Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 45. Semakin Curiga


__ADS_3

Jingga merasa tidurnya tidak nyaman. Perutnya kadang terasa sakit sampai ke tulang belakang. Walau sebentar tapi sangat sakit. Jingga pikir mungkin cuna pegal aja, karena posisinya duduk bersandar.


Jingga berusaha bangun untuk meluruskan badannya biar rasa pegalnya hilang. Jingga mengambil ponesl dan melihat jam. Pukul 01.30 pagi.


Jingga berasa ingin ke kamar mandi. Dia berjalan perlahan. Jingga melihat ke arah suaminya, yang tidur sangat pulas. Dia iri sekali, ingin rasanya tidur seperti itu.


"Kamu pasti sedang bermimpi indah bersama wanita lain, sampai kamu tersenyum-senyum dalam tidurmu." gumam jingga lalu dia melanjutkan langkahnya. Jingga masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit kemudian dia sudah keluar lagi. Jingga memakai mukenanya dia akan sholat tahajud.


***


Langit hari ini berangkat pagi sekali sampai tidak sarapan di rumah. Dia beralasan ada rapat penting. Jingga tentu saja tidak percaya dengan alasan Langit.


Rapat apa, sepagi ini? Kantor juga belum buka. Jingga berencana akan mengikuti Langit. Ini demi ketenangan hatinya.


Begitu Langit berangkat. Jingga langsung pergi menaiki mobil online yang sudah di pesannya. Jadi Langit tidak akan mengetahui kalau Jingga mengikutinya.


Jalan yang di lalui Langit bukanlah jalan menuju kantor. Jingga terus mengikutinya. Langit masuk ke daerah perumahan. Lalu berhenti di sebuah rumah yang terlihat mewah.


"Rumah siapa ini?" gumam Jingga.


Langit keluar, dan berjalan menuju teras. Dia mengetuk pintu lalu keluarlah seorang wanita cantik yang tersenyum ceria menyambut Langit.


"Dia wanita yang bersamanya di mobil waktu itu. Apakah ini rumahnya?" batin Jingga.


Langit terlihat masuk ke dalam. Jingga terus mengamatinya dan menunggu Langit dari dalam mobil. Sudah sejam Jingga menunggu tetapi Langit belum juga keluar.


"Sedang apa mereka di dalam? Haruskah aku keluar dan memergoki mereka? Ah, tidak! Lebih baik aku tunggu di sini aja. Aku takut nanti terjadi sesuatu pada kandunganku." Jingga terus bertanya dalam hatinya.


Tidak terasa setetes air mata jatuh membasahi pipinya, Jingga segera mengusapnya, dia harus kuat tidak boleh cengeng. Tiba-tiba Jingga merasakan sakit pada perutnya sampai ke tulang-tulang.


Dia meminta kepada supirnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Jingga bilang sepertinya dia mau melahirkan. Supirnya segera mempercepat laju mibilnya tetapi masih dalam batas aman.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit Jingga segera di bawa ke IGD. Di periksa oleh Dokter kandungan. Ternyata memang sudah ada pembukaan. Jingga segera di pindahkan ke ruangan rawat untuk persiapan operasi Caesar.


Jingga menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. Jingga memberi pesan pada Langit dan keluarganya.


Langit tidak membuka pesannya karena ponselnya di silence agar tidak mengganggu kegiatannya. Yang pertama membaca pesan Jingga adalah Bintang.


Bintang segera pergi ke rumah sakit. Sampai di sana Bintang segera ke ruangan rawat Jingga.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam."


"Kak, gimana? Sudah mau operasi?" tanya Bintang.


"Iya lagi di siapin. Aku nya juga lagi di cek lab sama di suruh puasa."


"Kakak, kok gak minta anter aku?"


"Emangnya mau ke mana pagi-pagi?"


"Hah, nyari sarapan. Lagi pengen serabi atau kupat sayur."


"Ya ampun udah bulannya masih aja ngidam," ucap Bintang.


"Kenapa, gak suruh Kak Langit aja?"


"Kak Langit udah berangkat pagi-pagi, bahkan dia aja gak sarapan. Katanya sih ada rapat penting! Gak tahu rapat apaan pagi-pagi banget. Kantor aja belum buka. Rapat atau rapet?"


Bintang menangkap nada sinis dari perkataan Jingga. Sepertinya Jingga mencurigai sesuatu. Dia harus memberi tahu Langit dan menyuruhnya datang ke sini.


"Sebentar, aku telepon Kak Langit dulu."

__ADS_1


"Percuma! Aku sudah telepon berkali-kali gak di angkat. Mungkin gak mau di ganggu acara merapatnya."


"Coba sebentar aku telepon sekretarisnya dulu." Bintang keluar dari kamar Jingga.


"Wah, Kak Langit cari masalah aja tuh orang. Istri udah bulannya, ditinggal mulu. Curiga kan dia," gumam Bintang.


Bintang menelepon seseorang yang dia yakin sekarang sedang bersama Langit. Telepon tersambung dan di angkat.


"Halo! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Ada apa Bin?"


"Maaf, Kak. Apa Kak Langit ada di sana?"


"Iya, ada. Nih lagi di samping aku."


"Bisa bicara sebentar sama Kak Langit?"


"Bisa, sebentar ya."


"Ada apa Bin?"


"Heh, kutu. Kenapa Hp di silence? Ngapain ke sana pagi-pagi? Gak bisa ya, kalau ke sananya sore aja pas pulang kerja?"


"Kenapa sih, Bin? Marah-marah gak jelas."


"Kak Jingga tuh udah bulannya, harusnya Kak Langit lebih perhatian sama Kak Jingga. Kak Jingga sudah curiga sama Kak Langit. Aku setuju merahasiakan ini, karena ku pikir ini yang terbaik buat Jingga. Tetapi, Kakak malah sering ninggalin dia sendirian!"


"Iya, maaf. Aku akan selesaikan ini secepatnya, biar semuanya tenang. Aku sama Ririn bakal nemuin Jingga kalau waktunya sudah tepat."


"Terserah, kalau ada apa-apa sama Kak Jingga, aku gak mau kenal Kakak lagi! Oh ya, Jingga sekarang di rumah sakit sudah mau lahiran sebentar lagi. Terserah mau datang atau gak!" Bintang sangat marah pada Kakaknya, yang selalu meninggalkan Jingga. Bintang mematikan ponselnya dengan kasar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2