
Satu minggu sudah berlalu sejak kematian sang Ayah. Dia mendapat telepon dari seorang pengacara yang mengatakan bahwa, Jingga adalah salah satu ahli waris dari Hartono.
Jingga di minta untuk datang ke kantor pengacara guna menandatangani berkas-berkas yang bersangkutan. Selain Jingga juga di undang Widuri dan Kiara. Namun berhubung Kiara sedang di rumah sakit maka cukup ibunya yang datang.
Jingga di temani oleh Langit. Jingga mendapat sebuah hotel bintang lima yang di pegang Hartono. Sedangkan perusahaan yang di pegang oleh Kevin sudah bangkrut.
Widuri tidak terima karena dia hanya mendapatkan sebuah rumah dan mobil walaupun rumah itu bernilai 10 miliar dan mobil yang senilai 3 miliar.
Sedangkan anak perempuan nya mendapat sebuah apartemen juga mobil serta tabungan senilai 5 miliar. Hartono berharap Kiara bisa menggunakan uang itu untuk modal usaha.
"Ini tidak adil kenapa Jingga mendapatkan hotel. Aku istrinya."
"Tapi inu adalah wasiat dari Tuan Hartono. Anda juga sudah mendengar tadi ketika saya membacakannya. Keputusan bukan di tangan saya."
"Tentu saja Jingga yang lebih berhak karena dia adalah putri kandungnya."
Widuri menatap tajam Langit dan Jingga. "Aku akan merebut hotel itu, karena itu hakku dan anak-anakku. Kami yang mendampinginya selama ini. Bukankah kamu sudah pergi meninggalkan ayahmu?"
"Sejauh apa pun aku pergi, darah Ayah yang mengalir di tubuhku tidak akan hilang. Serenggang apa pun hubungan Ayah dan anak, jauh di dalam hati, mereka saling menyayangi dan merindukan."
"Kau tidak akan mengerti, karena dalam hatimu hanya ada harta bukan kasih sayang."
__ADS_1
Rentetan perkataan Jingga tidak di perdulikan oleh Widuri. Dia berdiri dan membanting berkas yang ada di tangannya ke atas meja lalu pergi dari tempat itu.
Jingga juga tidak perduli dia lalu menanda tangani berkas yang diberikan oleh pengacaranya.
***
Jingga kini sedang berada di taman belakang dekat kolam renang. Dia mengelus perutnya yang kini kehamilannya sudah berusia 4 bulan.
Acara syukuran 4 bulanan baru saja selesai di gelar. Senja hanya mengundang anak-anak panti serta ibu-ibu pengajian setempat.
Selesai acara Jingga ingin menyendiri di sini. Dia teringat Ayahnya. Jingga, kamu di sini? Kakak cari kamu tahu gak?" Mentari datang da ikut bergabung bersama Jingga.
"Ada apa Kak?"
"Iya."
"Menurut kamu, Roy itu orang yang bagaimana?"
"Baik, bertanggung jawab! Kenapa Kak?" Jingga merasa heran kenapa Kak Mentari tiba-tiba menanyakan tentang Roy.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja. Apa kau tahu dia sudah punya kekasih atau belum?"
__ADS_1
"Hah, Kekasih? Entahlah Kak. Aku tidak pernah bertanya masalah pribadinya tapi aku juga tidak pernah melihat dia bersama seorang wanita."
"Begitu ya?"
"Ada apa sih Kak?"
"Ah tidak, kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih." Mentari beranjak meninggalkan Jingga.
"Apa mereka sedang pendekatan, ya?" gumam Jingga. Jingga kemudian ikut beranjak dan pergi ke kamarnya.
Saat sampai di kamar, Jingga melihat Langit yang sedang bekerja dari laptopnya.
"Kak, apa tidak bisa pekerjaannya di tunda dulu sebentar?"
"Maaf sayang, sebentar lagi Kakak selesai." Langit menjawab tanpa menoleh pada Jingga.
Sebentarnya Langit itu adalah dua jam. Jingga menunggu dengan sabar, walaupun dia sudah mulai jenuh dan bosan. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak terasa matanya mengantuk dan akhirnya terpejam.
Langit sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menutup laptopnya. Di pindahkan laptop itu ke atas meja. Lalu Langit ikut membaringkan tubuhnya di samping Jingga. Matanya perlahan tertutup dan menyusul Jingga ke alam mimpi.
----------------
__ADS_1
Rekomendasi untukmu. novel yang keren. Di baca ya. Jangan lupa like dan komen. Terima kasih.