
Jenazah Ayah Jingga di bawa ke rumah Angkasa sebelum dikebumikan, mereka sedang berdoa mengaji yasin untuk jenazah. Banyak klien dan kolega bisnis Hartono yang datang, awalnya mereka bingung kenapa di rumah Angkasa? Setelah di jelaskan kalau beliau adalah mertua Langit mereka akhirnya paham.
"Langit keluar kamu!" teruakan seorang wanita menggelegar mengejutkan semua yang berada di dalam.
"Lepaskan saya! Langit keluar kamu!" Satpam mencoba mengamankan wanita itu, dan menyeretnya keluar agar tidak mengganggu acara duka ini.
"Ibu lebih baik keluar, mereka sedang berduka, Ibu tidak lihat ada bendera kuning!" ujar salah satu satpam.
"Saya tidak perduli! Saya kehilangan anak saya gara-gara dia! Suami saya juga entah di mana? anak perempuan saya bahkan masih kritis!"
"Panggil Tuanmu ke mari, dia harus bertanggung jawab untuk semuanya!"
"Anda yang harus bertanggung jawab!"
"Langit! Bajingan kau, kau bunuh anakku."
"Itu karena anak kamu sudah menculik dan melukai istriku. Bahkan Kiara mencoba untuk membunuhnya. Itu adalah balasan untuk tindakan mereka!"
"Nyawa dibayar nyawa, aku akan balas semua perbuatanmu!"
"Kau yang tidak bisa mendidik anakmu dengan baik, sehingga mereka bisa berbuat kejahatan. Ini semua adalah salahmu. Usir dia!" perintah Langit pada satpamnya.
Satpam itu menyeret paksa Widuri, ibu tiri Jingga itu terus memberontak. Ada seorang pelayat yang datang menghampiri Widuri.
"Nyonya saya turut berduka, semoga beliau diterima di sisi-Nya serta Nyonya sekeluarga diberi ketabahan."
"Apa maksudmu?" tanya Widuri.
"Saya ikut prihatin Nyonya atas kematian Tuan Hartono."
__ADS_1
"Apa?" Widuri lalu melepaskan tangan satpam dan berlari masuk ke dalam.
"Biarkan aku masuk! Aku mau lihat apakah itu suamiku?"
"Biarkan dia masuk dan melihat jasad suaminya untuk terakhir kali." Angkasa datang dan mengizinkan Widuri melihat jenazah suaminya.
Widuri masuk ke dalam, dia melihat jasad suaminya yang pucat dan terbujur kaku. Diselimuti kain kafan. Hanya wajahnya saja yang belum tertutup, tapi hidungnya sudah ditutupi kapas di kedua lubangnya.
Widuri duduk bersimpuh di samping jasad suaminya. Dia tidak menangis sama sekali. Dia hanya menatap jasad itu.
"Mas, kamu pergi di saat yang tidak tepat. Kevin telah meninggalkan aku, Kiara sedang terluka kini kamu juga pergi meninggalkan aku. Aku sendirian, saat aku benar-benar butuh dirimu kau malah pergi, mas. Hanya saja aku merasa heran kenapa kamu ada di sini? Kenapa pihak rumah sakit tidak memberitahuku istrimu. Kenapa kau bisa seperti ini Mas?" batin Widuri.
"Saya turut berduka cita atas kehilanganmu. Dia adalah Ayah yang hebat, dia bahkan merelakan nyawanya untuk menolong darah dagingnya. Dia sudah mati syahid, dan semoga Allah menempatkannya di sisi-Nya." Seorang wanita menghampiri Widuri dan menyampaikan bela sungkawa. Namun, kalimatnya membuat dia bingung.
"Maaf, Maksud Nyonya Senja apa, ya?"
"Beliau meninggal karena menolong Jingga, anaknya. Saya sangat salut dan bangga padanya."
"Karena Jingga menantu saya!"
"Apa?"
"Jingga, sini sayang!" Senja memanggil Jingga. Jingga datang di tuntun Langit. Wajahnya tampak sembab dan pucat.
Dia menghampiri Senja dan duduk bersimpuh di sampingnya. Senja memeluk Jingga, yang terlihat sedih. Jingga lalu menatap ayahnya dan memejamkan mata. Dia berdoa dalam hati untuk ayahnya.
"Kamu Jingga?" tanya Widuri yang sedari tadi diam, mengamati Jingga. Fisiknya sangat berubah mirip seperti mamahnya.
"Iya Tante." Jingga memanggil Widuri Tante, karena kini dia tidak punya hubungan apa pun dengan Widuri, setelah ayahnya meninggal.
__ADS_1
"Kamu sekarang, sudah jadi istri Langit dan membuang keluargamu."
"Sejak awal kalian lah yang membuangku. Kalian tak pernah menganggapku keluarga hanya babu."
"Kami memberikanmu makan dan tempat tinggal juga membiayai sekolahmu."
"Itu adalah kewqjiban orang tua. Tetapi bukankah aku sydah membayarnya dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Aku tunggal tidak gratis. Itu kan yang Tante bilang waktu itu."
"Kamu tidak tahu balas budi!"
"Balas budi kalau memang kalian telah berbudi padaku, tapi yang kalian lakukan membuliku."
"Kau! Dasar anak durhaka!"
"Tante, orang tua juga manusia, bisa berbuat kesalahan dan salah kalian padaku banyak sekali, kalian yang dzalim padaku. Bukan aku yang durhaka tapi Tante yang tidak amanah dan durhaka padaku. Namun, sebagai anak yang berbakti aku maafkan semua kesalahan Tante dan Ayah. Aku sudah bahagia sekarang. Tak ingin lagi menggali luka yang sudah kering."
"Maaf Tante, aku ingin mengantar kepergian Ayah dengan doa, Jingga harap Tante tidak berbuat onar dan mengganggu kami yang sedang mengaji untuk Ayah."
Jingga mengambil Al-Qur'an dan mulai mengaji surah Yasin. Widuri bungkam dia menatap Jingga lama dan mengepalkan tangannya. Lalu dia pergi keluar.
...***...
Acara pemakaman berlangsung dengan khidmat dan lancar. Jingga kini sedang berada di samping pusara ayahnya. Dia menaburkan bunga kembali lalu menundukkan kepalanya dan berdoa untuk Ayah. Dalam hati, Jingga berbicara pada ayahnya, setelah berdoa, "Ayah terima kasih karena telah mengorbankan nyawamu untukku dan cucumu. Sampaikan salamku pada Bunda. Aku bahagia di sini Ayah, jangan khawatir. Aku sudah memafkan mu. Maafkan aku juga Ayah. Tenanglah di sana."
...----------------...
Maaf yah masih banyak typo. Author juga berterima kasih karena sudah membaca cerita ini. Sudah memberi like dan komen. Serta memberi hadiah terima kasih banyak. Live You All.😍😍💖💖💖💖
Author juga ada rekomendasi cerita yang bagus buat kamu. Intip yuk dn masukin favorit ya. Terima kasih.
__ADS_1