
Setelah menghilang dari pelelangan merak emas Leon kembali muncul di dalam kamarnya.
"Hah... hari yang melelahkan" gumam Leon.
"Liona kelebihan apa lagi yang di miliki oleh Sword of Darkness?" tanya Leon.
"Sword of Darkness sebenarnya akan sangat kuat jika pengguna dapat menguasai kekuatan kegelapan, Lalu Sword of Darkness juga memiliki kekuatan penghisap yang kuat, selain itu Sword of Darkness juga merupakan senjata dengan tingkat tinggi di dunia manusia jadi itu sudah merupakan senjata yang kuat. Namun jika berhadapan dengan senjata spiritual atau Soul Weapon senjata biasa tentu akan kalah tuan" jawab Liona menjelaskan.
"Berarti senjata ini hanya kuat jika digunakan dengan kekuatan kegelapan ya" gumam Leon.
"Benar sekali tuan" ujar Liona.
"Liona sebenarnya di dunia ini ada berapa tingkatan kekuatan?" tanya Leon penasaran.
"Sebenarnya kekuatan sama sekali tidak terbatas tuan, hanya saja karena level tingkatan yang berbeda sehingga membuat level kekuatan menjadi tiga kelompok, pertama level kekuatan dunia manusia tuan sudah tentu tau hal ini, dan yang kedua Level kekuatan khusus yang terbagi menjadi delapan tingkatan yaitu (1.Saint, 2.Expert, 3.Mortal, 4.Immortal, 5.Dewa, 6.Dewa Laut, 7.Dewa Bumi, 8.Dewa Langit), kedelapan tingkatan ini di bagi menjadi empat Level yaitu Awal, Menengah, Akhir, dan Puncak. Lalu yang terakhir adalah level kekuatan tingkat dewa.."
"Tunggu bukankah di tingkatan khusus sudah ada dewa?" tanya Leon memotong penjelasan Liona.
"Tidak tuan, meskipun tingkatan mereka disebut dewa namun mereka bukanlah dewa yang sebenarnya. Tingkatan dewa yang sebenarnya hanya ada tujuh tingkatan yaitu (1.True God, 2.Dewa Petarung, 3.Jendral Dewa, 4.Raja Dewa, 5.Kaisar Dewa, 6.Sky Lord, 7.Semesta) semua tingkatan ini memiliki sepuluh bintang sebelum naik ke tingkatan selanjutnya, kecuali untuk tahap Semesta yang sama sekali tidak terbatas" jawab Liona.
Leon hanya bisa tersenyum masam mendengar penjelasan Liona, dia tidak menyangka bahwa kekuatannya hanyalah secuil jika dibandingkan dengan kekuatan yang sebenarnya.
"Perjalananku ternyata masih sangat panjang" gumam Leon pelan.
"Tok... tok... tok.. permisi tuan"
Suara ketukan pintu membangunkan Leon dari lamunannya, Leon kemudian bergegas membuka pintu kamarnya dan menemukan seorang pelayan yang berdiri di depan kamarnya.
"Ada apa?" tanya Leon
"Begini tuan, Duke Andrew mengajak tuan untuk makan bersama" kata pelayan tersebut.
"Apa tuan Andrew sudah kembali dari pelelangan?" tanya Leon.
"Sudah tuan, sekarang dia menunggu tuan di meja makan"
"Baiklah mari kita ke sana" ajak Leon.
__ADS_1
Leon dan pelayan tersebut segera menuju ke sebuah ruangan yang sangat besar, Leon bisa melihat sebuah meja yang sangat besar dan juga panjang di tengah-tengah ruangan besar itu dengan berbagai macam makanan di atasnya.
"Ruang makan ini sangat mewah" gumam Leon.
"Selamat datang tuan Leon, kami sudah lama menunggumu" ujar Duke Andrew.
"Begitu ya, maaf sudah membuat kalian menunggu" jawab Leon kemudian duduk di tempatnya.
"Tuan Leon, kenapa anda tidak ikut pelelangan tadi?" tanya Duke Andrew.
"Hahaha tidak apa-apa tuan Andrew aku hanya kurang menyukai keramaian saja" jawab Leon santai.
"Begitu ya, maaf tuan Leon aku tidak tau bahwa anda tidak menyukai keramaian" ucap Duke Andrew.
"Tidak apa-apa tuan Andrew jangan minta maaf padaku, itu membuatku merasa tidak nyaman" jawab Leon ramah.
"Kalau begitu mari kita nikmati makanannya" ujar Duke Andrew.
Mereka semua kemudian memakan makanan yang sudah di sediakan oleh para pelayan mansion, sesekali mereka saling bercerita selama menikmati makanan sehingga terkadang terdengar suara gelak tawa dari ruang makan yang sangat besar tersebut.
"Sepertinya di sini sudah cukup jauh" gumam Leon.
Leon kemudian mengeluarkan Sword of Darkness dari dalam cincin semesta, dia memandangi pedang hitam legam itu sebentar, setelah itu Leon kemudian lansung memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menguji kekuatan pedang tersebut. Namun saat dia ingin mengayunkan pedang hitam itu sebuah suara tiba-tiba memasuki pikiran Leon.
"Berani sekali kau menggunakan senjata murahan itu di hadapanku.."
Leon tersentak kaget dan tiba-tiba dia merasakan tekanan yang sangat kuat dari dalam dirinya, tidak tepatnya dari dalam cincin semesta, tubuhnya bergetar karena mencoba untuk melawan tekanan tersebut
"Si-siapa kau.." kata Leon.
"Apa kau masih belum menyadari keberadaan ku?" tanya suara aneh itu.
Leon berfikir sejenak dan mencoba untuk mengingat dimana dan kapan ia pernah mendengar suara tersebut, namun seberapa keras pun ia mencoba untuk mengingat suara itu tetap saja Leon tidak bisa mengingat dimana dan kapan pernah mendengar suara tersebut.
"A-aku tidak ingat kau siapa" jawab Leon.
"Dasar bodoh, jadi kau anggap aku apa selama ini?" suara aneh tersebut terdengar marah.
__ADS_1
"Ma-maaf sebelumnya tapi aku benar-benar tidak ingat" kata Leon.
"Sekarang masukkan kesadaran mu kedalam cincin semesta maka kau akan melihatku di sana" kata suara itu menjelaskan.
"Jangan-jangan kau.."
"Benar itu aku" katanya memotong ucapan Leon.
Leon segera naik ke atas sebuah pohon besar kemudian duduk di dahannya setelah itu ia melihat kedalam cincin semesta melalui jiwanya dan benar saja ia menemukan pedang semesta sedang bergetar dan melayang di tengah-tengah ruangan tersebut.
"Ja-jadi kau bisa bicara?" tanya Leon.
"Sebenarnya bukan pedang ini yang bicara tapi aku". Tiba-tiba di depan muncul seorang pria dengan armor lengkap di tubuhnya yang berwarna putih.
Aura yang sangat kuat bisa Leon rasakan dari pria tersebut bahkan hampir menyamai aura kakeknya yang merupakan raja semesta, tubuh Leon kembali bergidik ketakutan ketika memandang mata pria itu yang berwarna hitam legam dengan bintik-bintik cahaya kecil di dalam matanya seakan-akan malam penuh bintang ada di dalam bola mata pria itu.
"Maaf aku baru menunjukkan diriku padamu sekarang, sebenarnya sudah sejak awal aku ingin menemuimu hanya saja aku masih ingin melihat kemampuan penerus ku" kata pria tersebut.
"Pe-penerus?, maksudmu?" tanya Leon bingung.
"Benar kau adalah penerusku yang sah, aku adalah jiwa dari pedang semesta yang merupakan Soul Weapon terkuat di alam semesta, dan hanya penerusku yang berhak memiliki pedang semesta" kata pria itu menjelaskan.
"Jadi sebelumnya kau adalah pedang yang kakek gunakan?" tanya Leon.
"Hahahaha Oliver tidak menggunakan pedang semesta nak, dia hanya membuat pedang semesta dengan kekuatan bintang dan karena permintaannya pula aku menyatu dengan pedang semesta" jawab pria itu.
"Lalu sebenarnya kau ini siapa, dan mengapa kau mau menyatukan dirimu dengan pedang semesta?" tanya Leon semakin penasaran.
"Hahahaha pertanyaanmu itu akan terjawab dengan sendirinya suatu hari nanti, atau kau bisa menanyakannya pada sesuatu yang ada di dalam dirimu" kata pria itu.
"Ma-maksud mu..?"
"Hahaha tidak ada yang bisa di sembunyikan dari diriku nak, sekarang teteskan darahmu pada pedang itu lalu kau masukkan sedikit energi kehidupan kedalamnya" kata pria itu.
Leon tidak bertanya lagi dia kemudian melakukan apa yang di perintahkan oleh pria tersebut, setelah meneteskan darahnya pada pedang semesta Leon kemudian mentransfer energi kehidupannya kedalam pedang semesta.
Pedang tersebut bergetar kencang lalu setelah itu berubah menjadi cahaya emas dan masuk kedalam diri Leon bersama dengan pria misterius yang menjadi jiwa pedang semesta.
__ADS_1