Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 12. Mengunjungi Makam Bunda.


__ADS_3

Jingga Pov.


Indonesia aku kembali. Setelah luka yang kau berikan, kini aku datang untuk membalaskan semua. Aku tak menyangka akan secepat ini kembali.


Aku pikir tidak akan bertemu dengan masa lalu, tapi di bandara aku bertemu dengannya. Orang yang memberi bahagia dan hidup yang baru sekaligus memberi luka yang dalam. Malam itu dia merenggut semuanya, kehormatan, harga diri dan cintaku telah hilang dalam semalam, hancur luluh lantah tak tersisa.


Karena itu aku pergi untuk mengobati luka yang tidak akan pernah sembuh. Namun, semua percuma karena begitu aku melihatnya, bayangan itu berkelebat menabur garam pada luka yang masih basah. Untunglah dia tidak mengenaliku.


"Orange apa yang kau pikirkan?" tanya Roy teman satu tim ku kali ini. Dia berbadan atletis, berkulit putih blasteran Indonesia India.


"Tidak ada Roy, aku hanya sedang memikirkan misi kita. Ini adalah misi pertamaku. Aku gugup Kak Roy."


"Tenanglah. Kita ini satu tim semua pasti akan menjagamu, yang penting kau harus fokus."


"Iya Kak."


"Kita akan segera sampai. Kamu akan tinggal sendiri kami adalah Bodyguard mu, orang tuamu di Inggris. Ini untuk lebih jelasnya tentang statusmu."


Kak Roy memberi amplop coklat yang berada di dashboard, berisi berkas identitas ku.


Aku menerima dan membacanya. Jadi namaku sekarang adalah Angela Wilson. Seorang model, misiku adalah mendekati Rafael Ketua mafia yang berkedok pengusaha.


Aku membaca profilnya, dia berusia 50 tahun, sudah punya istri dan 2 orang anak berumur 20 tahun serta 17 tahun. Dua-duanya anak perempuan. Pemilik dari perusahaan otomotif. Aku membaca berkas itu sampai selesai.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan?"


"Tidak ada, oh ada! Aku baru ingat, aku harus memanggilmu apa?"


"Panggil saja, Tono." Tawaku langsung pecah. Ya ampun, apakah tidak ada nama lain selain Tono. Bukan masalah namanya, cuma tidak pantas saja nama itu dengan fisiknya, yang sama sekali tidak terlihat Jawanya. Bahasa Jawa saja dia tidak bisa.


"Kenapa kamu tertawa?" tanyanya padaku. Dia pasti heran melihatku yang tertawa geli.


"Tidak apa-apa. Apakah masih jauh tempatnya?" tanyaku mengalihkan topik.


"Sebentar lagi,"


Sekitar sepuluh menit kemudian mobil yang ku tumpangi berhenti di depan sebuah rumah mewah.


"Ini rumahnya, Kak?"


"Yes, ayo turun," ujarnya. Kami pun turun.

__ADS_1


Kami masuk ke dalam dan di dalam kami di sambut oleh tim yang berjumlah 8 orang. Kami berkenalan, karena ini pertemuan pertamaku dengan mereka. Kalau dengan Kak Roy kami sudah saling kenal. Dia lah yang mengurus keberangkatan ku ke Inggris.


Aku istirahat sebentar di kamar yang cukup elegan dan nyaman. Mungkin karena jetlag aku semakin mengantuk dan akhirnya mataku terpejam.


...***...


"Angela! ... Angel!" Sayup aku mendengar ada suara memanggil-manggil nama Angela. Berisik sekali, siapa Angela?


Aku membuka mata dan melihat Jam yang menghiasi dinding. Sudah pukul 2 siang. Aku pun bangun.


"Angel bangun!" Orang itu masih teriak-teriak Angel siapa Angel?Aku melangkah ke pintu dan membukanya.


"Kak, manggil siapa? Aku atau Angel?" Kak Roy yang memanggil-manggil nama Angel.


"Aw ...."


Tanganku dicubit oleh Kak Roy. Iseng banget sih. "Kamu tuh, mentang-mentang bangun tidur jadi lupa semua."


"Lupa? Lupa apa, sih?"


"Nama kamu, Angela!"


"Hah ... oh iya, aku melupakannya." Aku lalu nyengir. Kak Roy hanya menggeleng.


"Iya Kak."


Aku menutup pintu dan pergi ke dapur.


"Hai Cyn," sapaku pada Cynthia di dapur."


"Angela, namanya bukan Cynthia tapi Surti."


"Oh iya aku lupa, maaf." Dasar pikun, aku susah sekali menghafal nama-nama.


"Mulai sekarang biasakan memanggil kami dengan nama samaran." Kak Roy benar aku harus membiasakan diri.


"Nama aja gak hafal, padahal itu hal mudah. Sepele tapi kalau kau salah sebut, bisa fatal akibatnya! Heran, katanya pintar!"


wow ... rupanya ada yang tidak suka padaku, ternyata di tim ini ada juga yang nyinyir.


"Maaf Mba Surti, aku selalu lupa. Tapi tenang aja, aku punya cara untuk mengatasinya. Sekarang aku malah akan ingat Mba Surti terus. Terima kasih sudah mempermudahku." Dia hanya mendelik tidak suka dan pergi.

__ADS_1


"Sudah Angel, sekarang kamu makan." Kak Roy mendorongku untuk duduk.


Aku mengambil makanan nasi padang, wah aku rindu sekali. Di sana walaupun ada tapi tidak seenak yang ada di Indonesia.


Aku makan dengan lahap. Sementara Kak Roy dia sedang sibuk mengatur dan mengecek kamera-kamera tersembunyi yang sudah di pasang.


"Kak, aku boleh pergi ke luar?"


"Mau ke mana?" tanyanya tapi netranya tetap pada layar laptop.


"Aku mau mengunjungi makam ibuku, boleh?" Kak Roy berhenti mengetik dan menatap ke arahku.


"Kau pasti rindu ibumu. Boleh tidak apa-apa? Aku akan ikut denganmu. Kita harus waspada, aku takut ada yang mengawasi makam beliau. Jadi kita akan mengunjungi makam sebelahnya. Kamu mengerti?"


"Iya Kak, aku mengerti. Kita berangkat sekarang, Kak?"


"Kamu, sudah makannya?"


"Sudah."


"Ya udah, ayo! Kita pergi sekarang. Sebagai bodyguard mu aku akan ikut kemanapun kau pergi."


"Berasa jadi princess." Aku tersenyum, Roy sangat baik. Aku seperti memiliki kakak.


Kami pergi ke makam Bunda. Sudah lama aku tidak berziarah ke makamnya, karena kesibukan ku. Dalam perjalanan kami membeli bunga dan air, untuk nyekar.


Saat kami sampai makam, aku di larang turun. Kak Roy akan melihat situasi terlebih dahulu. Setelah di rasa aman, baru Kak Roy membolehkan aku untuk turun.


kami menyusuri pusara demi pusara lalu kami berhenti di samping makam bunda.


Rasanya sedih sekali. Aku berbo'a untuk bunda tapi tidak bisa langsung di hadapannya. Aku berjongkok di tengah-tengah dua pusara lau menghadap nisan.


Bunda aku datang, maafkan aku yang jarang berkunjung. Semoga bunda tenang dan selalu bahagia di sana. Aku rindu padamu. Bunda jangan khawatir padaku, hidupku kini sudah lebih baik.


Maafkan aku yang mengecewakan bunda dan tidak bisa menjaga kesucianku. Aku berdosa bunda. Bunda datanglah dalam mimpiku, obati rasa rinduku. Aku kemudian membaca Al-fatihah untuk bunda.


Kak Roy, terlihat seperti waspada. Aku tahu sudah saatnya aku pergi.


Aku berpamitan dengan bunda dan menaburkan bunga serta menyiram air di makam sebelah pusara bunda. Bunda ini sebenarnya untukmu. Maafkan bila harus seprti ini. Aku pergi dulu bunda, assalamualaikum.


Kami pun pergi. Dalam mobil Kak Roy bilang kalau ada yang mengawasi mereka. Benarkah? Siapa? Sudahlah biarkan saja. Tapi karena itu rencanaku berubah. Semula aku ingin melihat keluarga ayahku dari jauh, sekarang batal. Kami justru sedang mengecoh mobil yang mengikuti kami.

__ADS_1


Insting Kak Roy sangat tajam dia bisa tahu kalau sedang di ikuti.


...----------------...


__ADS_2