
Keesokan harinya seperti biasa Felix dan Evan selalu berlatih di halaman mansion, namun kali ini mereka sengaja mengeraskan suara mereka agar bisa terdengar oleh ketiga orang tersebut.
Sementara itu Duke Anderson dan tetua pertama yaitu pamannya sendiri sedang mengawasi latihan mereka berdua, tak lama kemudian Xin muncul dan melayang di atas mereka hingga membuat kedua bersaudara tersebut menghentikan latihannya dan memberikan hormat.
"Jika latihan kalian seperti itu, meskipun dalam waktu ratusan tahun kalian tidak akan ada peningkatan" kata Xin.
"Bagus, ternyata dia mulai tertarik dengan kedua putraku" Duke Anderson membatin.
"Tuan Xin, jika anda berkenan mohon berikan sedikit petunjuk pada kedua putraku" ujar Duke Anderson.
"Bahkan dia tidak malu untuk meminta secara lansung" Xin membatin.
"Baiklah aku akan dengan senang hati memberikan mereka sedikit petunjuk, anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena telah di perbolehkan untuk tinggal di sini" kata Xin.
"Terimakasih banyak tuan Xin,.. Felix, Evan cepat berlutut dan beri hormat pada tuan Xin dan panggil dia Guru" kata Duke Anderson.
Kedua bersaudara tersebut lansung berlutut dan memberi hormat pada Xin
"Hormat pada guru" ucap mereka berdua serempak.
"Aku terima hormat kalian" jawab Xin kemudian turun di depan mereka berdua.
"Kalian lumayan berbakat karena masih muda tapi sudah sampai di tingkat petarung Elit namun bagiku itu sama seperti seekor siput yang bergerak sangat lambat, apa kalian paham maksudku?" tanya Xin.
"Paham guru" jawab mereka berdua serempak.
"Bagus kalau kalian berdua paham, sekarang kalian akan menjalani latihan yang sangat keras, jika kalian tidak sanggup maka jangan pernah bermimpi untuk menganggap ku sebagai guru" kata Xin tegas.
"Baik guru kami siap" jawab mereka berdua serempak.
"Baguslah, sekarang aku ingin kalian berlari mengelilingi mansion ini sepuluh kali" kata Xin.
"Hahaha baik guru itu mudah saja!" ujar Evan.
__ADS_1
"Oh benarkah, kalau begitu pakai ini di kaki kalian" kata Xin sambil menyerahkan dua buah gelang giok.
Mereka berdua kemudian mengambil gelang giok tersebut dan lansung mengenakkan gelang tersebut di kakinya, awalnya biasa-biasa saja namun saat mereka bersiap untuk berlari tekanan yang sangat kuat tiba-tiba saja menahan langkah mereka.
"Kenapa belum bergerak juga, bukankah kau sebut ini sangat mudah" kata Xin.
"Gu-guru se-sebenarnya gelang apa ini, ke-kenapa rasanya sangat berat" kata Felix
Duke Anderson dan yang lainnya terkejut mendengar ucapan anaknya, padahal jika di lihat itu hanyalah gelang giok biasa.
"Tuan Xin, sebenarnya itu gelang apa?" tanya Duke Anderson.
"Itu hanya gelang giok biasa, hanya saja aku tambahkan sedikit kekuatan di dalamnya karena itulah gelang tersebut terasa berat, tapi aku sudah menyesuaikannya dengan tingkatan kalian, jika itu saja tidak bisa bagaimana mau menjadi muridku" jawab Xin santai.
"Felix, Evan bertahanlah dan jangan membuat guru kalian kecewa" kata Duke Anderson memberikan semangat.
"Ba-baik ayah, hanya saja ini sangat berat, rasanya seperti membawa sebuah batu raksasa" kata Felix.
"Sudah cukup bicaranya, dan mulailah mengelilingi mansion ini" kata Xin.
Perlahan-lahan mereka mulai menggerakkan kaki mencoba untuk berlari, tapi jangankan untuk berlari bahkan untuk melangkah saja mereka sangat sulit, baru saja setengah langkah mereka maju keringat sudah membasahi tubuh mereka, nafas mereka mulai terengah-engah dan tenaga mereka sudah banyak terkuras.
Duke Anderson menjadi sangat khawatir dengan keadaan kedua putranya namun dia tidak bisa melakukan apa-apa karena ini adalah perintah guru anaknya, selain itu jika ia membantu maka sama saja dengan ia menentang perintah guru anaknya.
"Tuan Anderson, jika kau ingin membantu kau bisa memberikan mereka minum, dan meminta pelayan untuk mengelap keringat mereka" kata Xin.
Setelah mendengar ucapan Xin, Duke Arton lansung berlari kedalam mansion dan beberapa saat kemudian dia kembali lagi dengan dua gelas air di tangannya, dia lansung mendekati kedua putranya dan memberikan mereka minum.
"Terimakasih ayah" ucap mereka berdua.
"Jangan menyerah nak, guru kalian telah berbaik hati jadi jangan membuatnya kecewa, jika kalian haus katakan saja maka ayah akan memberikan kalian minum" kata Duke Anderson.
"Baik ayah, kami tidak akan menyerah" kata mereka berdua.
__ADS_1
Sementara itu dari atas awan Asta dan Guts tengah menyaksikan Xin menyiksa kedua anak Duke Anderson tersebut, mereka berdua bahkan tertawa terbahak-bahak jika saja mereka tidak menggunakan formasi pelindung sudah pasti tawa mereka akan terdengar di seluruh kota.
"Hahaha Xin memang sangat suka menyiksa orang" ucap Guts.
"Kau benar Guts, aku bahkan tidak tega melihat kedua bocah itu di siksa olehnya, tapi sepertinya mereka benar-benar ingin menjadi muridnya" ujar Asta.
"Terserah saja, yang penting kita berdua bisa fokus mencari keberadaan raja muda, dan untuk mereka biarkan Xin saja yang mengurusnya" kata Guts.
"Kalau begitu mari kita pergi" ucap Asta.
Mereka berdua kemudian melesat terbang dengan cepat sambil terus mencari keberadaan raja muda dengan menggunakan energi spiritual mereka.
***
Sementara itu di dalam ruang hampa Leon dan raja semesta juga sedang berlatih, ledakan serta dentingan suara pedang yang beradu terdengar di mana-mana, namun mereka berdua sama sekali tidak terlihat karena mereka sama-sama menggunakan skill teleportasi untuk saling menyerang, sehingga hanya efek dari benturan serangan mereka saja yang terdengar.
"BOOOOMMMM!!" Leon terpental beberapa meter ke belakang akibat dari serangan raja semesta.
"Pukulanmu sangat keras kakek" kata Leon.
"Hahaha kalau begitu cobalah untuk menghindarinya" ucap raja semesta yang tiba-tiba muncul di belakang Leon.
Dengan gerakan yang sangat cepat Leon mengayunkan pedangnya kearah belakang namun dia hanya menebas udara kosong saja, karena raja semesta telah menghilang.
Leon kemudian ikut menghilang dan sekali lagi dentuman dan ledakan yang sangat keras terdengar di seluruh ruang hampa, meskipun ini hanya latihan namun raja semesta menyerang Leon dengan sangat serius, begitu juga dengan Leon dia juga menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghadapi raja semesta.
Pertarungan mereka berdua mengguncang ruang hampa, bahkan sampai mengguncang gunung Nord, karena memang ruang hampa tersebut berada di dalam gunung Nord.
Guncangan keras serta energi yang bertabrakan yang berasal dari gunung Nord dapat dirasakan oleh Guts dan Asta yang sedang mencari keberadaan raja muda, karena rasa penasaran mereka berdua kemudian mencoba mendekati gunung tersebut, namun ketika mereka sudah dekat tiba-tiba saja sebuah kekuatan yang sangat besar menekan mereka dan memaksa mereka untuk turun dan berlutut.
"E-energi ini, tidak salah lagi ini adalah energi dari raja semesta" kata Asta.
"Kau benar Asta, tidak salah lagi ini adalah energi milik raja semesta karena hanya dia yang mampu menekan seseorang dan memaksa orang lain untuk berlutut hanya dengan merasakan energinya saja" ucap Guts.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mari kita kembali dan memberitahukan hal ini pada Xin, sekarang kita hanya perlu menunggu raja muda untuk keluar dari gunung ini" kata Asta kemudian mereka berdua menghilang dalam sekejap.