Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
9


__ADS_3

Malam itu Aira mulai mengemasi barang-barangnya. Ayah sudah menemukan rumah kontrakan baru buat mereka bertiga.


"Pastikan tidak ada yang tertinggal, Aira." ibu kembali memperingatkan Aira.


"Iya, ibu." balas Aira.


Saat Aira menarik laci, dia melihat cincin dari rumput kering pemberian Ryan. Berlahan dia mengulurkan tangannya untuk meraih benda itu.


"Kamu telah mengubah segalanya... Aku menjadi terlihat sangat baik di sisi mereka. Tapi juga dinilai sangat buruk di sisi yang lain."


Tak terasa mata Aira yang memanas kini terasa basah karena air mata. Dengan gerakan cepat, Aira menghapus air matanya. Dia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Ryan.


Aira :


Haiii...


Ryan :


Hai, cantik...!! Tumben kirim pesan duluan. Kangen sama aku?


Aira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ryan memang selalu seperti itu. Yang belum mengenalnya pasti akan mudah sekali terbuai dengan segala tutur katanya. Bahkan Aira pun sempat merasakan hal itu juga.


Aira :


Aku cuma mau bilang, kalau aku besok aku akan pindah.


Ryan :


Serius??!! Sudah dapat rumah baru? Dimana???!!


Aira :


Alhamdulillah sudah. Tapi aku belum tau rumahnya dimana.


Ryan :


Apa aku benar-benar tidak akan bisa bertemu denganmu lagi?


Aira :


Memang kenapa? Nggak usah sok sedih. Lebay...!!!


Ryan :


Aira...!!! Kamu selalu tidak percaya denganku!!


Aira :


Kamu mau aku mengembalikan cincin pemberianmu?... Agar kamu bisa memberikannya untuk cewek lain setelah aku?


Aira tersenyum sambil mengetik kalimat balasan itu.


Ryan :


AIRAAA..!!!


Aira :


Apa?... Heheheheee...


Ryan :


Aku mau kita bertemu sebelum kamu pindah.


Setelah itu Aira tidak membalas lagi.


......................


Keesokan harinya, Aditya, Ryan, Putri, Ninik, Sari, dan Hendri datang menemui Aira. Mereka membantu Aira pindahan.


Sedikit terkejut saat Aira melihat Ninik dan Sari. Pasal sejak beberapa minggu kabar tak sedap itu beredar, Sari pelan-pelan menjauhinya. Begitu juga dengan Ninik, terakhir mereka ngobrol ketika mereka bertemu di jalan sebelum Aira ke rumah kakek. Sedangkan Hendri, dia memang ada pekerjaan di pulau seberang. Jadi Aira hanya berkomunikasi by phone dengan Hendri.


"Sini pakde, saya bantu." Aditya mengambil alih kardus yang dibawa ayah Aira.


"Wah, terimakasih..." ujar ayah.


"Sudah masuk semua pakde?" tanya Ryan yang juga ikut mengangkat barang.

__ADS_1


"Sudah, alhamdulillah..." balas ayah.


"Ini, hanya ada air putih. Karena semua sudah masuk mobil." ujar ibu.


"Tidak usah repot-repot bude." balas Hendri.


Sementara itu tim cewek masih berada di kamar Aira.


"Aira, sungguh aku tidak pernah mengatakan apapun pada ibunya Adit. Kamu percaya kan?" Putri sangat takut kalau Aira berprasangka buruk padanya dan membencinya.


"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu." balas Aira.


"Aku khawatir soalnya..." adu Putri.


Aira tersenyum, dia meraih semua tangan teman-temannya.


"Terimakasih kalian masih percaya padaku." ujar Aira.


"Maafkan kita, Aira...!!!" Ninik memeluk Aira, diikuti Sari dan Putri.


"Ekhem...!!" deheman itu membuyarkan suasana haru di dalam kamar.


Ibu Aira berdiri di depan pintu kamar yang sudah tidak tertutup tirai kain lagi.


"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya ibu.


Tak lama sang ayah datang.


"Kita pergi duluan saja, biarkan Aira di sini dulu." kata ayah.


"Aira, ayah sudah beritahu Adit alamat baru kita. Nanti Adit dan yang lain akan mengantar kamu." ujar ayah lagi.


"Benar pakde? Kita boleh kesana?" tanya Sari.


"Iya." ayah Aira tersenyum.


......................


Suara aliran sungai terdengar sangat sopan di telinga. Angin semilir yang berhembus siang itu menambah sejuknya suasana di tepi sungai. Disinilah sekarang Aira dan teman-temannya berada.


"Bukannya mereka sedang studytour?" balas Aira.


"Oh, iya." Ryan merasa malu, karena basa-basinya tidak pas. Sehingga dia refleks menggaruk lehernya.


"Ra, kalau kamu tidak bisa main ke sini. Aku yang akan datang ke sana. Rumah baru kamu ternyata dekat dengan rumah majikanku." kata Ninik yang bekerja sebagai ART paruh waktu itu.


"Em." Aira mengangguk.


"Mungkin ada yang mau ngobrol berdua, bagaimana kalau kita sedikit menjauh?!" sahut Aditya.


"Ah, benar." balas Putri.


Aira sudah bisa menebak, yang dimaksud dengan berdua adalah dirinya dan Ryan. Aira mengambil batu kecil, lalu melemparnya ke tengah sungai.


"Kalau lagi lihat sungai begini, aku jadi ingat cerita tentang kamu yang hampir jatuh di sungai waktu itu." ujar Ryan yang fokus menatap ke depan.


Aira menoleh ke arah Ryan.


"Kamu tau?" tanya Aira.


"Ya, aku mendengar mereka bicara sama Adit. Melihat wajah paniknya Adit saat itu, aku sempat berpikir kalau kalian memiliki hubungan spesial." Ryan tersenyum.


"Dan kamu salah." sahut Aira sambil sedikit terkekeh.


"Em." Ryan mengangguk. "Aku tau waktu dia mengajakku bergabung untuk memberi kejutan di hari ulang tahun kamu."


Aira hanya diam.


"Aira..."


"Heeem...??" Aira menoleh lagi. Kali ini pandangan mereka beradu.


Ryan meraih tangan Aira.


Gugup????


Iyalah, jelas Aira sangat gugup. Tapi dia berusaha terlihat santai di hadapan Ryan.

__ADS_1


"Bisa tidak kita terus menjalin hubungan baik? Jujur..., aku terkadang merasa kita lebih dari sekedar teman. Ketika kamu selalu menerima perlakukanku. Tapi terkadang kamu juga membuatku down, dengan sikap cuek kamu itu. Yang selalu menganggap ucapanku hanya rayuan dan candaan." ujar Ryan.


"Pada intinya, apapun status hubungan kita, aku tidak peduli lagi Aira. Kamu adalah sosok yang selalu cantik, cute, dan mewarnai hariku. Kalau dibilang cinta, aku ragu. Karena aku sendiri tidak bisa mendefinisikannya..."


"Sayang..." potong Aira. Ryan menatap tajam Aira.


"Aku menyayangi kalian. Kalian yang sudah bersedia menerima si asing ini sebagai teman baik kalian." begitu tutur Aira sambil menunjukkan seulas senyuman.


"Apa aku termasuk di dalamnya?" tanya Ryan yang masih menggenggam tangan Aira, seolah tak ingin melepaskannya.


"Menurutmu?" goda Aira.


"Yaaa, Aira...!!!" dengus Ryan. "Jangan pancing aku untuk mencubitmu...!" ujarnya.


"Berani kamu cubit aku, hah?!!" sahut Aira.


"Tidak." singkat, padat, dan sangat jelas, balasan yang disampaikan Ryan.


"Apa masih lama..??!!" seru Hendri.


Aira dan Ryan menoleh ke belakang bersamaan.


"Aku rasa kita harus pergi." kata Ryan.


Ryan berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya agar bisa membantu Aira berdiri. Kemudian mereka melangkah melewati bebatuan menuju ke tempa Aditya dan yang lain.


"Hati-hati...!" kata Ryan yang setia menggandeng tangan Aira.


"Jangan pernah mengabaikan telepon atau pesanku ya!" Ryan memperingatkan Aira.


"Nggak janji ya..." balas Aira.


"Atau akan akan datang ke rumahmu setiap hari." ancamnya.


"Boleh, datang saja setiap hari." Aira justru menantang Ryan.


"Maksudmu?!" Ryan terkejut mendengarnya.


"Aku keterima kerja di toko dekat kafe tempat kamu kerja. Senin aku mulai masuk." jawabnya.


"Sungguh?!" mata Ryan terbelalak. Aira mengangguk.


"Aku akan selalu menjemputmu." janjinya.


"Jangan lupa minta izin ayahku!" kata Aira.


"Em." Ryan mengangguk.


Aditya dan yang lain memperhatikan dua sejoli yang berjalan ke arah mereka.


"Mereka cocok sekali." ujar Putri.


"Benar. Tapi sayang cowoknya playboy." celetuk Sari.


"Siapa tau dia sudah berubah karena menemukan Aira." sahut Aditya.


"Benar, sayang." Putri mendukung kekasihnya.


Setelah sampai Aira bergabung dengan Ninik, Putri, dan Sari berjalan di depan. Sedangkan sisanya berada di belakang mereka.


"Ada kabar baik?" tanya Aditya pada Ryan.


"Anggap saja iya." Ryan tersenyum.


"Kalian jadian?" Hendri menyahuti.


"Tidak." jawab Ryan. "Setidaknya aku punya kesempatan untuk semakin dekat dengannya." Ryan menatap Aira yang berjalan jauh di depannya.


"Ah, iya. Dia bilang kalau keterima di toko dekat kafe kamu." sahut Aditya.


"Dan dia mengizinkan aku menjemputnya setiap hari. Kalian tau itu adalah sesuatu yang luar biasa untukku." ungkap Ryan.


"Selamat berjuang kawan...!!!" Hendri menepuk pundak Ryan.


......................


"Dan pada akhirnya aku benar-benar pergi. Meninggalkan nama buruk yang diciptakan oleh orang lain. Tapi aku bersyukur, karena orang tuaku sudah mau mengerti dan mempercayaiku lagi. Semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah misteri. Yang awalnya terasa sulit, tiba-tiba terlewati begitu mudah. K**emudian mendadak berubah rumit, bahkan meninggalkan luka. Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi esok hari?... Dan kita juga tidak perlu terlalu mengatur apa-apa. Cukup dijalani saja, karena semua yang terjadi tidak lepas dari campur tangan Sang Maha Pencipta."

__ADS_1


__ADS_2