Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Kembali Ke Rumah Langit.


__ADS_3

"Sayang, kamu gak apa-apa? Wajah kamu pucat . Kamu jangan pulang ya, di sini aja dulu." Senja melarang Jingga pulang.


"Jingga gak apa-apa, Mah."


"Gak ada penolakan, kamu di sini aja! Mamah khawatir kalau kamu sendirian di rumah."


"Jingga ...."


"Mamah bilang gak ada penolakan Jingga. Tari, antar Jingga ke kamar, Langit panggil dokter!" Jingga di antar Tari ke kamar saat dia mendengar Senja menyuruh Langit memanggil dokter, Jingga berbalik badan dan terlihat panik.


"Tidak usah panggil dokter, Mah. Jingga baik-baik saja. Mungkin cuma masuk angin atau maag. Jingga cuma perlu makan, minum obat dan istirahat aja," ucap Jingga.


"Iya, sekarang kamu ke kamar, nanti Mamah antar makan buat kamu sama obatnya."


"Iya Mah." Jingga kembali ke kamar. Setelah Jingga tidak terlihat, Senja mendekati Langit dan berbisik. "Cepat panggil dokter." Langit mengikuti perintah Jingga. Senja berlalu dan menuju ke dapur. Dia menyiapkan makan untuk Jingga.


"Mah, aku mau susu." Datang Bintang ingin minum susu.


"Bikin aja sendiri, Maaf ya tapi Mamah sedang sibuk sekarang." Senja bicara seraya mengambil nasi dan lauk pauk dalam piring.


"Sibuk apa, sih? Itu makanan buat siapa?" tanya Bintang.


"Ada tamu spesial," jawab Senja.


"Siapa?"


"Anak Mamah yang hilang." Mendengar itu Bintang mengerutkan dahinya.


"Jingga?" tanya Bintang memastikan.


"Iya." Senja tersenyum.


"Wah, aku mau ketemu Jingga. Aku harus berterima kasih padanya. Di mana dia?"


"Di kamarnya yang dulu." Setelah Senja mengatakannya, Bintang langsung pergi.


Setengah jam kemudian dokter datang ke rumah Angkasa Biantara, Langit menyambut dokter dan mengantarnya ke kamar yang di tempati oleh Jingga. Di sana sedang berkumpul Senja, Mentari, Bintang, Bulan dan Jingga.


Pintu kamar di ketuk Langit, terdengar suara Senja yang menyuruh masuk.


Pintu terbuka masuklah Langit di ikuti oleh Dokter wanita. "Silahkan Dok," ucap Langit mempersilahkan Dokternya untuk masuk.

__ADS_1


"Eh, Bu Dokter sudah datang. Maaf ya saya merepotkan memanggil Dokter ke sini, soalnya pasiennya gak mau di bawa periksa ke Dokter jadi terpaksa saya panggil Dokternya aja, deh." Senja menghampiri Dokter dan menyapanya.


"Tidak apa-apa, sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter mengobati orang yang sakit di mana saja. Mana pasiennya, Nyonya Senja?"


"Tuh pasiennya, lagi rebahan di tempat tidur," tunjuk Senja pada Jingga.


"Oh, yuk! Kita periksa sekarang, maaf tetapi bisakah kalau semua menunggu di luar?"


"Bisa, Dok. Ayo kita semua keluar."


Senja dan yang lainnya termasuk Langit keluar dari kamar Jingga. "Loh, kok Dokter keluar?" tanya Mentari bingung melihat Dokter di sampingnya.


"Kan tadi Nyonya Senja ngajak semua keluar."


"Iya, kan Dokter yang minta. Terus siapa yang periksa Jingga kalau Dokternya di sini?" tanya Senja.


"Oh iya ya, hehehe ... Maaf, kalau begitu saya masuk lagi, permisi." Dokter kembali masuk ke kamar Jingga.


"Dokternya lucu ya Oma," celetuk Bulan sambil terkekeh.


"Dokternya mau jadi pelawak." Bintang menambahkan.


Suasana di luar yang ramai, berbeda jauh dengan situasi dan kondisi di dalam kamar Jingga. Dokter sudah memeriksanya, dia tidak memprediksi sama sekali kalau ternyata pasiennya sedang hamil.


"Biasanya orang yang saya periksa akan terlihat bahagia ketika mengetahui kalau dirinya sedang hamil. Kenapa kamu tidak terlihat bahagia?"


"Saya bahagia dokter."


"Apa ada orang bahagia dengan wajah sendu?" tanya dokternya.


"Maaf, saya sungguh bahagia dia hadir di sini, tetapi dia hadir karena kesalahan orang tuanya. Ayahnya bahkan tidak tahu kalau dia ada."


"Kasih tahu aja ayahnya, kalau dia ada!"


"Bagaiamana jika dia tidak mengakuinya karena dia merasa tidak pernah berhubungan dengan ibunya? Itu lebih menyakitkan."


"Jingga pernahkah, kau mengatakan ini pada seseorang?" tanya Dokter. Jingga menjawabnya dengan menggeleng.


"Tahukah kau apa akibatnya?" Jingga kembali menggeleng menjawab pertanyaan Dokter.


"Jiwamu akan terbebani, pikiranku menjadi stress dengan segala ketakutanmu dan bayangan kejadian yang menakutkan itu. Lebih baik kau ceritakan pada seseorang yang kau percayai. Maaf kalau boleh aku bertanya, apakah ini semua terjadi dengan kesadaran dan kemauanmu sendiri?"

__ADS_1


"Tidak Dokter. Aku memang mencintainya tetapi aku tahu batasan Dokter. Dia datang dalam keadaan mabuk dan memaksaku, apalah dayaku yang hanya seorang wanita lemah, dibandingkan dia seorang pria yang kuat. Setelah itu dia tidak sadar. Bahkan dia tidak ingat pernah melakukannya sampai sekarang. Lantas bagaimana aku akan meminta tanggung jawabnya, sedangkan dia sendiri tidak ingat akan kejadian itu?"


"Asal kau punya bukti lain untuk menguatkan pernyataanmu, kau bisa menuntutnya tanggung jawab."


"Sayangnya tidak Dokter, biarlah aku jalani semua sendiri. Aku minta tolong Dokter, ajak aku bersamamu. Rahasiakan kehamilanku dari mereka."


"Sebagai seorang dokter aku berkewajiban merahasiakan status penyakit pasien. Namun, Nyonya Senja adalah sahabatku. Beliau juga yang memanggilku karena dia sangat khawatir padamu. Aku tidak tega membohonginya, juga hal seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa disembunyikan, karena perutmu akan semakin membesar. Jika Nyonya tahu maka kredibilitas ku sebagai Dokter akan di pertanyakan. Aku cuma ingin menyarankan padamu Jingga, lebih baik kau jujur padanya. Jika mereka butuh bukti kau bisa melakukan tes DNA setelah anak ini lahir."


"Kenapa Dokter mengatakan hal seperti itu? Untuk apa saya membuktikan pada mereka?"


"Karena anak ini adalah anak Langit, bukan?" tanya Dokter.


"Dari mana Dokter tahu?"


"Dari sikapmu. Pikirkanlah Jingga, kau tidak bisa menyembunyikan status anakmu selamanya. Aku akan memberi waktu padamu satu bulan untuk mengatakannya sendiri. Namun, jika dalam satu bulan kau belum mengatakannya, terpaksa aku yang akan mengatakannya pada Nyonya Senja."


"Terima kasih Dokter, Anda memberikan waktu untukku. Satu bulan ku rasa cukup untuk menyiapkan mental agar aku bisa mengatakannya pada mereka."


"Ok, Jingga ini aku beri kamu obat untuk mengurangi mual, dan vitamin. Saya sarankan kamu ke dokter kandungan, agar kamu bisa mengetahui lebih mendetail mengenai kandunganmu dan janinmu." Dokter memberikan obat pada Jingga.


"Iya Dok, terima kasih."


"Sama-sama. Jagalah kandunganmu dengan baik, jangan terlalu banyak pikiran nanti bisa berakibat buruk pada kandunganmu."


"Iya Dok," ucap Jingga.


Dokter pun keluar dari kamar Jingga. Semua orang yang di luar langsung menghampiri Dokter dan bertanya sakit apa Jingga? Dokter hanya menjawab kalau Jingga hanya kelelahan dan butuh istirahat, juga penyakit maagnya sedang kambuh. Dokter lalu pamit pulang pada mereka.


"Langit tolong antar Dokternya ke luar. Terima kasih Dokter, sudah mau direpotkan."


"Sama-sama Nyonya. Saya permisi dulu." Dokter pergi diantar Langit sampai ke pintu.


"Langit, apa kau pernah berpikir ingin berkeluarga, maksudku menikah dan punya anak?" tanya Dokter pada Langit ketika mereka sampai di depan pintu.


"Saya tidak pernah berkeinginan untuk menikah Dokter. Sampai saya bertemu seseorang yang membuat saya tidak mau kehilangan dia. Rasanya saya ingin menikahinya."


"Benarkah, semoga orang itu adalah yang terbaik untukmu. Kau mendapatkan anugerah terindah tanpa kau sadari. Aku pergi dulu." Dokter itu menepuk pundak Langit lalu pergi. Langit termenung berusaha mencerna ucapan Dokter yang sepertinya menyiratkan sesuatu.


...----------------...


"

__ADS_1


__ADS_2