
Pagi hari ini Bintang pulang dengan Langit. Senja memarahi Bintang yang tiba-tiba menghilang dan pulang dalam keadaan terluka. Bukan hanya sekali namun, ini sudah sering terjadi. Mereka sedang duduk di ruang keluarga. Langit pergi ke kamarnya.
"Mamah heran sama kamu! Anak perempuan kok suka keluyuran terus pulang dalam keadaan terluka. Kamu itu habis ngapain, sih? Ini terakhir kali kamu seperti ini. Mamah gak mau lagi kamu yang tiba-tiba hilang dan pulang dalam keadaan begini!"
"Iya Mah, maaf. Bintang janji ini yang terakhir kali." Bintang menunduk dia merasa bersalah, karena merahasiakan sesuatu dari mamahnya.
"Mamah ingin kamu berhenti melakukan apa pun yang sedang kamu kerjakan sekarang, atau kamu akan melihat Mamah mati! Janji kamu sekarang!"
"Mah! Jangan bilang begitu. Seram banget ancamannya. Bintang berjanji akan berusaha menjaga diri Bintang lebih baik lagi."
"Gak, bukan itu. Kamu janji kamu akan berhenti dari pekerjaan kamu sekarang apa pun itu. Tidak akan keluyuran lagi dan melakukan sesuatu hal yang berbahaya."
"Mah, aku ...." Bintang belum selesai bicara tetapi Senja sudah memotong pembicaraannya.
"Berjanji atau Mamah mati!" Senja kembali mengancam Bintang. Dia sengaja melakukan ini karena merasa sudah sangat khawatir dengan Bintang. Anak perempuannya tapi suka sekali menantang bahaya. Sudah sering kali di nasehati dan di diberi peringatan, tetapi tidak pernah di turuti.
"Iya Mamah, aku janji. Jangan gitu dong mengancamnya aku kan takut. Bintang sayang Mamah, jangan pergi tinggalin Bintang." Bintang langsung memeluk mamahnya.
"Kamu pikir Mamah gak sayang kamu. Mamah juga tidak mau di ditinggalkan kamu Bintang. Kamu janji ya sama Mamah, kamu akan berhenti saat ini juga." Senja berkata seraya mengusap-usap Punggung Bintang yang memeluknya.
"Iya Mamah sayang."
"Sekarang kita makan yuk. Mamah masak makanan kesukaanmu."
"Iya Mah."
Mereka beranjak bangun dan pergi ke ruang makan. Bibi sudah menyiapkan berbagai makanan di meja makan yang sudah di masak Senja. Mata Bintang berbinar melihat aneka makanan kesukaannya.
"Wah Mamah, masaknya banyak banget dan semua kesukaanku."
"Iya sayang, semua kesukaanmu ayo duduk! Kita langsung makan aja. Bibi tolong panggil yang lain ya, terus kalau sudah, Bibi ke sini lagi. Kita makan bersama."
"Iya Nyonya." Bibi bergegas ke atas memanggil Tuan Angkasa, Nyonya Mentari, Non Bulan dan Tuan Langit.
"Mamah kenapa lihat ponsel terus?" tanya Bintang yang melihat Senja selalu melirik ke ponsel di atas meja di depannya.
"Mamah sedang menunggu telepon Angela, dia berjanji akan menelepon Mamah secepatnya, tetapi sampai sekarang belum ada kabar juga." Mendengar ucapan mamahnya Bintang merasa bingung. Haruskah dia cerita tentang apa yang terjadi pada Jingga alias Angela?
"Mungkin dia sibuk Mah, sabar aja nanti juga dia nelepon Mamah, kok."
__ADS_1
"Semoga, perasaan Mamah gak enak. Mamah khawatir sekali pada Jingga ... eh maksud Mamah Angela." Senja segera meralat perkataannya, setelah sadar dia salah menyebutkan nama.
"Mamah tahu kalau Angela itu adalah Jingga?" tanya Bintang.
"Kamu tahu?" Senja justru bertanya lagi pada Bintang.
"Bukannya di jawab malah nanya lagi," protes Bintang.
"Kamu, bukannya jawab malah protes!"
"Kan aku dulu yang nanya."
"Mamah akan jawab, setelah kamu jawab dulu pertanyaan Mamah."
"Mamah curang! Iya aku tahu kalau Angela adalah Jingga."
"Sejak kapan?" tanya Senja lagi.
"Sejak pertama bertemu."
"Sama, Mamah juga sejak pertama bertemu sudah curiga tapi tidak langsung sadar kalau dia adalah Jingga. Sampai Bulan yang bilang."
"Tahu apa?" Datang Angkasa dan yang lainnya.
"Ah bukan apa-apa, ayo kita mulai makan." Senja mengambilkan makanan untuk Angkasa.
...***...
Jingga sedang termenung sendiri di kamarnya, dia baru saja selesai sarapan. Pintu ruangan terbuka, masuklah Roy menghampiri Jingga.
"Selamat kamu akan menjadi seorang ibu, Jingga."
"Jadi Kak Roy juga sudah tahu."
"Iya, bahkan Richard pun tahu."
"Maaf, Kak aku bukan ingin merahasiakannya, tetapi aku sendiri baru tahu."
"Aku sudah menduganya, tidak mungkin kau akan membahayakan nyawa anakmu jika kau sudah mengetahuinya." Setelah mengatakan itu Roy terdiam sejenak.
__ADS_1
"Jingga Maaf, tapi sepertinya kau harus keluar dari kasus ini."
"Iya, aku pun berpikir hal yang sama. Bukannya apa-apa tapi aku tidak ingin menjadi beban bagi kalian. Aku minta maaf, atas semuanya."
"Tidak apa-apa Jingga. Lantas apa rencana kamu selanjutnya? Apa kamu akan kembali ke Inggris atau tetap di sini?"
"Tidak keduanya Kak. Aku ingin pergi ke tempat lain."
"Apa yang bisa ku bantu katakan saja, jangan sungkan Jingga. Walau kau sudah di cabut dari kasus ini kau tetaplah masih anggota kami."
"Tidak Kak, aku ingin berhenti. Aku ingin fokus merawat anakku, maafkan aku."
"Baiklah jika itu sudah keputusanmu aku bisa apa? Walaupun begitu ingatlah kau masih teman kami, jika kau butuh bantuanku telepon aku ya."
"Iya Kak, terima kasih. Ngomong-ngomong kapan aku bisa pulang?"
"Tanyakan saja pada dokternya nanti. Jingga aku harus pergi, apa ada sesuatu yang kau inginkan?"
"Tidak kak, terima kasih."
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi ya."
"Iya, kak."
Roy pergi dari sana. Dia sebenarnya ingin bertanya mengenai ayah dari si bayi. Tetapi di urungkannya. Roy berpikir itu adalah masalah pribadi Jingga.
...***...
Satu minggu sudah berlalu Langit tidak menemukan Jingga, untuk kesekian kali Langit kehilangan jejaknya. Saat ini Langit sedang keliling mencari Jingga, walupun kemungkinannya bertemu hanya 0,1% semoga dia bisa menemukannya.
Langit sedang mengisi bensin. Kemudian dia melihat seseorang seperti Jingga baru keluar dari mini market. Untunglah dia sudah selesai mengisi bensin dan tinggal membayar. Langit menyerahkan uang Rp 300.000 kepada petugas pom. Dia bergegas masuk mobil dan menghampiri orang yang seperti Jingga.
Wanita itu terus berjalan lalu Langit berhenti di sampingnya, dia kemudian turun menghampiri Jingga. Langit menepuk punggungnya agar wanita itu berbalik.
...----------------...
Halo ada satu lagi rekomendasi yang bagus untuk kalian.
__ADS_1