diri dan mencari tahu Apa yang salah dengan perusahaan Anda?" ujar Angkasa tenang tapi sorot matanya menandakan ketegasan.


Hartono memukul meja. "Jadi maksud Anda perusahaan saya yang salah?"


"Bagaimana mungkin Anda pemilik perusahaan tidak tahu apa yang salah dengan perusahaannya. Sedangkan orang lain saja melihat, bagaimana perusahaan bisa maju kalau begitu? Langit sangat tepat memutuskan kontrak itu. Dia terlalu gegabah dan tergesa menyetujui kontrak itu."


Hartono berdiri. Tatapannya nyalang. Dia langsung berdiri. "Kevin ayo kita pergi dari sini! Masih banyak perusahaan lain yang ingin bekerja sama dengan kita. Mereka yang akan rugi putus kontrak dengan kita!" Hartono pergi tanpa pamit dan membuka pintu dengan kasar, Kemudian Kevin mengikuti Hartono dan menutup pintu dengan kencang. Angkasa menggelengkan kepalanya.


----------------


Halo maaf ya saya nulisnya pendek-pendek. Karena saya tidak punya waktu ini saya paksakan nulis di sela merawat Ibu yang sakit liver, serta bapak saya yang susah jalan. Belum lagi tiga anak saya yang paling kecil tiga tahun. Maaf sekali, karena cuma bisa satu bab sekali. Semoga jika nanti Ibu saya sudah sehat saya bisa up lebih. Mohon do'anya dari semua. Terimakasih.

__ADS_1


saya juga mau rekomen cerita yang menarik dari teman author. Di baca ya.. jangan lupa like. Terima kasih.



__ADS_2