LEGENDA RAJA SEMESTA

LEGENDA RAJA SEMESTA
Tournament 2


__ADS_3

Babak pertama telah selesai, dari 1500 orang peserta yang ikut dalam turnamen ini hanya menyisakan 30 peserta saja yang lolos termasuk Leon dan kedua saudaranya, para peserta kemudian di persilahkan untuk istirahat dan memulihkan tenaga mereka selama dua jam.


Setelah dua jam berlalu tiga puluh peserta yang lolos di kumpulkan lagi di arena, karena Hugo akan menjelaskan tentang pertandingan babak kedua pada seluruh peserta yang lolos.


"Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian yang lolos, di babak kedua ini kalian akan bertarung satu lawan satu, kalian akan mengambil nomor undian dan akan bertarung menurut nomor undian tersebut, untuk peraturannya tetap sama, yaitu kalian bebas menggunakan senjata tapi di larang membunuh peserta lain, peserta akan di nyatakan kalah jika keluar dari arena, tak sadarkan diri, atau menyerah, kalau begitu silahkan ambil nomor undian kalian di sana" kata Hugo sambil menunjuk kearah meja di pinggir lapangan.


Para peserta kemudian mendatangi meja yang di jaga oleh dua orang tersebut mereka kemudian mengambilkan undian masing-masing, lalu setelah itu mereka kembali ke tempat duduk para peserta sambil menunggu nomor mereka di panggil.


"Ternyata nomor terakhir" gumam Leon sambil memegang nomor pesertanya.


Hugo kembali naik keatas arena dan mulai bicara lagi.


"Sekarang kita lanjutkan babak keduanya, untuk pertandingan pertama, nomor satu dan dua silahkan naik ke atas arena"


Peserta nomor satu dan dua kemudian memasuki arena dan mengambil posisi masing, keduanya sama-sama menggunakan pedang sebagai senjata.


"Pertarungannya dimulai" kata Hugo memberi aba-aba.


Kedua pemuda tersebut kemudian melesat maju dan saling menyerang satu sama lain, suara riuh penonton mulai terdengar saat pertarungan tersebut dimulai, ada yang memulai pertaruhan ada juga yang hanya duduk diam dan menyaksikan pertarungan dengan tenang.


Satu jam berlalu hingga akhirnya peserta nomor dua keluar sebagai pemenang dengan bersusah payah, pertarungan kembali di lanjutkan dengan peserta nomor tiga dan empat, begitu seterusnya.


Hingga tiba giliran Felix yang di panggil, namun ketika peserta lain mengetahui bahwa yang akan dia lawan adalah Felix diapun mengundurkan diri, begitu juga dengan Evan, lawan mereka berdua lebih memilih untuk mundur dari pada berhadapan dengan kedua orang tersebut.


Mereka semua tau bagaimana cerita yang tersebar tentang kedua bersaudara tersebut, ditambah aura yang sangat kuat yang terpancar dari tubuh mereka sehingga membuat para peserta lain akan berfikir dua kali sebelum menghadapi kedua bersaudara itu.


Akhirnya setelah lama menunggu kini tiba giliran Leon yang bertarung, entah kenapa dia merasa sedikit malas menghadapi pemuda tersebut, dan dengan sangat terpaksa dia berjalan memasuki arena pertarungan.


"Hahaha kenapa pemuda bertopeng itu, dia terlihat sangat lesu..."


"Aku yakin dia akan kalah dengan satu serangan"

__ADS_1


"Hey mau bertaruh?"


"Ya aku akan bertaruh 100 koin emas untuk kekalahan pemuda bertopeng tersebut"


Para penonton yang mulai melakukan pertaruhan mereka semua bertaruh untuk kekalahan Leon, bahkan ada yang mempertaruhkan semua uangnya untuk kekalahan Leon.


Namun di kursi kehormatan, Xin, Asta dan Guts merasa ada sesuatu yang aneh, karena mereka bertiga sama sekali tidak merasakan adanya energi serta aura dalam diri pemuda tersebut.


"Kenapa energi dalam dirinya tidak ada sama sekali" gumam Xin.


"Xin lihat di jarinya" ujar Guts.


Mereka bertiga lansung melebarkan matanya ketika melihat ada sesuatu yang bersinar di jari kanan pemuda tersebut ketika terkena sinar matahari.


"Itu adalah cincin semesta, berarti dia adalah raja muda" kata Asta pelan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Guts.


"Untuk sekarang kita lihat saja dulu, setelah pertarungan ini selesai kita hampiri dia" kata Xin.


Di arena pertarungan, yang menjadi musuh Leon menjadi sangat marah dan kesal ketika melihat Leon yang nampak lesu dan tidak bersemangat.


"Sial, lihat saja akan aku habisi kau dengan cepat" gumamnya.


"Pertarungan dimulai" kata Hugo memberi aba-aba.


Pemuda tersebut menarik pedang yang ada di pinggangnya dan lansung melesat dengan cepat kearah Leon, hanya dalam hitungan detik saja dia sudah ada di depan Leon dan lansung menebaskan pedangnya.


Namun dia sangat terkejut ketika pedangnya hanya menebas udara kosong dan Leon hilang dari pandangan, dalam sekejap mata Leon muncul di belakang pemuda tersebut dan lansung menendangnya hingga pemuda tersebut terpental keluar arena.


"Apa aku sudah menang?!" tanya Leon.

__ADS_1


"Y-ya, ka-kau menang" kata Hugo


Semua orang yang ada di sana merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat, bagaimana mungkin Leon tiba-tiba hilang dan muncul dalam sekejap di belakang lawannya, semuanya tidak ada yang tau kecuali Xin, Asta, dan Guts.


Felix dan Evan juga sangat tercengang menyaksikan bagaimana Leon dengan mudahnya mengirim lawannya keluar arena bahkan bisa di bilang dia tidak menggunakan tenaganya.


"Kakak, sepertinya dugaanmu benar dia bukan orang biasa" kata Evan pelan


"Kau benar Evan, padahal aku masih tidak bisa merasakan adanya energi dalam dirinya tapi dia bisa menghindar dengan cepat, bahkan aku yakin guru saja tidak secepat itu" jawab Felix.


"Berarti dia akan menjadi lawan yang sulit" gumam Evan.


Di tempat duduk khusus penguasa kota, Xin Asta dan Guts yang mengetahui skill apa yang di gunakan Leon tidak bisa untuk menyembunyikan keterkejutan mereka, disaat yang bersamaan mereka terlihat sangat senang karena orang yang mereka cari sudah datang.


"A-aku tidak salah lihat kan?" ujar Asta.


"Tidak Asta yang kau lihat adalah kebenarannya, itu adalah skill yang bisa mengatur dimensi ruang dan waktu 'Great Teleportation' tingkat akhir" kata Xin.


"Jika demikian berarti benar, dia adalah raja muda" ucap Guts.


"Ada apa tuan Xin, kenapa kalian bertiga terlihat sangat bersemangat?" tanya Duke Anderson.


"Tidak apa-apa tuan Anderson, orang yang kami cari sudah ketemu" jawab Xin santai.


Duke Anderson kemudian melihat ke arah arena dan mengalihkan pandangannya kepada Leon, dia tersenyum sinis dan dalam pikirannya terlintas sesuatu yang buruk.


"jika aku menangkap pemuda tersebut dan menyerahkannya pada tuan Xin, aku sangat yakin kalau aku akan mendapat hadiah darinya" kata Duke Anderson dalam hati.


"Permisi tuan-tuan sekalian aku harus pergi sebentar" kata Duke Anderson kemudian lansung meninggalkan tempat duduk tersebut.


"Pemimpin ada apa?" tanya tetua pertama bingung saat Duke Anderson menghampirinya.

__ADS_1


"Paman, saat istirahat nanti bawa pasukan kita dan tangkap pemuda bertopeng itu, dia adalah orang yang di cari oleh tuan Xin" kata Duke Anderson pelan.


"Hahahaha baiklah, aku mengerti maksud pemimpin, kalau begitu aku pergi dulu" kata tetua pertama kemudian pergi meninggalkan arena pertarungan.


__ADS_2