
Putri mengajak Aira menonton sepak bola di lapangan. Karena Aditya CS akan melakukan pertandingan, dan pastinya ada Ryan juga. Kebetulan hari itu Aira shift pagi, jadi dia bisa ikut bersama Putri.
Kedatangan Putri dan Aira menjadi sorotan. Apalagi tim lawan baru pertama kali bertemu dengan Aira. Sedangkan pandangan Aira justru tertuju pada Icha yang duduk di samping Rangga, bergelayut manja seolah hanya ada mereka berdua di sana.
"Yuk...!" Putri menarik tangan Aira menuju ke tempat Aditya dan teman-temannya.
"Datang tuh!" Aditya menyenggol bahu Ryan yang duduk di sampingnya.
Ryan menoleh ke arah yang sama dengan Aditya.
"Putri yang jemput?" tanya Ryan.
"Iyalah." balas Aditya.
"Hai semua...!!" sapa Putri.
"Hai...!!" balas sebagian dari mereka, sebagian lagi hanya menjawab dengan lambaian tangan.
"Bukannya tadi kamu bilang tidak bisa datang?" tanya Ryan pada Aira.
"Iya, aku yang memaksanya ikut." sahut Putri.
"Harus dipaksa dulu untuk datang mendukungku, hah...?!" goda Ryan sambil menatap intens si Aira.
"Ayo, semua bersiap!!!" seru wasit dari tengah lapangan.
"Jangan buat kedatanganku ke sini sia-sia ya." celetuk Aira.
Ryan tersenyum penuh arti saat mendengarnya. Lalu dia mengacungkan jempolnya.
Awalnya pertandingan berjalan lancar, dengan skor 2:1 untuk tim Aditya. Tapi di babak selanjutnya situasi jadi memanas.
"Rupanya cewek itu penyemangatmu..." bisik Gio pada Ryan. "Bagaimana kalau kita taruhan, kalau timku menang maka penyemangatmu yang lumayan cantik itu akan jadi milikku." Gio menyeringai. "Seperti waktu itu."
"Tutup mulutmu!" hardik Ryan. "Dia bukan barang taruhan!"
"Aku tidak yakin. Buktinya cewek waktu itu bersedia bersamaku saat melihat kemenanganku." Gio semakin membuat suasana hati Ryan memanas.
Aditya menepuk pundak Ryan.
"Jangan dengarkan dia. Tetap santai dan profesional." ujar Aditya.
Ryan menarik nafas panjang. Lalu menoleh ke arah Aira yang sedang duduk bersama Putri.
"Dia sangat berharga. Bukan barang murahan yang bisa dijadikan taruhan." gumam Ryan dalam hati.
"Semangat...!!!" seru Aira sambil mengangkat tangannya, saat menyadari Ryan melihat ke arahnya.
Ryan mengangguk penuh percaya diri.
"Aku memang belum bisa memilikimu sepenuhnya, Raa. Tapi kehadiranmu sudah memberikan warna yang berbeda dalam hidupku."
Pertandinganpun dimulai. Perebutan bola yang sangat sengit kembali terjadi. Ryan berusaha keras mengabaikan setiap ocehan Gio yang berusaha mengusik konsentrasinya.
"Demi timku dan Aira, aku harus tetap fokus. Ayo Ryan, jangan mengulang kebodohan yang sama!"
Ryan tak henti menyemangati dirinya sendiri. Dia harus belajar untuk tidak peduli dengan omongan orang, apalagi yang bisa merusak pikirannya.
"GOOOLLL...!!!" Semua berseru ketika Ryan berhasil mencetak sebuah gol.
Aira dan Putri terlihat berpelukan di pinggir lapangan hijau itu. Lalu Aira mengacungkan kedua jempolnya pada Ryan.
"Bagus!" ujar teman satu timnya.
Pertandingan pun berakhir dengan skor 3:2 untuk tim Aditya.
"Haaahh...!!!" Ryan merebahkan tubuhnya yang penuh keringat di atas rumput.
Sedangkan Aditya duduk di sebelah Putri. Dan mengambil sebotol air yang dibawa oleh Putri.
"Cepek ya?" ujar Putri.
"Dikit." balas Aditya setelah meneguk air minumnya.
"Nih!" Aira memberikan handuk olahraga pada Ryan.
"Thanks." Ryan menerimanya, kemudian dia bangun dan duduk di samping Aira.
__ADS_1
"Minum." Aira menyodorkan sebotol air.
Gio yang berada di sisi lain lapangan itu tampak kesal melihat Ryan dan Aira. Dia meremas botol air mineralnya hingga tak berbentuk, kemudian melemparnya ke sembarang arah.
......................
"Sibuk sekali rupanya..." ujar seseorang dari belakang.
Aira menoleh ke belakang, lalu sedikit bergeser dari tempat dia berdiri.
"Bisa bantu aku cari parfum terbaik?" katanya lagi.
"Silakan, sebelah sini." Aira mengarahkan orang itu ke counter parfum.
"Kak Mulan, kakak ini minta parfum terbaik koleksi kita." ujar Aira.
"Eh!" orang itu menahan tangan Aira.
"Maaf, tolong lepaskan tangan saya." pinta Aira masih dengan nada sopan, sambil berusaha menarik tangannya. Tapi semakin dia menarik, cengkeraman orang itu semakin kuat.
"Aku maunya kamu yang melayaniku. Bukan orang lain." orang itu menyeringai, membuat Aira ketakutan.
"Bisakah anda bersikap sopan?!" tegur Mulan yang memang senior di sana. "Lepaskan teman saya, atau saya akan melaporkan anda!" ancamnya.
Orang itu menghempaskan tangan Aira. Aira melangkah mendekati Mulan, dan bersembunyi di balik tubuh tinggi si Mulan.
"Begini cara kalian melayani pengunjung?!" balas orang itu.
"Tidak, jika anda bersikap lebih sopan." sahut Mulan. "Kami memang dituntut untuk bersikap sopan saat melayani pengunjung, tapi bukan pengunjung seperti anda yang memperlakukan kami dengan tidak hormat." tandasnya.
"Hah!! Banyak omong." gerutunya.
Orang itu beranjak dari tempatnya, tapi sebelum pergi dia kembali mendekati Aira.
"Namaku Gio, ingat itu. Gio..." bisiknya.
"Gio...?!" Aira merasa tidak asing dengan nama itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mulan sambil melihat tangan Aira. "Aduuh, sampai merah begini. Itu orang apa robot sih..." gerutu Mulan.
"Tidak apa, kak. Nanti juga bekasnya hilang." Aira tersenyum kikuk. Karena dia masih shock dengan kejadian yang baru saja dia alami.
Ryan terus melihat jam tangannya, dia sudah tidak sabar ingin segera menemui Aira. 30 menit untuk kali ini berasa sangat lama bagi Ryan.
Setelah tiba saatnya beristirahat, Ryan segera menemui Aira yang sedang makan bersama Via di gazebo.
"Aira, kamu tidak apa-apa?" tanya Ryan.
"Tidak." balas Aira.
"Aku dengar ada yang menyakitimu." ujarnya.
"Ya, pengunjung tidak punya akhlak." sahut Via.
"Viii...!!" Aira berusaha memperingatkan Via.
"Ya memang kenyataannya begitu kan, Ra. Aku lihat bagaimana dia menarik tangan kamu sampai kamu kesakitan. Dan tatapannya itu menyebalkan sekali." Via terus berceloteh tanpa peduli kode yang diberikan Aira agar dia diam.
"Mana yang sakit?" tanya Ryan sambil memeriksa kedua tangan Aira.
"Sudah nggak sakit..." Aira menarik tangannya dari genggaman Ryan.
"Serius?" Ryan masih tidak percaya.
"Iya." kata Aira.
"Kalian bisa berhenti tidak? Berasa jadi kambing congek aku di sini." sahut Via.
"Baru tahu ada kambing secantik ini." gurau si Aira.
"Lucu..., iya...!" balas Via.
Saat mereka sedang menikmati makan siang. Handphone Ryan bergetar, sebuah pesan masuk dari Gio.
Gio :
Tangan pacarmu lembut dan wangi bro. Parfumnya bahkan masih tertinggal di tanganku. Apa menurutmu aku sangat beruntung???!!!
__ADS_1
Wajah Ryan memerah saat membaca pesan yang diketik oleh Gio. Ternyata orang yang dibicarakan tadi adalah Gio.
"Kurang ajar...!!!" batin Ryan menggeram penuh amarah.
Via mencolek tangan Aira agar melihat perubahan sikap Ryan.
"Aku duluan ya." Via sedikit takut, jadi dia memutuskan untuk pergi.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Aira.
"Kamu masih ingat orang itu?" tanya Ryan.
Aira mengangguk, tanpa perlu dijelaskan lagi Aira tahu siapa orang yang dimaksud oleh Ryan.
"Kalau kamu bertemu orang itu lagi, sebaiknya kamu menghindar." ujar Ryan.
"Dia temanmu?" tanya Aira kemudian.
Ryan terdiam. Seperti berat untuk mengatakan sesuatu.
"Tunggu!" Aira teringat sesuatu. "Dia yang waktu itu main sepak bola sama kamu bukan sih?"
Ryan hanya menjawab dengan anggukan malas.
"Maaf sudah membawamu dalam masalah." ucap Ryan penuh penyesalan. "Dia sengaja melakukan itu karena dia tahu kamu dekat denganku." katanya kemudian.
"Maaf ya, kamu pasti ketakutan tadi." Ryan menatap mata Aira.
"Tadinya iya, beruntung ada kak Mulan." gumam Aira. "Jadi sekarang aku baik-baik saja." Aira mencoba memberikan senyuman. Dia tidak ingin membuat Ryan khawatir.
"Aku akan mengatasinya. Tidak perlu takut. Oke...?" lagi-lagi Ryan menepuk-nepuk kepala Aira penuh sayang.
"Tidak akan aku biarkan dia mendekatimu lagi." janji Ryan untuk Aira. Meski Aira tidak mampu mendengarkan ungkapan batinnya.
"Apa aku harus bertanya ada apa sebenarnya di antara mereka? Tapi..., bukannya itu terlalu lancang?" Aira pun sibuk membatin.
......................
Tidak seperti biasanya, Ryan memilih langsung pulang setelah mengantar Aira pulang.
"Ryan...!" Aira memegang tangan kiri Ryan.
Ryan yang hendak memutar kunci motor, terpaksa menghentikan aktivitasnya. Dia menatap dalam mata perempuan di hadapannya.
"Jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu!" ujar Aira dengan penuh kesungguhan.
Ryan tersenyum, tangan kanannya mengusap tangan Aira yang masih memegang tangan kirinya.
"Mulai mengkhawatirkan aku?" bisik Ryan penuh percaya diri. Jangan lupakan nada dan ekspresi pecicilannya.
"Aku serius, Ryan...!!!" Aira mendengus kesal karena Ryan menanggapi dengan bercanda.
"Aku bisa jaga diri. Masuklah sebelum om genit itu keluar. Aku ingin sekali mencolok matanya." kata Ryan.
"Tapi kamu janji dulu, tidak akan menemui si Gio itu!" titahnya.
"Aku sudah bilang, aku akan mengurus anak itu. Aku tidak mau dia menemui dan menyakitimu lagi." ujarnya.
"Apa dia sangat jahat...?" gumam Aira.
"Jangan pikirkan. Ayo masuk sana!"
Aira pun patuh. Setelah Ryan memastikan Aira mengunci pagarnya, dia pergi membawa motornya.
"Aku harus menghubungi Adit."
Selepas membersihkan diri, Aira mengambil handphone dan mencoba menelepon si Aditya. Sayangnya Aditya tak kunjung menerima panggilannya.
"Ya ampun..., jam segini kan dia masih kerja." Aira menepuk jidatnya sendiri.
"Aku jadi khawatir dengan Ryan..."
Kali ini Aira mencoba menelepon Ryan, tapi tidak diangkat. Menurut Aira harusnya dia sudah sampai rumah. Mengingat hanya butuh waktu tempuh 15 menit dari kontrakannya kontrakannya ke rumah Ryan.
......................
"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara mereka. Tapi Ryan terlihat sangat serius menanggapi si Gio. Apa Gio sangat berbahaya?... Bagaimana kalau Ryan benar-benar menemui Gio?... Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?...
__ADS_1
Aahh..., Aira..., kamu overthinking sekali. Apakah ini efek dari keseringan baca novel???...."