
Leon, Xin, Asta dan Guts melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah utara, entah kenapa Leon sangat tertarik ingin menuju ke utara dan entah kenapa Leon seperti merasakan ada sesuatu yang besar sedang menunggunya di sana.
Dua hari perjalanan mereka lakukan tanpa henti melewati hutan belantara hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kota yang sangat besar, mereka berempat memutuskan untuk singgah di kota tersebut yang bernama kota Beanotown.
Terlihat antrian panjang di depan gerbang masuk kota, rata-rata yang mengantri adalah pengelana yang ingin singgah dan juga para pedagang yang ingin menjual dagangan mereka, Leon dan yang lainnya juga ikut mengantri walaupun sebenarnya mereka bisa lansung masuk namun mereka tidak ingin membuat masalah selama di sana.
Setelah melewati antrian yang sangat panjang dan juga lama akhirnya mereka berempat bisa masuk ke kota Beanotown dengan membayar dua keping emas untuk mereka berempat, sesampainya di dalam kota mereka lansung menuju ke sebuah kedai yang tidak jauh dari gerbang.
"Selamat datang tuan, anda ingin pesan apa?" tanya pelayan ramah.
"Berikan kami arak terbaik di kedai ini" kata Leon sambil menyerahkan dua keping emas.
"Tu-tuan ini..."
"Ambilkan saja yang aku minta, dan selebihnya terserah kau saja" kata Leon kemudian lansung menuju ke sebuah meja kosong di sudut ruangan.
"Raja muda apa yang akan kita lakukan selanjutnya, dan kemana tujuan kita?" tanya Xin.
"Pertama jangan pernah panggil aku dengan sebutan raja muda lagi, dan untuk tujuan kita aku juga tidak tau" ucap Leon.
"Ba-baiklah ra.. tuan muda" ujar Xin.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang dengan membawa beberapa botol arak dan meletakkannya di meja mereka, setelah itu pelayan tersebut lansung pergi karena tidak ingin mengganggu suasana.
"Heh,.. dasar kakek sialan gara-gara dia aku jadi menyukai minuman ini" kata Leon kesal.
"Tu-tuan muda, apakah tidak apa-apa jika anda memanggil raja semesta dengan tidak sopan?" tanya Asta.
"Hahahaha memangnya kenapa?, apa kalian tau dia adalah orang kedua di dunia ini yang sangat peduli dan menyayangiku, karena itulah meskipun kata-kataku kadang kurang sopan tapi aku juga sangat menyayangi kakek" ucap Leon dengan nada sedih.
"Ma-maaf jika saya lancang tuan muda, tapi apa maksudnya?" tanya Guts.
"Dulu aku hanyalah sampah tidak berguna yang bisa dibuang kapan saja oleh orang lain, dan hanya mendiang ibuku yang sangat menyayangiku, namun takdir berkata lain satu-satunya orang yang menyayangiku di dunia ini malah pergi meninggalkan aku, sejak saat itu tidak ada lagi yang peduli padaku hingga aku bertemu kakek, dan sekarang kakek adalah orang yang sangat penting bagiku" ucap Leon kemudian meminum araknya.
__ADS_1
Tanpa ia sadari air matanya menetes pelan ketika ia mengingat sosok ibu yang sangat menyayanginya dan sekarang sosok tersebut telah tiada, Xin, Asta, dan Guts hanya bisa mematung ketika mendengar cerita Leon mereka tidak menyangka bahwa kehidupan seorang calon calon raja semesta akan sangat menyedihkan.
"Maaf karena telah menyinggung perasaan tuan muda" ucap Xin.
"Hahaha sudahlah jangan di pikirkan, mari kita minum bersama-sama" kata Leon sambil menghapus air matanya.
Beberapa menit kemudian datang beberapa orang dengan pakaian yang sangat bagus, mereka lansung duduk di salah satu meja yang tidak jauh dengan meja Leon dan pengawalnya.
"Pelayan, siapkan makanan dan minuman terbaik di kedai ini" kata salah satu dari mereka dengan kasar.
"Ba-baik tuan, mohon bersabar" jawab pelayan tersebut.
Pelayan tersebut lansung pergi dengan cepat untuk mengambilkan makanan, dan beberapa menit kemudian pelayan tersebut datang lagi dengan membawakan beberapa piring makanan dan minuman untuk orang-orang itu.
"Si-silahkan tuan" kata pelayan tersebut.
"Sialan, makanan apa ini kenapa rasanya tidak enak, apa kau ingin meracuni putra bangsawan penguasa kota" kata orang itu marah.
"A-ampun tuan, maafkan saya" ucap pelayan tersebut memohon.
"Rasakan itu, kau sudah berani kurang ajar dengan tuan muda" kata orang tersebut.
"Jangan karena tidak bisa bayar pelayan yang kalian salahkan" ujar Leon sambil minum.
"Hey siapa kau, berani sekali ikut campur!!, apa kau tau dia adalah putra penguasa kota tuan muda Ronald ka..."
"Aku tidak peduli siapa dia, yang jelas jika dia tuan muda itu artinya kau hanya pelayan, dan sesama pelayan kenapa sikapmu berani sekali" kata Leon memotong ucapan pemuda tersebut.
"Sialan kau, akan ak..."
"Prakk!!" pemuda tersebut terjatuh setelah di tampar oleh Leon yang tiba-tiba muncul di dekatnya.
"Belajarlah untuk bersikap sopan, dan kau tuan muda ajari pelayanmu bagaimana seharusnya untuk bertindak" kata Leon sinis.
__ADS_1
Leon kemudian membantu pelayan kedai itu berdiri dan membawanya menjauh dari meja orang-orang tersebut.
"Te-terimakasih tuan anda sudah menyelamatkan saya, tapi anda harus segera pergi tuan" ucap pelayan tersebut.
"Kenapa aku harus pergi, apa dia orang yang berbahaya?" tanya Leon.
"Benar tuan, dia orang yang berbahaya" jawab pelayan itu.
"Hahahaha biarkan saja, terimakasih sudah mengingatkanku" kata Leon kemudian kembali menuju mejanya.
Tuan muda yang bernama Roland tersebut lansung pergi meninggalkan kedai, dia merasa telah dipermalukan oleh Leon dan meskipun dia tidak bicara namun dalam hatinya dia menyimpan dendam pada Leon.
"Tunggu saja kau!" kata Roland dalam hatinya.
Tak lama setelah kepergian anak bangsawan tersebut, Leon dan yang lainnya juga memutuskan untuk pergi dari kedai tersebut dan mencari penginapan, setelah satu jam berjalan kaki akhirnya mereka menemukan sebuah penginapan yang bernama 'Penginapan Bulan Sabit' dan mereka berempat lansung memesan kamar di penginapan itu.
**
Di kediaman penguasa kota Roland dam beberapa bawahannya kembali dengan raut wajah yang tidak enak untuk di pandang, sehingga membuat Duke Andrew yang merupakan penguasa kota sekaligus ayahnya merasa heran dengan sikap anaknya itu.
"Roland ada apa?" tanya Duke Andrew.
"Ayah aku ingin kau menangkap seseorang, dia telah menyinggungku dan mempermalukan aku" kata Roland.
"Apa!!!, siapa dia berani sekali dia membuat masalah di kotaku, terlebih dengan putraku sendiri" kata Duke Andrew marah.
"Aku juga tidak tau siapa dia ayah, dan sepertinya dia pendatang baru di kota kita" ucap Roland.
"Dimana terakhir kali kau bertemu dengannya?" tanya Duke Andrew.
"Di kedai dekat gerbang kota ayah, terakhir kali dia ada di sana" jawab Roland.
"Ryo bawa para prajurit dan cari orang sialan itu" kata Duke Andrew memberi perintah.
__ADS_1
"Baik pemimpin" jawab Ryo.
Dengan di pimpin oleh Ryo yang merupakan kepala pasukan, seratus prajurit tingkat master bergerak menuju ke arah gerbang untuk mencari keberadaan orang yang telah menyinggung anak dari tuan kota.