
Langit segera pamitan pada Ririn. Dia berlari ke mobilnya. Mobil pun melaju dengan kencang menuju rumah sakit.
Sementara di kamar rawat Jingga, Bintang sedang duduk memperhatikan Jingga. Dia sedang menimbang haruskah dia menceritakan rahasia Langit? Bisa-bisa Langit marah padanya kalau dia menceritakannya.
"sssh ...."
"Kenapa, Kak Jingga?"
"Tidak, cuma sakitnya datang lagi."
"Apa sakit sekali Kak?"
"Tidak bisa tergambarkan, nanti juga kau tahu sendiri."
***
Langit sudah sampai di depan rumah sakit. Dia menanyakan kamar rawat Jingga pada bagian informasi. Setelah tahu tempatnya Langit bergegas ke tempat itu.
Langit mengetuk pintu, lalu pintu terbuka tapi Langit tidak melihat adanya Jingga.
"Jingga sedang di operasi," celetuk Bintang begitu melihat Langit datang.
"Terus, kenapa kamu gak temenin?" tanya Langit.
"Kakak yang harusnya menemani Jingga di dalam, sana pergi!"
Langit pergi ke kamar operasi. Dia menunggu di depan. Keluar seorang perawat.
"Suster maaf, boleh saya masuk ke dalam. Saya suaminya Jingga." Langit langsung bertanya kepada perawat.
"Oh, sebentar ya Pak. saya tanya dulu." Perawat itu kembali masuk, karena boleh masuk tidaknya tergantung pasien.
Tak lama Perawat itu keluar. "Silahkan Pak."
Langit mencuci tangannya diajari oleh perawat. Kemudian dia memakai baju steril dan ikut masuk bersama perawat.
Operasi Jingga baru akan dimulai. Langit segera menghampiri Jingga, dia duduk di sebelah kepala Jingga. Langit memegang tangan Jingga.
"Sayang, maaf aku baru bisa datang. Tadi ada rapat penting."
"Hm. aku ngerti." Jingga antara sadar dan tidak bicara dengan Langit.
"Menurut kamu gimana kalau seandainya kita pindah ke rumah baru,"
"Kenapa pindah?"
"Ya, anak kita akan segera lahir. Biar dia punya kamar sendiri. Rumahnya juga lebih luas biar anaknya bisa main dan berjemur di rumah. Kita bikin taman yang besar, ada ayunannya. Kolam renang, buat olahraga juga."
__ADS_1
"Terus ya, kita tanami banyak buah-buahan. Pokoknya kita buat rumah kita nyaman dan aman untuk anak-anak kita nanti. Aku mau punya anak 6 aja."
Jingga terkekeh, Enam, bagaimana? Baru satu aja udah selingkuh. Namun reaksi Jingga bertolak belakang dengan pikirannya, dia mengangguk sambil tersenyum.
Dokter dan Perawat hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka.
"Aku bahagia sekali Jingga, i love you." Langit mencium kening Jingga.
Jingga hanya tersenyum pada Langit. Andaikan dia belum tahu apa yang terjadi. Dia pasti akan bahagia. Sang suami begitu mencintainya, dia akan segera bertemu buah hatinya. Sangat sempurna hidupnya. Jingga teringat belum memberikan nama pada anak mereka.
Suara tangisan bayi bergema di ruang operasi. Langit dan Jingga tersenyum dan menangis haru. Dokter meletakkan bayi itu dalam pangkuan Jingga setelah bayi itu di bersihkan. Dia begitu mungil dan imut.
Sementara itu di luar kamar Operasi orangtua Langit sedang menunggu. Dia khawatir pada mereka. Terdengar suara tangisan bayi, yang membuat mereka bahagia.
"Alhamdulillah, anaknya sudah lahir." Senja sangat senang.
"Alhamdulillah."
"Bintang, telepon Kak Mentari katakan kalau Jingga sudah melahirkan."
"Iya Mah." Bintang segera menelepon Mentari.
***
Kini Jingga sudah berada di ruang rawat VVIP. Langit dan keluarga juga sudah berada di sana. Mereka sedang melihat si baby mungil yang imut dan menggemaskan.
"Kalian sudah menyiapkan namanya?" tanya Senja sambil menggendong bayi Jingga.
"Bagus Kak," jawab Jingga. Dia pikir Langit belum mempersiapkan nama untuk mereka. Namun ternyata dia sudah menyiapkan nama yang bagus.
"Galaksi, nama yang gagah." Angkasa menyukai nama itu.
"Halo Gala sayang, ini Oma sayang."
"Ih, kamu ganteng banget, sih. wajahnya perpaduan Kak Jingga dan Kak Langit," ucap Bintang.
Ponsel Langit berbunyi. Langit melihat siapa yang meneleponnya. Dia lalu tersenyum." Maaf, Langit angkat telepon dulu masalah kerjaan." Langit keluar untuk mengangkat telepon.
"Telepon kerjaan, kok senyum-senyum," celetuk Senja.
"Sebahagia itu kamu dapat telepon dari dia," batin Jingga.
Bintang melihat wajah sendu Jingga. Ini tidak bisa di biarkan, harus segera di selesaikan. Bintang akan berbicara pada Langit.
"Aku keluar sebentar!" Bintang lalu bergegas keluar.
Dia mencari Langit. "Kak!" Bintang melihatnya di ujung lorong.
__ADS_1
Langit memberi kode pada Bintang untuk menunggu. Dia masih bicara serius pada seseorang di sebrang telepon.
"Ada apa?" tanya Langit.
"Kakak bisa 'kan matiin ponsel saat sedang bersama dengan Jingga. Kakak sadar gak? Kalau waktu Kakak habis cuma buat dia doang."
"Kak ini tuh hari kelahiran anak Kakak, luangkan waktu untuk mereka!" Bintang mengingatkan Langit.
"Kamu ini kenapa, sih? Aku meluangkan waktu untuk mereka. Buktinya aku berada di sini."
"Kak, perempuan itu sangat peka. Jingga tahu ada yang Kakak sembunyikan, kalau Kakak tidak segera bicara pada Jingga. Aku yakin dia pasti akan berpikiran negatif. Dia pasti sedih Kak, mungkin dia pikir suaminya selingkuh."
"Kamu 'kan tahu kalau Kakak tidak selingkuh. Lagipula Jingga tidak akan berpikiran seperti itu."
"Aku perempuan Kak, aku ini peka tidak seperti Kakak. Bahkan Kakak tidak memperhatikan perubahan sikap Jingga dan wajahnya. Dia tidak banyak tersenyum, wajahnya sendu."
"Kakak tahu, kenapa dia ke rumah sakit sendirian bahkan dia tidak menunggu Kakak atau minta antar orang rumah?"
"Itu karena Jingga ingin berusaha mandiri. Dia tidak ingin bergantung sama orang lain, kepercayaannya sudah tidak ada. Dia mungkin sedang menyiapkan perpisahan."
"Katakan secepatnya pada Jingga yang sebenarnya, jangan berlarut-larut atau Kakak akan menyiksanya dalam perasaan terluka."
"Tapi, Bin! Kamu tahu apa yang sedang Kakak kerjakan."
"Iya aku tahu, tapi buat apa semua ini jika Jingga tidak bahagia. Bukankah kau ingin Jingga bahagia. Maka katakan!"
"Aku juga curiga dengan Ririn, sepertinya dia menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Kakak!"
"Tidak mungkin, dia hanya mau semuanya sukses."
"Harusnya dia tahu Kakak juga perlu waktu buat keluarga. Ini nelepon kok gak tahu waktu. Kalau dia ada urusan lagi sama Kakak biar aku yang handle sekarang. Kakak hubungannya sama aku aja."
"Jangan begitu Bin, sebentar lagi beres kok!"
"Kak aku ini perempuan, aku tahu kalau dia cari perhatian sama Kakak. Atau Kakak juga senang bertemu dia dan cari-cari kesempatan? Ingat ya anakmu baru lahir!"
"Astagfirullah, gak Bin. Kakak sudah taubat. Dalam hati cuma ada Jingga. Ririn itu murni partner kerja gak ada perasaan apa-apa."
"Ya udah sekarang aku yang ambil alih."
"Iya. Terserah kamu aja deh."
"Bagus. Sekarang temui Jingga, lebih baik jelaskan. Percaya deh Kak kalau di biarkan, nanti lama-lama jadi bom yang bisa menghancurkan rumah tangga kalian."
"Oke, oh iya. Kamu sekarang temui Ririn, Kakak percaya sama kamu ya."
"Oke sip."
__ADS_1
Langit segera pergi untuk menemui Jingga. Benarkah apa yang di bilang oleh Bintang? Kalau jingga curiga dan berpikiran buruk?
----------------