Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 43


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Kehamilan Jingga sudah menginjak bulannya. Hotel yang diwariskan padanya, dia percayakan pengelolaannya sementara pada Bintang. Karena Bintang sudah benar-benar berhenti dari pekerjaan lamanya.


Setelah nanti anaknya lahir dan berusia dua tahun, Jingga baru akan serius terjun mengelola hotel itu. Pergerakan Jingga sangat terbatas, kalau boleh jujur dia kadang merasa linu pada bekas luka tembaknya. Namun, dia tidak memceritakannya pada siapa pun.


Jingga sedang berada di kamarnya. Matahari baru akan terbit menyinari bumi. Langit sedang berada di kamar mandi.


Terdengar bunyi ponsel Langit di atas nakas. Jingga melihatnya. Ada notifikasi chat dari seseorang yang mengingatkan janjinya nanti siang.


Jingga tidak curiga, mungkin itu klien bisnisnya. Namun, chat berikutnya membuat kecurigaannya muncul. Orang ini mengatakan pertemuannya di tempat biasa dan dia memanggil Langit dengan sebutan Mas! Berarti ini adalah seorang wanita.


Pertemuan apa? Sudah berapa sering mereka bertemu? Karena dia bilang di tempat biasa. Saat Jingga akan menscroll ke atas pintu kamar mandi terbuka. Jingga segera menghapus riwayat chat yang sudah ia baca lalu menyimpan ponsel Langit.


"Mas, nanti siang kamu bisa antar aku ke rumah sakit? Untuk pemeriksaan terakhir kandunganku sebelum melahirkan."


"Lihat saja nanti ya sayang. Kalau aku tidak sibuk nanti aku antar kamu. Kamu sudah buat janji dengan Dokter kandungan?" Langit ke lemari mengambil pakaian kerjanya. Dia memakainya dihadapan Jingga.


"Sudah, mas," jawab Jingga.


Langit lalu bercermin sambil makai dasinya. Dia merapikan penampilannya lalu memakai jas.


"Yuk kita sarapan." Langit menolong Jingga untuk bangun perlahan. Lalu mereka keluar untuk sarapan.


***


Jingga melihat jam tangnnya sudah menunjukkan pukul 11 siang. Suaminya belum juga pulang. Jingga menelepon Langit tetapi ponselnya tidak aktif.


Lalu dia menelepon sekretaris Langit. Katanya Langit sudah keluar kantor sejak lima belas menit yang lalu. Itu berarti sebentar lagi Langit sampai. Jingga segera bersiap, dan menunggu di teras.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, Langit belum juga tiba. Apakah macet? Atau sesuatu terjadi pada Langit? Hati Jingga diselimuti kecemasan, dia lalu mencoba menelepon Langit kembali, tetapi tetap saja tidak aktif. Kekhawatirannya semakin bertambah.


"Loh Jingga kok masih di sini? Katanya mau cek kandungan?" Senja keluar, penampilannya sudah rapi, dia berencana ingin ke boutiquenya.


"Langitnya belum datang mah."


"Kamu sudah telepon dia?"


"Sudah Mah, tapi tidak aktif."


"Mungkin ponselnya kehabisan daya. Mama aja yang antar ke rumah sakit, ya?"


"Merepotkan Mamah."


"Mamah malah senang mau lihat baby di USG. Yuk kita berangkat sekarang aja, keburu siang banget."


"Kamu kenapa?" tanya Senja karena Jingga terlihat gelisah.


"Tidak apa-apa Mah. Jingga cuma khawatir terjadi sesuatu pada Langit. Soalnya kata sekretarisnya Langit sudah keluar kantor."


"Sudahlah jangan khawatir Langit baik-baik saja, mungkin dia sedang rapat dengan kliennya."


Mendengar Senja menyinggung rapat, Jingga teringat pesan yang di bacanya. Apakah Langit sedang menemui perempuan itu? Dia sampai melupakan janjinya untuk mengantar ke rumah sakit.


"Iya, Mah. Mungkin saja." Jingga tersenyum.


***

__ADS_1


"Jingga syukurlah bayinya sehat dan posisinya juga bagus. Kamu kapan mau lahirannya?"


"Sebenarnya aku mau melahirkan normal, Mah."


"Jangan sayang, kamu tadi kan dengar kata Dokter. Lebih baik kaku caesar, resikonya besar jika kamu melahirkan normal."


"Aku yakin bisa Mah."


"Jingga Dokter lebih paham kondisi kamu dan baby. Caesar atau normal sama saja sayang. Yang penting kamu dan baby selamat. Kasihan babynya kalau sampai terjadi sesuatu pada ibunya."


Mereka sedang dalam perjalanan pulang, Dokter memang menyarankan untuk operasi caesar saja mengingat Jingga pernah mengalami luka tembak di perut.


"Baiklah, Mah. Asal baby dan aku selamat. Kami bisa bersama. Semoga semua di lancarkan."


"Amin."


Saat di lampu merah, mobil berhenti. Jingga melihat keluar jendela. Matanya membulat sempurna saat melihat orang yang dikenalnya berada dalam mobil bersama seorang wanita.


Mereka terhalang oleh satu mobil. Dia sedang tertawa bersama wanita itu.


"Kak Langit."


----------------


Satu lagi rekomendasi keren dari noveltoon karya R.Angela.


__ADS_1


__ADS_2