
Langit sampai di rumah Angkasa saat siang hari. Bintang langsung menemuinya di kamar Langit. Dia ingin mengatakan sesuatu yang lebih baik tidak di ketahui oleh keluarganya
"Kak, kenapa Kakak pulang dan meninggalkan Kak Jingga sendirian. Apakah Kakak tahu itu sangat beresiko?"
"Kakak harus bekerja Bintang, kalau Jingga di ajak bukankah itu lebih beresiko? Lagi pula di sana Jingga tidak sendirian ada pengawal dan asisten rumah tangga," ujar Langit sambil membereskan pakaian yang di bawanya.
"Kakak tidak tahu bagaimana situasinya, Rafael sudah di tangkap dan Kevin melarikan diri. Perusahaannya bangkrut, dia pasti akan mencari Jingga untuk mencegahnya bersaksi dan membuat pernyataan." Bintang duduk di atas tempat tidur dengan gelisah.
"Tenanglah, tidak akan ada yang tahu di mana dia berada! Aku juga tidak akan lama, lusa aku sudah kembali."
"Besok! Besok kakak harus sudah kembali. Masalah kantor biar aku dan Papah yang handle. Kakak tahu Polisi kemari dan menanyakan keberadaan Jingga. Aku bilang tidak tahu. Mereka ingin menjemput Jingga dan menjadikannya saksi."
"Apakah mereka bisa menjamin keamanan Jingga? Aku izinkan dia bersaksi karena Rafael memag harus dihukum seberat-beratnya. Hanya menurutku lebih baik kita saja yang membawanya langsung ke pengadilan."
"Iya, menurutku juga begitu. Karena itu, besok Kakak harus segera kembali. Demi keselamatan Kak Jingga dan anak Kakak."
"Kakak usahakan besok sudah selesai."
"Hati-hati Kak selalu waspada, takutnya ada yang mengikutimu."
"Oke, sekarang tolong kamu keluar! Kakak mau ganti baju dan langsung ke kantor agar besok bisa segera pulang."
"Oke kak." Bintang langsung keluar. Langit berganti baju.
...***...
"Bos ada kabar tentang Angela, dia keluar kota!" ujar anak buah Kevin, tangan kananya memegang ponsel yang masih tersambung.
__ADS_1
"Bagus, luar kota mana?" tanya Kevin.
"Ini Bos." Anak buahnya menyerahkan ponsel itu pada Kevin.
"Kamu cari di sekitar daerah itu, pasti tidak jauh dari sana. Tempatkan orang-orang kita di beberapa titik!" Kevin berbicara dengan anak buahnya yang lain di saluran telepon. Setelah memberi instruksi dia memutuskan saluran teleponnya.
"Angela, kamu akan segera tertangkap. Kau tidak akan bisa lari dan sembunyi.Tunggu aku Angela, aku akan datang dan mendapatkanmu." Kevin tersenyum miring.
"Bos ada adik Bos datang."
"Suruh masuk!"
Masuklah seorang wanita cantik, dia menghampiri Kakaknya dengan wajah yang merengut. Sang Kakak nampak tidak perduli. Dia melanjutkan pekerjaannya bermain game.
"Kak, gara-gara Kakak perusahaan Papah menjadi anjlok nilai sahamnya. Mundurnya perusahaan Langit sangat berpengaruh pada kepercayaan klien. Apa lagi setelah di terpa isu tentang Kakak. Seharusnya Kakak lebih berhati-hati."
"Kamu tidak usah ikut campur. Apa sih yang kamu tahu? Bisanya kamu cuma menghabiskan uang saja!"
"Ya jangan sampai jatuh! Kamu cari pegangan orang kaya."
"Cowok ganteng kaya pasti udah ada yang punya."
"Ya kan masih ada yang jelek tapi Kaya, atau kamu rebut aja mereka dari yang punya." Sungguh saran yang sesat.
"Kamu mau apa ke sini? Tidak..ada yang mengikutimu 'kan?" lanjut Kevin.
"Tenang semua aman terkendali. Ini buat Kakak dari Mamah. Setiap hari ada Polisi yang mengintai rumah kita." Dia meletakkan makan di atas meja.
__ADS_1
"Baguslah, sekarang kamu lebih baik pergi. Ada kamu lama-lama di sini cuma mencemarkan udara dan bising." Kevin menaruh ponselnya dan mengambil makanan yang dibawa adiknya.
"Emangnya aku mobil rongsokan! Bukannya terima kasih di bawain makanan malah ngusir! Dasar Kakak lucknut." Adik Kevin pergi dengan wajah yang di tekuk.
...***...
"Bi, anterin yuk ke kota! Aku mau makan sesuatu di sana."
"Aduh Nyonya jangan, bahaya! Ingat pesan Tuan, suami Nyonya?"
"Ah, Bibi. Ini kan kemauan si Baby. Jadi harus di turuti!"
"Aduh, gimana Nya? Nanti Tuan marah sama saya."
"Gak akan! Yuk Bi!"
Jingga keluar dari villa menaiki mobil, di ikuti dua bodyguard yang satu merangkap sebagi supir.
Setelah sampai di kota, Jingga turun dan menjelajahi kota ini untuk pertama kali. Dari kejauhan ada seorang yang mengamatinya lalu tersenyum. Setelah itu Jingga masuk ke sebuah rumah makan dan izin ingin ke toilet.
Bibi sebenarnya ingin ikut, untuk menjaga majikannya. Namun, Jingga menolak. Saat Jingga ke kamar mandi, seseorang menyekapnya dari belakang. Jingga langsung terkulai lemas tak sadarkan diri. Orang itu menggendong Jingga ke sebuah mobil.
Di dalam mobil sudah ada beberapa orang pria yang menunggu. Mereka memasukkan Jingga ke dalam mobil. Jingga di dudukkan di kursi bagian tengah. Mobil itu pun melaju.
...----------------...
Halo readers terima kasih masih membaca cerita author.. semoga suka dengan bab ini. Terima kasih dukungannya... Love You All ❤❤❤
__ADS_1
Satu lagi rekomendasi dari author. By triple 1. Kalian wajib baca ya bagus loh ceritanya. Jangan lupa like ya.