Langit Jingga Mengubah Takdir

Langit Jingga Mengubah Takdir
Bab 47. Pelakor


__ADS_3

Langit sekarang sudah berada di kamar bersama Jingga. Dia ingin bicara pada Jingga tetapi berhubung masih banyak orang diurungkannya niatnya itu. Langit menggendong anaknya Galaksi Biantara.


Gala panggilannya, dia terlihat nyaman dalam pangkuan Langit. Sungguh Langit tak percaya dia sudah mempunyai anak dan anaknya sangat tampan seperti dirinya.


Langit tersenyum sendiri, Jingga yang melihatnya ikut tersenyum. Langit terlihat begitu bahagia. Namun, kala Jingga teringat akan perselingkuhan Langit, senyum itu luntur.


Haruskah dia bertahan atau pergi? Lalu bagaimana dengan anaknya. Dia tidak ingin memisahkan mereka. Jingga larut dalam pikirannya, dia tidak menyadari kalau semua orang telah pergi kecuali Langit dan Gala.


Langit meletakkan Gala di box bayi. Kemudian dia menghampiri Jingga, yang terlihat melamun. Jingga seperti sedang memikirkan sesuatu.


Benar kata Bintang, Jingga mungkin sedang tersiksa oleh pikiran buruknya. Langit merasa dia suami yang buruk, karena telah membuat Jingga seperti ini. Sekarang dia akan meluruskan segalanya.


Langit duduk di samping Jingga, dia mengambil tangan Jingga dan menggenggamnya. Jingga terkejut mendapati Langit sedang duduk di sampingnya. Jingga mengedarkan pandangan ke sekitar, ternyata tinggal mereka berdua.


Jingga melihat Langit tersenyum lembut. "Sayang, aku mau bicara." Jingga mendengar apa yang di katakan Langit. Apa yang mau dibicarakan Langit? Jingga menatap Langit.


"Sayang, maaf aku selama ini terlalu sibuk, kurang waktu untuk kamu dan bayi kita. Tetapi kamu jangan khawatir, mulai saat ini, aku akan luangkan banyak waktu buat kamu."


"Aku juga sebenarnya punya rahasia?" lanjut Langit.


"Rahasia?"


"Iya, aku yakin kamu akan suka dengan rahasia itu. Tapi tunggu sebentar lagi ya, aku akan mengatakannya padamu."


"Rahasia apa?"


"Nanti sayang, yang penting aku harap kamu tidak salah paham dan berprasangka buruk padaku. Aku sangat mencintaimu, apalagi anak kita telah lahir, mimpiku adalah menghabiskan hidup dengan kalian, anak dan istriku."

__ADS_1


Ponsel Langit berdering, Langit melihat ada nama Bintang. Dia mengangkat telepon di hadapan Jingga.


Jingga mendengarkan, ternyata yang menelepon Langit adalah Bintang. Tak lama Langit menutup teleponnya.


"Sayang, aku ke Dokter dulu ya, mau tanya, kapan kamu boleh pulang?"


"Iya." Jingga melihat Langit keluar.


"Rahasia, apa ya?" tanya Jingga pada dirinya.


Setengah jam kemudian, Langit sudah kembali. "Sayang, kata Dokter kalau kamu dan bayinya sehat besok sudah bisa pulang."


"Alhamdulillah."


"Sekarang kamu istirahat, biar besok segar saat kita pulang."


"Kamu, gak pergi?"


***


"Langit kenapa gak datang, ya?"


"Ya, jagain istrinya lah, sama anaknya! Mereka sedang berbahagia menyambut kelahiran sang buah cinta mereka." Bintang bicara dengan semangat.


"Oh, biasanya kalau aku telepon dia langsung datang."


"Dia bukan datang karena lo, tapi karena dia semangat mau cepat-cepat menyelesaikan rumah ini buat istri sama anaknya. Lo jangan baper!"

__ADS_1


"Kamu, kenapa sih? Kok kaya gak suka gitu?"


"Ya, iya lah. Kelihatan banget, lo caper sama Kakak gue. Kakak gue aja yang gak peka. Kalau tahu niat lo, dia pasti ogah, kerjasama ama lo!"


"Lo aja yang gak paham, Langit itu senang ketemu gue!"


"Bangun ... bangun! Mimpi lo, ketinggian! Udah ah gue pulang aja, lama-lama ngomong ama lo bikin emosi jiwa!"


"Pulang aja sana! Gak ada yang nyuruh ke sini!"


"Eh iya lupa! Dengerin ya manis jembatan ancol. Besok lo gak usah datang lagi. Kerjasamanya udah berakhir. Gue udah cari orang yang lebih bagus dari pada lo. Yang profesional, bukannya yang menyelam sambil minum air!"


"Gak bisa begitu dong!"


"Kenapa, gak?"


"Kita terikat kontrak, gak bisa main memutuskaan kontrak secara sepihak!"


"Oh, Ok. Akan gue sebarin, kalau lo gak profesional, sebaliknya lo malah menggoda klien lo, yang udah punya anak istri."


"Jangan fitnah sembarangan, ya!"


"No hoax tapi fakta! ini buktinya."


"Lo, coba merayu Kakak gue, untung Kakak gue setia dan gak peka sama lo. Jadi dia cuek aja." Bintang menunjukkan rekaman cctv. Ririn pikir CCTV belum terpasang.


"Sekarang mending lo pergi," ucap Bintang.

__ADS_1


"Hm!" Ririn memalingkan wajah dan beranjak pergi.


"Calon pelakor hilang satu."


__ADS_2