Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
10


__ADS_3

Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, untuk melupakan segala hal yang telah terlewati di tempat yang lama. Terlebih rasa sakit hati yang Aira rasakan. Tapi Aira bersyukur karena Tuhan masih menyisakan teman-teman yang peduli padanya. Dan membuat kedua orang tuanya berangsur menepis pikiran negatif tentangnya dan juga teman-temannya yang saat ini masih setia menggenggam tangannya.


"Jika seseorang berlaku baik pada kita, selayaknya kita membalasnya dengan seribu kali kebaikan. Dan jika mereka jahat, tidak perlu membuang waktu dan menyia-yiakan tenaga kita untuk memikirkan balasan atas perbuatan mereka. Karena sebaik-baiknya balasan adalah yang langsung diturunkan oleh Allah." begitu pitutur ayah Aira.


"Iya, ayah." balas Aira.


"Sebaiknya kamu tidur, ini sudah larut. Besok kita lanjutkan lagi beres-beresnya." kata ayah.


"Ayah dan ibu segera istirahat juga ya." ujar Aira sebelum masuk ke kamarnya.


"Iya, nak. Kamu pergi saja duluan." balas ibunya.


Karena mereka berada di dapur, Aira harus melewati halaman dulu untuk sampai ke bangunan utama di mana kamarnya berada.


Sampai di kamar Aira segera menutup pintu dan jendelanya. Kemudian menarik selimut dan meringkuk di atas kasurnya. Dia merasa lebih nyaman tidur di kontrakan barunya. Lebih hangat dibanding kontrakan sebelumnya, karena dikelilingi dinding yang rapat. Ditambah letaknya yang jauh dari jalan raya, membuat suasana lebih tenang. Jauh dari suara kendaraan bermotor yang berlalu-lalang.


Ddrrrtt... Ddrrrtt...


Aira membuka selimutnya, kemudian meraih handphone yang ada di atas meja.


Aditya :


Sedang apa?


Aira :


Baru selesai beberes.


Aditya :


Masih banyak yang perlu dibereskan? Besok biar aku ke sana.


Aira :


Tidak perlu, Dit. Sudah kok. Terimakasih.


Aditya :


Benar???


Aira :


Iya


Aditya :


Ya sudah, sekarang kamu tidur sudah malam.


Aira :


Ok


Aira masih menunggu balasan dari Aditya, sayangnya Aditya tidak membalas pesan terakhirnya. Akhirnya Aira meletakkan handphone itu kembali.


Aira teringat sesuatu. Ada pesan dari Ryan yang hanya dia baca sekilas, tapi belum sempat dibalas.


Aira :


Maaf, tadi lagi repot beberes.


Tidak ada balasan dari Ryan, tapi beberapa saat kemudian Ryan meneleponnya.


"Belum tidur kan?"


"Belum sih."


"Habis chatan sama Adit kan?"


Aira terdiam. Firasatnya mengatakan kalau saat ini mereka sedang bersama.


"Aku iri lho sama Adit."


"Kenapa gitu?"


"Sepertinya Adit menjadi prioritas kamu."


"Kalau ngomong suka ngaco."


"Mana ada, memang faktanya begitu. Aku lebih dulu ngechat kamu, tapi kamu lebih memilih balas chatnya Adit."


Ada sedikit rasa yang aneh, ketika mendengar ucapan Ryan.


"Tidak gitu..., aku tadi..."


"Sudahlah, tidak apa juga. Oh, ya, kapan mulai kerja? Biar aku bisa jemput kamu."


"Sabtu depan. Yakin mau jemput aku?"


Aira tidak ragu untuk menyunggingkan senyuman, dia merasa sangat senang. Terlebih lagi Ryan tidak akan mengetahuinya.


"Tentu asal kamu mengizinkan."


"Aku akan bilang sama ayah dan ibuku dulu. Besok aku kabari lagi."

__ADS_1


"Tidak bisa sekarang saja?"


"Sudah malam Ryan, orang tuaku sedang istirahat."


"Baiklah. Segera kabari aku besok!"


"Iyaaa...!!!"


"Ya sudah, kamu tidur sekarang. Mimpiin aku ya."


"Ogah!" Aira berusaha menahan tawanya.


"Kalau begitu aku yang akan datang sendiri dalam mimpimu."


"Kalau begitu aku tidak akan tidur."


"Airaaaa...!!!"


"Malam Ryan. Byeee...!!!"


Aira memutus sambungan telepon secara sepihak. Dia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ryan atas perbuatannya itu.


......................


Sesuai janjinya, Ryan datang menjemput Aira. Kebetulan mereka satu shift, meski bekerja di tempat yang berbeda tapi tempat keduanya bekerja masih dalam naungan perusahaan yang sama.


"Kerja, Aira?" sapa seorang bapak yang merupakan tetangga depan kontrakan Aira.


"Iya, pak. Mari..." balas Aira sambil sedikit mengangguk dengan sopan.


Bapak itu mengangguk untuk membalas Aira, dengan senyuman dan tatapan mata yang sedikit aneh.


"Tetanggamu itu sering ke rumah?" tanya Ryan saat mereka dalam perjalanan.


"Tidak. Dia hanya datang waktu syukuran kemarin." balas Aira yang duduk di belakang Ryan.


"Hati-hati ya, jangan lupa kunci pintu. Apalagi kalau orang tuamu sedang jualan." ujar Ryan. "Kita sekarang berjauhan, aku tidak bisa terus jagain kamu."


Aira tersenyum saat Ryan menatapnya dari spion motornya.


"Terimakasih..." kata Aira kemudian.


Tak terasa mereka sudah sampai di tempat kerja. Ryan membantu Aira melepas pengkait helmnya.


"Nanti kabari aku kalau sudah istirahat, kita bisa makan siang bersama." ujar Ryan.


"Hem." Aira mengangguk.


"Semangat...!" balas Aira.


Ini kali pertamanya Aira bekerja, bertemu, dan berbaur dengan banyak orang. Dan Aira berhasil melalui hari pertamanya dengan baik. Dia cepat sekali belajar, hasil duplikasi yang dia lakukan tidak mengecewakan. Begitulah penilaian seniornya.


"Aira, istirahat dulu!" ujar Mulan. "Biar aku yang gantiin."


"Iya, kak." balas Aira pada Mulan yang baru selesai istirahat.


Di komplek itu ada satu area yang digunakan sebagai tempat istirahat. Ada mushola dan beberapa gazebo di sana.


"Ra...!!!" Ryan memanggil Aira sambil mengangkat tangannya.


"Pacar kamu sudah menunggu itu..." goda Via yang mendapat giliran istirahat bersama Aira.


"Bukan..." balas Aira. "Ada kak Yeni lagi, nggak enak deh aku, Vi..." ujar Aira.


"Tidak apa-apa. Kak Yeni itu asik orangnya." kata Via. "Yuukk!"


Via pun menarik tangan Aira menuju gazebo tempat Ryan dan Yeni. Merekapun menikmati makan siang sambil ngobrol santai.


"Bagaimana orang tidak mikir yang iya-iya. Kalau kalian sesweet ini." begitu respon Yeni saat melihat Ryan membuka tutup botol minuman buat Aira.


"Cuma perkara tutup lho, bikin kita iri..." Via menimpali.


"Apa kita cocok?" sahutan Ryan membuat Aira melirik ke arahnya.


"Cocoklah. Kita sepenuhnya mendukung." ujar Via dan Yeni.


"Iihh..." jari mungil Aira tengah mencubit lengan Ryan.


"Aah..., aaah...!!" pekik Ryan, lalu mengusap bekas cubitan Aira.


"Hahahaaa...!!!" Yeni dan Via sontak menertawakan mereka.


Ryan melihat jam tangannya, dia sudah harus kembali bekerja.


"Aku duluan, ya." pamit Ryan pada semuanya.


Tapi dia memberikan perlakuan berbeda pada Aira. Ryan menepuk-nepuk pelan puncak kepala Aira sambil beranjak dari gazebo.


"Pertanda apa ini...??? Ciiieeh...!!!" Yeni menggoda Aira.


"Bukannya dia selalu seperti itu." gerutu Aira.


"Tidak. Hanya sama kamu." balas Via. "Iya kan, kak Yen?" Via menoleh ke ara Yeni.

__ADS_1


"Yups!" Yeni mengiyakan pendapat Via. "Selama aku kerja di sini, aku sering lihat Ryan dekat sama cewek. Tapi tidak pernah memperlakukan mereka seperti yang dia lakukan sama kamu." begitu terang Yeni.


Aira pura-pura tidak peduli, padahal dadanya berdesir ketika mendengar ucapan Yeni barusan.


"Dia memang humble sama semua orang, Ra. Tapi sepertinya kamu terlalu spesial." sahut Via.


"Aku berani taruhan, setelah ada kamu di sini pasti dia akan sering tukar shift sama temannya. Demi bisa berangkat sama kamu." Yeni tersenyum penuh keyakinan.


"Bahkan dia tidak akan keberatan antar jemput kamu di hari liburnya." tambah Via.


"Memang dia sudah mengatakan itu sebelumnya." batin Aira.


"Kebanyakan cowok kalau sudah jatuh cinta akan dengan senang hati melakukan itu." ujar Yeni.


"Aku sudah selesai. Masih mau di sini?" Aira menutup kotak makan siangnya.


Via melihat jam tangannya.


"Ya ampun, kita terlalu asik ngomongin Ryan sampai lupa waktu." gerutu si Via.


"Ya." balas Yeni sambil mengangguk.


"Kak Yeni sih..." gumam Via sambil memakai sepatunya.


"Lha, kok jadi nyalahin aku...??" sahut Yeni tidak terima.


Aira hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan Yeni dan Via yang terus menggerutu.


......................


Motor Ryan sudah terparkir di halaman rumah Aira. Ada ibu Aira di rumah sore itu, jadi Ryan memutuskan untuk mampir sejenak.


"Apa kabar ibunya nak Ryan?" tanya ibu Aira.


"Alhamdulillah baik, bude. Ibu sering menanyakan kabar Aira juga." jawab Ryan.


"Oh ya?" sahut ibu Aira.


"Iya bude. Bima dan teman-temannya juga menanyakan soal Aira. Mereka ingin berkunjung ke sini katanya." kata Ryan lagi.


"Aira, kamu dengar itu?!" seru ibunya.


"Iya, bu. Aku sudah bilang mereka boleh ke sini pas aku libur kerja." balas Aira. "Minum, Yan. Hanya air putih. Maaf ya..." ujar Aira.


"Terimakasih."


"Bude mau angkat jemuran dulu." pamitnya pada Ryan. "Aira, temani nak Ryan." ibu Aira meninggalkan mereka berdua di teras rumah.


"Kapan-kapan main ke rumah ya. Ibu mau ketemu kamu katanya." ujar Ryan setelah menghabiskan setengah gelas air yang disuguhkan.


"Hem." Aira hanya membalas dengan deheman.


"Sepertinya kamu tidak ada niat sekali datang ke rumahku?" cibir Ryan dengan nada bercanda.


Aira tiba-tiba menoleh ke arah pagar, dia merasa ada yang memperhatikan mereka.


"Ada apa?" tanya Ryan.


"Kayak ada yang memperhatikan kita." gumam Aira.


"Setelah aku pergi nanti, kamu langsung kunci pintu ya. Aku sedikit tidak suka dengan om-om depan itu." ujar Ryan.


"Kenapa?" tanya Aira, padahal dia sendiri juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Ryan.


"Aku tidak suka cara dia menatapmu." ekspresi Ryan berubah serius.


"Ya sudah, sekarang kamu pulang. Kasihan ibu pasti capek nungguin kamu." sahut Aira.


"Ngusir aku?!" balas Ryan.


"Enggak, cuma nyuruh pulang." kata Aira.


"Kamu yaaa...!!" Ryan ingin sekali mencubit pipi Aira. "Berhenti bersikap seperti itu Aira. Kamu membuat aku makin gemas tahu...!!" ungkap Ryan.


"Apa iya??" Aira semakin ingin menggoda Ryan.


"Sudahlah, sebaiknya aku pulang..." Ryan pun menyerah dan memutuskan untuk pulang. Sebelum jantungnya berontak karena ulah Aira.


"Hati-hati." pesan Aira.


"Ingat, segera kunci pintu pagarnya. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Atau kalau kamu butuh sesuatu. Jangan pergi sendiri. Oke?!" Ryan pun memberi banyak wejangan pada Aira sebelum menjalankan motornya.


"Siap komandan!" Aira memberi hormat pada Ryan.


"Manis sekali..." Ryan mengacak rambut Aira. "Aku pulang ya, bye...!!"


"Bye..., salam buat ibu ya." kata Aira.


Seperti pesan Ryan, Aira segera mengunci pintu setelah Ryan pergi.


......................


"Dulu Adit juga memperlakukan aku seperti ini, bahkan sampai sekarang masih sama. Tapi rasanya berbeda sekali kalau Ryan yang melakukannya..."

__ADS_1


__ADS_2