Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 24. Akhirnya Semua Tahu


__ADS_3

Setelah Dokter itu pulang, Jingga termenung memikirkan cara dia menyampaikan rahasia ini.


Otaknya buntu, tangan Jingga menjadi dingin jantungnya berdebar kencang. Baru saja memikirkannya dia sudah seperti ini, apa lagi nanti jika dia akan bicara pada mereka. Dokter juga memeriksa luka yang di perban di perutnya, lalu menggantinya. Lukanya sudah kering mungkin besok sudah bisa di buka jahitannya.


Dokter bertanya apa yang sudah terjadi hingga membuat luka tembak di perutnya. Jingga tidak menceritakan apa pun, karena itu adalah rahasia. Dokter tidak bertanya lagi. Lamunan Jingga buyar saat Senja masuk bersama Bintang dan Mentari.


"Jingga sayang, bagaimana kata Dokter?" tanya Senja.


"Alhamdulillah, kata Dokter cuma maag aja. Ini aku di kasih obat anti mual sama obat maag." Mata Jingga melirik laci mejanya di mana terdapat obat asam Folat dan obat untuk luka tembaknya.


"Syukur deh, aku khawatir banget sama kamu," ucap Bintang.


"Aku gak apa-apa, Kak. Terima kasih sudah khawatir," balas Jingga. Mentari memperhatikan Jingga dia merasa Jingga menyembunyikan sesuatu.


"Mah, aku ingin mengatakan sesuatu." Langit datang dan mengajak Mamahnya bicara.


"Mau bilang apa?"


"Bisa kita bicara empat mata."


"Kenapa gak dua belas mata aja? Jangan main rahasia-rahasia Kak," celetuk Bintang.


"Oke, aku bicara di sini aja. Begini, aku ingin melamar Jingga." Perkataan Langit membuat Jingga mematung, bukan hanya Jingga tetapi semua orang yang di sana terpaku.


"Mah, aku gak salah dengar kan, ya? Langit mau melamar Jingga, benar kan Mah?" tanya Mentari yang masih shock.


"Iya kamu tidak salah dengar. Ah! Mamah senang sekali, akhirnya Langit ingin menikah dan dia memilih orang yang tepat." Senja menjawab Mentari.


"Bin, kok bengong?" Mentari menepuk punggung Bintang.


"Aku tidak percaya Kakakku mau melamar Jingga, ada apa Kak? Apa sesuatu terjadi?" tanya Bintang pada Langit.


"Iya, sesuatu telah terjadi. Saat aku kemarin kehilangan Jingga dan tak dapat melihatnya, hatiku tidak tenang. Saat aku melihatnya bersimbah darah, aku takut kalau dia akan meninggalkan aku selamanya. Aku sudah yakin kalau aku mencintai Jingga dan ingin menghabiskan hidupku bersamanya. Terlebih apa yang dikatakan Dokter tadi aku harus menikah dengan Jingga secepatnya."


"Mamah tidak mengerti Langit, apa yang terjadi? Kalian menyembunyikan sesuatu dari Mamah. Apa yang terjadi pada Jingga hingga dia bersimbah darah?"

__ADS_1


Semua terdiam termasuk Jingga yang masih terpaku. Dia tidak mungkin menikahi Langit. Nyawanya sedang terancam, dia tidak mau membuat yang lain juga terluka karena dirinya. Langit tiba-tiba berlutut di hadapan Jingga.


"Jingga maafkan aku, sungguh aku tidak ingat kalau aku sudah begitu jahat padamu. Aku sudah menghancurkanmu sebagai seorang gadis dan merenggut kesucianmu. Aku begitu brengsek Jingga. Jika kau ingin membunuhku lakukanlah, aku rela untuk menebus semua dosaku. Maafkan aku Jingga." Langit menunduk dan menangis. Dia tidak dapat membayangkan penderitaan Jingga. Selama ini ternyata dia telah menjadi seorang bajingan.


Dokter mengatakan semuanya setelah Langit meneleponnya dan memaksa Dokter untuk mengatakannya. Langit langsung menelepon temannya dengan tangan bergetar. Dia ingin menanyakan sesuatu, karena pada malam itu dia pulang ke rumah temannya. Pengakuan teman Langit membuatnya merasa menjadi cowok paling brengsek.


Langit datang ke tempat temannya sambil meracau kalau dia bermimpi sudah bercinta dengan Jingga. Ternyata itu bukanlah mimpi tetapi kenyataan, parahnya dia melakukannya dengan pemaksaan atau bisa di bilang Langit telah memperkosa Jingga. Kilatan-kilatan peristiwa malam itu tiba-tiba teringat oleh Langit. Dia merasa malu.


"Aku ... aku tidak ingin menikah denganmu!" Jingga tidak ingin menikah dengan Langit, karena tidak ingin keluarga ini terancam bahaya.


"Jingga, aku mohon maafkan aku. Izinkan aku menikahimu, pikirkan anak kita."


"Anak! Tunggu dulu, ini.sebenarnya ada apa? Mamah bingung. Langit katakan apa yang terjadi?"


"Maaf, Mah sebenarnya secara tidak sadar aku memperkosa Jingga saat aku sedang mabuk."


Plak ...


Senja menampar Langit sangat kencang. Suara tamparannya menggema di kamar yang sunyi, semua terdiam tidak ada yang bersuara. "Sayang kamu main di kamar dulu ya." Pinta Mentari pada Bulan. Peristiwa ini tidak pantas di saksikan oleh anak di bawah umur. Bulan mengangguk dan pergi ke kamarnya.


"Mamah tidak pernah mendidikmu seperti itu Langit! Saudaramu semua perempuan, ibumu juga perempuan. Pernahkah kau berpikir bagaimana jika itu terjadi pada Ibumu atau saudara-saudaramu?" Senja berteriak marah pada Langit


"Kakak tidak menyangka kamu sebrengsek itu Langit, terlebih Jingga adalah anggota keluarga ini, dia sudah seperti adikku, Mamah juga sudah menganggapnya anak. Kenapa kau tega Langit?" Mentari juga murka pada Langit.


Langit hanya diam tertunduk, semua yang mereka katakan adalah benar. Langit tidak bisa menyangkalnya.


"Maaf Kak, aku akan bertanggung jawab pada Jingga. Aku akan menikahi Jingga secepatnya." Langit akhirnya bersuara.


"Tunggu dulu, Apakah Jingga hamil? Tadi kamu bilang anak kita." tanya Senja.


"Iya Mah, kemungkinan sudah 4 minggu kata Dokter. Biar lebih pasti Dokter menyarankan ke Dokter kandungan," Ucap Langit.


"Apa?" Terdengar kompak mereka terkejut. Orang yang di bicarakan hanya diam dengan air mata yang menetes.


"Jingga, kenapa kau diam saja, dan tidak bicara pada Mamah sejak awal. Seharusnya setelah kejadian itu kau mengadu pada Mamah, biar Mamah seret dia ke polisi."

__ADS_1


"Semua sudah terjadi, aku tidak ingin mengingatnya lagi, setelah susah payah aku berusaha menguburnya agar aku bisa menjalani hariku. Tolong jangan ingatkan aku kembali."


"Jingga maafkan Mamah, karena telah salah mendidiknya. Biarkan Langit mempertanggung jawabkan perbuatannya."


"Tidak, aku tidak ingin menikah dengan lelaki yang sering berciuman mesra dengan siapa saja."


"Langit!" Senja menjewer Langit karena gemas.


"Aduh, Mah ampun!"


"Kamu kalau bisa Mamah masukin lagi ke perut, biar di daur ulang!"


"Bintang telepon Papah, minta Papah pulang secepatnya!" Bintang menuruti perintah Mamahnya dan menelepon Angkasa.


"Jingga, sekarang kamu istirahat dulu. Kita bicarakan lagi nanti setelah ada Papahnya Langit. Kamu jangan stress, tidak baik untuk kandunganmu. Ayo semua keluar! Biar Jingga bisa istirahat."


Mentari, Bintang dan Senja pergi. Langit masih berdiam di sana. Dia belum puas kalau Jingga belum memafkannya.


"Langit! Ayo keluar!" Senja menegur Langit yang masih saja diam.


"Sebentar Mah, Langit mau bicara pada Jingga."


"Nanti saja Langit, Mamah ingin bicara dulu denganmu. Biar Jingga istirahat. Ayo!" Senja tetap memaksa Langit untuk keluar. Mau tidak mau dia keluar dari kamar Jingga.


"Jingga, kamu istirahat aja ya, nanti aku kembali lagi. Aku mencintaimu." Langit lalu pergi.


Setelah kamarnya kosong. Jingga membuka kepalan tangannya yang berkeringat dingin. Apa yang harus di lakukannya? Dia sengaja lari dari markas tetapi malah terjebak di rumah ini. Semoga Rafael tidak tahu dia ada di sini.


...----------------...


Saya mau rekomendasikan novel yang keren karya teman author.. Jangan lupa Mampir dan kasih like nya ya. Terima kasih.



Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Rumah Tangga, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1900340&\_language\=id&\_app\_id\=2

__ADS_1


__ADS_2